Pengurus Masjid Al Alam Kendari Benahi Sistem Keamanan Usai Video Sepasang Kekasih Bermesraan Viral
Desi Triana Aswan July 18, 2026 08:48 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Pengurus Masjid Al Alam Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), akan membenahi sistem keamanan di kawasan masjid setelah beredarnya video yang memperlihatkan sepasang kekasih bermesraan atau melakukan perbuatan tidak senonoh di area parkir, Kamis (16/7/2026) pagi.

Peristiwa tersebut terjadi di kawasan lapak kuliner yang berada di kompleks Masjid Al Alam, Kelurahan Lalolara, Kecamatan Kambu.

Video berdurasi 2 menit 43 detik itu direkam seseorang dari dalam area masjid, kemudian beredar luas di media sosial hingga menuai perhatian publik.

Menanggapi kejadian tersebut, Pengurus Masjid Al Alam, Fauzan, mengatakan pihaknya telah menggelar rapat bersama unsur pimpinan Takmir untuk mengevaluasi sistem pengamanan di kawasan masjid.

Pengurus juga akan memasang spanduk berisi imbauan di sejumlah titik strategis sebagai pengingat bagi seluruh pengunjung agar menjaga etika selama berada di lingkungan masjid.

“Hasil rapat bersama unsur pimpinan Takmir, kami sepakat meningkatkan pengamanan di kawasan Masjid Al Alam agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Fauzan kepada Tribunnewssultra.com, Sabtu (18/7/2026).

Baca juga: Viral Sepasang Kekasih Bercumbu Pagi-pagi di Tenda Kuliner Masjid Al-Alam Kendari Sulawesi Tenggara

Tentang Masjid Al Alam

Masjid Al Alam Kendari merupakan satu-satunya masjid terapung di Sulawesi Tenggara yang menjadi salah satu ikon Kota Kendari. 

Bangunan ini berdiri sekitar 1,5 kilometer dari bibir pantai, tepatnya di Kelurahan Lalolara, Kecamatan Kambu.

Masjid bercat putih dan biru dengan empat menara tersebut mulai dibangun pada 17 Agustus 2010, ditandai dengan pemasangan tiang pancang pertama atas gagasan Gubernur Sultra periode 2008-2018, Nur Alam. 

Setelah melalui proses pembangunan selama delapan tahun, masjid ini diresmikan dan mulai difungsikan pada 2018.

Dengan konstruksi tiga lantai, Masjid Al Alam mampu menampung sekitar 10 ribu jemaah.

Selain menjadi tempat ibadah, kawasan ini juga dikembangkan sebagai destinasi wisata religi yang memadukan konsep wisata alam, wisata kuliner, dan wisata kebugaran.

Panorama hutan mangrove, pemandangan matahari terbit dan terbenam, serta deretan lapak kuliner menjadi daya tarik bagi masyarakat.

Saat azan berkumandang, aktivitas jual beli di kawasan tersebut dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu salat.

Masjid Al Alam juga menjadi tujuan wisata bagi berbagai kalangan, termasuk pengunjung nonmuslim yang ingin menikmati arsitektur dan panorama kawasan. 

Namun, setiap pengunjung diwajibkan berpakaian sopan dan menutup aurat saat memasuki area utama masjid.

Selain digunakan untuk pelaksanaan ibadah sehari-hari, masjid ini juga kerap dimanfaatkan masyarakat sebagai lokasi akad nikah dan berbagai kegiatan keagamaan. (*)

(Tribunnewssultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.