TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyayangkan insiden meledaknya bom rakitan berdaya ledak rendah (low explosive) di MAN 3 Kota Padang beberapa hari lalu.
Hal itu disampaikannya seusai menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Sumatera Barat di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (18/7/2026).
Pria yang akrab disapa KDM itu berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi di Kota Padang.
"Saya harap ke depan tidak terjadi lagi kejadian seperti ini," kata Dedi Mulyadi kepada TribunPadang.com.
Baca juga: KDM 2 Kali Kunjungi Padang Pascabanjir, Apa yang Bikin Terkesan?
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
"Saya harap ke depan tidak terjadi lagi. Kemudian kita menjaga lingkungan dan keamanan dengan baik," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi juga mengaku terkesan dengan kondisi Kota Padang.
Menurutnya, Kota Padang merupakan kota yang bersih.
"Padang merupakan kota yang bersih," katanya.
Dedi menyebut kunjungan kali ini merupakan yang kedua ke Kota Padang setelah bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025.
"Ini merupakan kedatangan kedua saya pascabencana dan Kota Padang, kotanya bersih," ujarnya.
Baca juga: Polisi Pastikan Tak Ada Jaringan Teror di Balik Bom Rakitan Siswa MAN 3 Padang, Jelaskan Motifnya
Ia mengaku hanya menghadiri kegiatan KAHMI dalam waktu singkat karena telah memiliki agenda lain.
"Saya sudah ada janji nanti, karena itu harus kembali," jelasnya.
Diketahui, Dedi Mulyadi menghadiri Muswil VII KAHMI Provinsi Sumatera Barat yang digelar di Auditorium Universitas Negeri Padang.
Menariknya, ia datang ke lokasi menggunakan taksi Blue Bird usai mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).
KDM tampak duduk di kursi depan, tepat di samping sopir taksi.
Pantauan TribunPadang.com, Dedi Mulyadi tiba di Auditorium UNP sekitar pukul 09.42 WIB.
Ia mengenakan pakaian serba putih yang dipadukan dengan totopong atau iket khas Sunda.
Setibanya di lokasi, KDM sempat berbincang dengan sejumlah kader KAHMI yang menyambut kedatangannya.
Kepada TribunPadang.com, ia mengatakan kehadirannya di Padang hanya untuk memenuhi undangan KAHMI.
"Kedatangan untuk mengikuti undangan dari teman-teman KAHMI," katanya.
Ia mengaku akan langsung kembali setelah menghadiri kegiatan tersebut.
"Habis ini pulang lagi jam 11.00 WIB," ujarnya.
KDM juga menegaskan tidak memiliki agenda lain selama berada di Kota Padang.
"Nggak ada kegiatan lain, hanya hadir untuk ini," tutupnya.
Sebelumnya, ratusan kader KAHMI Provinsi Sumatera Barat menghadiri Muswil VII yang digelar di Auditorium UNP.
Pantauan TribunPadang.com, kegiatan tersebut dimulai sekitar pukul 09.40 WIB.
Selain Dedi Mulyadi, acara juga dihadiri anggota DPR RI Ahmad Doli Kurnia, Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy, serta Rektor Universitas Negeri Padang.
Para peserta tampak mengenakan pakaian batik selama mengikuti jalannya kegiatan.
Sementara itu, Polda Sumatera Barat sebelumnya telah memeriksa 12 saksi untuk mengungkap secara utuh kronologi dan motif di balik kasus ledakan bom rakitan berdaya ledak rendah di MAN 3 Kota Padang.
Wakapolda Sumbar, Brigjen Pol Solihin, mengatakan hingga Jumat (17/7/2026), penyidik masih terus mendalami kasus tersebut.
"Sudah banyak saksi yang diperiksa. Sampai saat ini ada 12 orang," kata Solihin kepada TribunPadang.com.
Selain memeriksa para saksi, penyidik juga masih mendalami keterangan R, siswa yang diduga merakit bom rakitan tersebut.
"Untuk saat ini kami terus mendalami terkait kejadian ini," ujarnya.
Solihin menjelaskan, R masih berstatus sebagai anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Proses penyidikan pun dilakukan dengan mengedepankan perlindungan terhadap anak.
"Penyidikan masih terus didalami. Dia merupakan anak yang berhadapan dengan hukum. Sementara anak ini juga merupakan korban," tegasnya.
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan penyidik telah memeriksa tujuh saksi pada tahap awal penyelidikan.
Para saksi terdiri atas sejumlah guru, petugas keamanan (satpam), R, serta pihak-pihak yang berada di lokasi saat kejadian.
"Sudah ada tujuh orang saksi yang diperiksa, di antaranya beberapa guru, terlapor sendiri, kemudian satpam yang berada di lokasi saat kejadian," kata Susmelawati.
Menurutnya, pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap kronologi, motif, hingga proses pembuatan bom rakitan tersebut.
"Pemeriksaan masih terkait penyebab pelaku melakukan hal tersebut, kemudian bagaimana cara dia membuat bom rakitan. Pertanyaan-pertanyaan masih mengarah ke sana," ujarnya.
Setelah diamankan pada Selasa (14/7/2026), R langsung dibawa ke Polresta Padang sekitar pukul 18.00 WIB.
Pemeriksaan terhadap R dilakukan secara maraton hingga pukul 01.00 WIB dan masih berlanjut.
Selain proses penyidikan, Polda Sumbar juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Padang dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk memberikan pendampingan terhadap R.
Menurut Susmelawati, fokus kepolisian tidak hanya pada proses hukum, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis anak tersebut.
"Kita tahu kejadian ini dipicu adanya rasa sakit hati dan beban psikologis yang mendalam. Fokus kita saat ini adalah rehabilitasi anak agar masa depannya tetap bisa diselamatkan," katanya.
Ia menambahkan, hingga kini R masih berstatus sebagai anak yang berhadapan dengan hukum dan belum ditetapkan sebagai tersangka.
"Untuk proses hukum selanjutnya masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut yang dilakukan oleh Polresta Padang," ujarnya.