Isi Liburan di Museum Negeri Sumatera Utara, Ada Arca Makara Hingga Naskah Kuno Batak
Array A Argus July 18, 2026 01:56 PM

TRIBUN-MEDAN.COM,- Hallo Tribunners, gimana akhir pekan kalian kali ini?

Sudah ada rencana belum untuk mengisi waktu akhir pekan?

Jika kalian belum punya rencana kemana-mana, tak salah rasanya jika Anda pergi ke Museum Negeri Sumatera Utara.

Baca juga: Deliserdang Resmi Punya Wisata Edukasi Sentral Taman dan Bunga

Museum Negeri Sumatera Utara ini ada di Jalan H.M. Joni No. 51, Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan.

Di museum ini, kamu bisa belajar banyak tentang sejarah Sumatera Utara.

Di dalamnya ada berbagai peninggalan sejarah yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan kamu.

Bila kamu ingin mengajak anak jalan-jalan tapi hemat biaya, Museum Negeri Sumatera Utara pilihannya.

Baca juga: Dragon Torto, Wisata Edukasi Anak yang Ramah di Kantong

Kamu bisa mengajari anak mu tentang sejarah dan budaya Sumut dari peninggalan-peninggalan masa lalu yang masih tersimpan rapi di dalam museum.

Lantas, apa saja sih yang menarik di dalam Museum Negeri Sumatera Utara ini?

Koleksi Museum Negeri Sumatera Utara.
Koleksi Museum Negeri Sumatera Utara. (Tribun Medan/Aqmarul Akhyar)

Peninggalan Sejarah di Museum Negeri Sumatera Utara 

Tribun-medan.com pernah mengunjungi Museum Negeri Sumatera Utara beberapa waktu lalu.

Di dalamnya terdapat sejumlah barang penting, yang kemudian menjadi ikon.

Misalnya saja Arca Makara. Ini merupakan peninggalan asli dari Sumut yang masih terjaga dan terawat hingga saat ini.

Baca juga: 6 Tempat Wisata Edukasi Murah Meriah di Kota Medan

Namun, untuk mengetahui seperti apa informasi tentang museum ini, simak penjelasannya.

Arca Makara yang Menjadi Asal-usul Nama Gedung Arca

Begitu memasuki kawasan museum, perhatian pengunjung akan langsung tertuju pada sepasang Arca Makara yang ditempatkan di bagian depan bangunan.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa keberadaan arca inilah yang membuat masyarakat Medan selama puluhan tahun lebih akrab menyebut museum ini sebagai Gedung Arca.

Baca juga: Penangkaran Buaya Asam Kumbang, Sajikan Wisata Edukasi

Arca Makara merupakan salah satu koleksi paling penting di Museum Negeri Sumatera Utara.

Benda ini berasal dari Kompleks Percandian Padang Lawas, kawasan peninggalan Hindu-Buddha yang tersebar di Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara.

Dalam tradisi seni bangunan Hindu-Buddha, makara digambarkan sebagai makhluk mitologi dengan perpaduan beberapa bentuk hewan.

Arca tersebut biasanya ditempatkan di sisi kanan dan kiri tangga candi sebagai simbol penjaga kawasan suci sekaligus lambang perlindungan.

Banyak pengunjung hanya berfoto di depan arca tanpa mengetahui bahwa koleksi tersebut menjadi penanda penting perkembangan agama Hindu dan Buddha di Sumatera Utara pada masa lampau.

Nilai sejarahnya tidak hanya terletak pada bentuk seni pahatnya, tetapi juga menjadi bukti bahwa wilayah Sumatera Utara telah menjadi bagian dari jaringan kebudayaan Asia sejak berabad-abad silam.

Koleksi Museum Negeri Sumatera Utara.
Koleksi Museum Negeri Sumatera Utara. (Tribun Medan/Aqmarul Akhyar)

Menelusuri Kehidupan Masyarakat Sumatera Utara Sebelum Masuknya Agama Besar

Salah satu ruang pamer yang paling menarik adalah galeri koleksi Sumatera Utara kuno.

Ruangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal menjalani kehidupan sebelum berkembangnya agama-agama besar melalui berbagai benda ritual, perlengkapan adat, hingga peninggalan spiritual.

Di ruangan ini pengunjung dapat menemukan Pustaha Laklak, yaitu kitab kuno Batak yang ditulis menggunakan aksara Batak pada media kulit kayu.

Naskah tersebut berisi pengetahuan mengenai pengobatan tradisional, ramalan, tata upacara adat, hingga doa-doa yang digunakan oleh para datu atau pemimpin spiritual masyarakat Batak.

Selain itu terdapat Tongkat Tunggal Panaluan, tongkat sakral yang menjadi simbol kewibawaan datu Batak.

Tongkat ini dipercaya digunakan dalam berbagai upacara adat dan ritual masyarakat Batak pada masa lalu.

Museum juga menyimpan koleksi Pangulubalang, patung batu penjaga kampung masyarakat Batak Toba, Mejan dari masyarakat Pakpak, Adu Zatua dari Nias, peti mati kayu tradisional, hingga berbagai perlengkapan ritual dari masyarakat Karo.

Yang menarik, setiap benda tidak hanya dipamerkan sebagai artefak, tetapi juga menjadi bukti bagaimana masyarakat Sumatera Utara dahulu membangun sistem kepercayaan, hukum adat, hingga pengetahuan pengobatan tradisional sebelum berkembangnya agama-agama modern.

Bukti Awal Masuknya Islam di Sumatera Utara

Tidak sedikit pengunjung yang mengira perkembangan Islam di Sumatera Utara hanya berkaitan dengan Kesultanan Deli atau Kesultanan Langkat.

Padahal museum menghadirkan gambaran yang jauh lebih panjang mengenai sejarah masuknya Islam ke wilayah ini.

Di ruang koleksi Islam, pengunjung dapat melihat berbagai nisan kuno yang ditemukan di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Barus telah lama dikenal sebagai salah satu pelabuhan internasional penghasil kapur barus yang ramai dikunjungi pedagang dari Timur Tengah, India, Persia, hingga Tiongkok.

Selain nisan kuno, terdapat pula manuskrip Islam tulisan tangan, replika Masjid Azizi Langkat, serta berbagai artefak yang memperlihatkan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di pesisir timur Sumatera.

Melalui koleksi tersebut, museum memperlihatkan bahwa Sumatera Utara telah menjadi bagian penting jalur perdagangan internasional sejak berabad-abad lalu, sehingga menjadi salah satu pintu masuk penyebaran agama Islam di Nusantara.

Kekayaan Alat Musik Tradisional Delapan Etnis Sumatera Utara

Salah satu ruangan favorit pengunjung adalah galeri alat musik tradisional. Koleksi yang dipamerkan berasal dari berbagai etnis di Sumatera Utara, mulai dari Batak Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing, Angkola, Melayu, hingga Nias.

Di antaranya terdapat Gordang Sambilan dari Mandailing, Ogung Batak Toba, Hasapi, Keteng-keteng khas Karo, Arbab Melayu, Sarune, Balobat, Sordam, Lagia, hingga berbagai jenis gong tradisional.

Menariknya, setiap alat musik memiliki fungsi yang berbeda.

Ada yang digunakan dalam pesta adat, penyambutan tamu kehormatan, upacara panen, ritual keagamaan, hingga prosesi kematian.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa musik tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sumatera Utara.

Topeng Tradisional yang Sarat Makna Filosofis

Tidak banyak museum di Indonesia yang memiliki koleksi topeng tradisional dari berbagai etnis seperti yang dimiliki Museum Negeri Sumatera Utara.

Di ruang ini pengunjung dapat melihat topeng yang digunakan dalam Tari Gundala-gundala masyarakat Karo, Huda-huda Batak Toba, Toping-toping Pakpak, Mangkuda-kuda Simalungun, hingga pertunjukan Makyong masyarakat Melayu.

Setiap topeng memiliki filosofi yang berbeda.

Ada yang digunakan sebagai media memohon hujan saat musim kemarau, ada yang dipercaya mampu mengusir roh jahat, sementara sebagian lainnya menjadi bagian dari ritual penghormatan kepada leluhur maupun upacara adat bangsawan.

Keberadaan koleksi ini memperlihatkan bahwa seni pertunjukan tradisional di Sumatera Utara tidak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga menyimpan makna spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Fakta Menarik yang Masih Jarang Diketahui Pengunjung

Selain ruang-ruang pamer utama, masih ada sejumlah fakta menarik yang belum banyak diketahui masyarakat.

Museum Negeri Sumatera Utara menyimpan koleksi dari hampir seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini sehingga menjadi representasi sejarah delapan etnis utama Sumatera Utara dalam satu kawasan.

Tidak hanya memamerkan benda-benda kuno, museum juga menyimpan manuskrip asli, perlengkapan rumah adat, senjata tradisional, tekstil, keramik asing hasil perdagangan internasional, hingga koleksi numismatik berupa mata uang kuno.

Bagi peneliti sejarah dan budaya, museum ini menjadi salah satu pusat referensi penting untuk mempelajari perkembangan peradaban masyarakat Sumatera Utara dari masa ke masa.

Setiap koleksi memiliki informasi mengenai asal-usul, fungsi, hingga nilai budayanya sehingga pengunjung tidak sekadar melihat benda bersejarah, tetapi juga memahami kisah di baliknya.(tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.