Seorang pelajar asal Inggris tak bisa kembali ke negaranya selama enam pekan setelah berkunjung ke rumah neneknya di Italia. Remaja berusia 15 tahun itu tertahan di Roma setelah ditolak naik pesawat akibat aturan baru Pemerintah Inggris yang mewajibkan warga berkewarganegaraan ganda menggunakan paspor Inggris saat masuk ke negaranya.
Kasus yang terjadi pada bulan April itu menjadi salah satu dari sejumlah insiden serupa sejak aturan Home Office mulai berlaku pada Februari.
Mengutip , Sabtu (18/7/2026) berdasarkan kebijakan tersebut, warga negara Inggris dengan kewarganegaraan ganda harus menunjukkan paspor Inggris, baik yang masih berlaku maupun sudah kedaluwarsa atau certificate of entitlement.
Tanpa dokumen tersebut, maskapai, kereta, maupun feri dapat menolak penumpang menuju Inggris.
Ayah pelajar itu, Rowan Somerville, mengecam Home Office dan Kementerian Luar Negeri Inggris (FCDO) karena dinilai gagal membantu putrinya pulang. Menurutnya, keluarganya justru dibuat bingung untuk berkoordinasi dari satu instansi ke instansi lain saat mencari solusi.
"Kedutaan Besar, Home Office, dan Kementerian Luar Negeri saling melempar tanggung jawab kepada kami," kata Somerville.
Ia menilai kebijakan tersebut telah merugikan banyak orang. "Mereka sedang mempermainkan hidup orang lain, termasuk pendidikan seorang anak. Ini sangat memuakkan," kata dia.
Somerville mengatakan putrinya juga tidak bisa memperoleh paspor darurat karena sebelumnya belum pernah memiliki paspor Inggris. Akibatnya, remaja tersebut harus absen sekolah selama enam minggu.
Pihak sekolah sampai mengirim surat kepada pemerintah karena khawatir dengan lamanya siswi itu tidak mengikuti kegiatan belajar.
Hingga setelah berhasil pulang, perjuangan keluarga Somerville belum selesai. Mereka masih harus menunggu sekitar tiga bulan untuk mendapatkan paspor Inggris, padahal situs resmi Pemerintah Inggris menyebut prosesnya hanya memakan waktu sekitar tiga minggu.
Somerville menyebut proses tersebut sebagai mimpi buruk birokrasi. Ia bahkan mengaku pernah dihubungi petugas yang mengatakan mereka tidak lagi bisa berkomunikasi dengannya karena putrinya telah berusia 16 tahun.
"Saya sudah berbicara dengan 14 orang berbeda di kantor mereka. Alih-alih menyelesaikan masalah, mereka justru menelepon untuk memberi tahu bahwa mereka tidak bisa berbicara dengan saya. Sulit dipercaya," ujarnya.
Berhasilnya sang anak tersebut berkat bantuan dari parlemen Inggris. Anggota parlemen setempat, Joe Powell, juga ikut mendesak Home Office hingga akhirnya FCDO menerbitkan dokumen perjalanan darurat agar remaja tersebut bisa kembali ke Inggris.
"Meski memiliki salah satu orang tua berkewarganegaraan Inggris, memegang dua paspor yang masih berlaku, dan sudah bersekolah di Inggris sejak taman kanak-kanak, perubahan aturan Home Office membuatnya terjebak di Roma dan kehilangan enam minggu masa sekolah," jelas Powell.
Menurut Powell, kasus tersebut bukan yang pertama dan ini menjadi sebuah kekhawatiran yang serius terkait sosialisasi yang diberikan oleh Pemerintah Inggris.
"Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang bagaimana pemerintah menyosialisasikan perubahan kebijakan dan membantu mereka yang terdampak," kata dia.
Menanggapi kasus itu, Home Office menyatakan remaja tersebut akhirnya memperoleh dokumen perjalanan darurat pada Mei dan paspornya diterbitkan delapan hari setelah seluruh persyaratan dipenuhi.
Pemerintah Inggris juga menegaskan bahwa sejak Februari seluruh warga negara Inggris berkewarganegaraan ganda wajib menunjukkan paspor Inggris atau certificate of entitlement saat bepergian ke Inggris. Tanpa dokumen tersebut, maskapai tidak dapat memverifikasi status kewarganegaraan penumpang sehingga berpotensi menolak mereka naik ke pesawat.





