BPOM RI Kawal Kemandirian Vaksin Buatan Dalam Negeri Lewat Bio-TCV
GH News July 18, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Indonesia resmi meluncurkan Bio-TCV, sebuah vaksin tifoid konjugat inovatif hasil buah pemikiran dan kerja keras anak bangsa. Kehadiran produk medis ini menjadi penanda krusial bahwa Indonesia mulai lepas dari ketergantungan produk biologis impor dan bergerak menuju kedaulatan kesehatan.

Momentum bersejarah ini disaksikan langsung oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar di sela-sela perhelatan Medical Expo FKUI di Jakarta. Bagi Taruna Ikrar, Bio-TCV bukan sekadar capaian sains biasa, melainkan bukti nyata keberhasilan implementasi tata kelola regulasi yang adaptif dan kolaboratif.

Penerapan Konsep 'ABG' BPOM RI

Lahirnya vaksin Bio-TCV tidak lepas dari konsistensi BPOM dalam menggaungkan formula sinergi ABG (Academia, Business, Government). Konsep strategis ini dirancang untuk menyatukan tiga kekuatan utama negara yang selama ini kerap berjalan terpisah dengan berfokus pada:

  • Akademia (Academia): Menjadi hulu inovasi melalui riset sains dasar dan pengujian ilmiah yang valid.
  • Dunia Usaha (Business): Menjadi jembatan komersialisasi untuk memproduksi massal hasil riset agar dapat diakses masyarakat luas.
  • Pemerintah (Government / BPOM): Bertindak sebagai regulator sekaligus mentor yang mengawal aspek keamanan, mutu, dan khasiat produk secara ilmiah.

Menurut Taruna, stagnasi inovasi kesehatan sering terjadi karena egosektoral. Akademisi yang hanya fokus pada jurnal ilmiah tanpa hilirisasi industri tidak akan menghasilkan solusi bagi rakyat. Sebaliknya, industri tanpa basis riset yang kuat akan kalah bersaing di kancah global.

"Ketika ketiga pilar ini bergerak dalam satu visi dan frekuensi yang sama, Indonesia terbukti mampu melahirkan produk bioteknologi kelas dunia yang menjawab kebutuhan riil masyarakat," ujar Taruna.

Menyoal Vaksin Bio-TCV

Bio-TCV merupakan mahakarya hasil kolaborasi segitiga emas antara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan PT Bio Farma. Proses panjang ini dimulai dari transfer teknologi bersama International Vaccine Institute (IVI) sejak satu dekade lalu, yang kemudian dimatangkan melalui uji klinis berlapis (Fase I hingga III) di bawah pengawasan ketat tim medis nasional.

Dalam proses tersebut, BPOM menerapkan skema accelerated review. Jalur khusus ini memangkas birokrasi perizinan dan mempercepat proses evaluasi secara signifikan, tanpa sedikit pun menurunkan standar keamanan ataupun mengorbankan keselamatan masyarakat.

Vaksin Bio-TCV diformulasikan khusus untuk memicu kekebalan aktif terhadap demam tifoid, sebuah penyakit infeksi pencernaan serius yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Keunggulan vaksin konjugat ini terletak pada rentang usianya yang luas, dengan proteksi sudah bisa diberikan sejak bayi berumur enam bulan hingga orang dewasa. Hal ini diharapkan mampu mempertebal benteng imunisasi nasional, khususnya bagi kelompok yang paling rentan.

Vaksin ini juga tengah dipersiapkan untuk menembus pasar internasional melalui sertifikasi WHO Prequalification. Keberhasilan menembus standardisasi global ini nantinya akan mengukuhkan posisi Indonesia sebagai aktor penting dalam rantai pasok vaksin dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.