Kabupaten Cirebon Hasilkan 1.200 Ton Sampah per Hari, Pemkab Sisir 40 Titik Pembuangan Liar
Kemal Setia Permana July 18, 2026 09:11 PM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Kabupaten Cirebon memproduksi sekitar 1.200 ton sampah setiap hari.

Di tengah besarnya timbulan sampah tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon mulai menyisir sedikitnya 40 titik pembuangan sampah liar yang tersebar di sejumlah kecamatan sebagai langkah awal menyusun strategi penanganan yang lebih efektif.

Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman mengatakan, pemetaan menjadi tahapan penting agar pemerintah memiliki basis data yang akurat sebelum menentukan langkah penanganan.

"Kami minta seluruh camat memetakan titik sampah liar di wilayahnya masing-masing, kemudian melaporkannya kepada Dinas Lingkungan Hidup agar penanganannya tepat sasaran," ujar Agus saat diwawancarai, Sabtu (18/7/2026).

Menurutnya, data sementara menunjukkan terdapat sekitar 40 titik sampah liar di Kabupaten Cirebon. 

Baca juga: Igor Tolic Tatap Piala Presiden Sebagai Bagian Persiapan Tim Menuju Pentas Asia

Namun jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring proses pendataan di seluruh kecamatan yang belum rampung.

Agus menjelaskan hasil pemetaan akan digunakan untuk mengetahui persebaran sampah liar, volume timbulan sampah, hingga kebutuhan sarana pengelolaan di masing-masing wilayah.

Ia menegaskan dengan produksi sampah yang mencapai sekitar 1.200 ton per hari, pemerintah membutuhkan data yang valid agar peningkatan layanan persampahan dapat dilakukan secara terarah.

Selain memetakan titik pembuangan sampah liar, pemerintah daerah juga meminta para camat menginventarisasi keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), TPS3R, serta desa-desa yang telah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Hasil pendataan tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menyusun kebutuhan armada pengangkut, fasilitas pengolahan sampah, hingga dukungan anggaran penanganan persampahan.

"Kami juga mendorong pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk membantu penyediaan sarana pengelolaan sampah, terutama di wilayah yang memiliki titik pembuangan liar," ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon, Hendra Nirmala mengungkapkan, hasil identifikasi awal menunjukkan Kecamatan Ciwaringin menjadi wilayah dengan volume sampah liar tertinggi, yakni sekitar 24 meter kubik.

Sedangkan di Kecamatan Arjawinangun, ditemukan tiga titik sampah liar dengan volume sekitar 19 meter kubik atau setara 3,5 hingga 5,6 ton sampah.

Hendra mengatakan pemerintah daerah juga tengah mengevaluasi operasional TPS3R yang belum aktif serta meminta camat memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa agar pengelolaan sampah dapat dimulai dari tingkat desa.

"Kami ingin program Kampung Bersih berjalan lebih optimal melalui pengaktifan kembali TPS3R yang belum beroperasi dan penguatan pengelolaan sampah di tingkat desa," jelas Hendra.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon mengungkapkan masih terdapat sekitar 40 titik tempat pembuangan sampah (TPS) liar yang tergolong ekstrem.

Jumlah tersebut bahkan berpotensi bertambah karena pemerintah masih menunggu hasil pendataan terbaru dari seluruh kecamatan.

Sekretaris DLH Kabupaten Cirebon, Sugeng Wahyudi mengatakan, lokasi TPS liar umumnya berada di kawasan yang mudah diakses kendaraan, seperti jalur lintasan maupun area di sekitar pintu tol.

"Kalau data kita, kurang lebih itu di 40-an lokasi yang menurut kita ekstrem. Kalau yang hanya tumpukan-tumpukan kecil sementara tidak kita sebut TPS liar. Mungkin nanti bisa bertambah karena kami masih menunggu laporan dari para camat," ujar Sugeng.

Baca juga: Penampakan Sawah di Pangandaran yang Alami Kekeringan, Tanah Pecah dan Padi Mulai Mati

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi persoalan yang cukup dilematis.

Di satu sisi, tumpukan sampah harus segera dibersihkan karena mengganggu kebersihan dan estetika lingkungan.

Namun di sisi lain, pembersihan yang dilakukan justru kerap menimbulkan anggapan bahwa pemerintah akan selalu membersihkan sampah yang dibuang sembarangan.

"Kalau kita bereskan, nanti ada preseden 'toh nanti juga diberesin'. Tapi kalau tidak dibereskan, estetikanya juga jelek dan menjadi kumuh. Jadi memang dilematis bagi kami," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.