TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai, rencana proyek pembangunan mal di Gombel, Kota Semarang harus dilakukan dengan cermat disertai dengan rekayasa pembangunan.
Hal itu dilakukan agar meminimalisir dampak dari fenomena tanah bergerak di daerah tersebut.
Periset Bidang Paleoseismologi, Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sonny Aribowo mengatakan, pembangunan mal di Gombel berada dekat dengan sesar Kaligarang.
Baca juga: Fakta Geologi Proyek Pakuwon Mall Semarang Terbesar di Indonesia, Kawasan Rawan Tanah Bergerak
Baca juga: ESDM Jateng Panggil Pakuwon Mall Semarang : Minta Detailkan Tapak Lokasi Proyek
Akan tetapi, ia belum bisa memastikan sesar Kaligarang termasuk sesar aktif atau sebaliknya.
Ketidakpastian itu, lanjut dia, diduga menjadi dasar pemodal untuk tetap membangun di kawasan tersebut.
Meskipun belum ada kepastian soal status sesar aktif, ia memberikan catatan, tanah di daerah Gombel merupakan tanah tidak stabil atau terus bergerak.
Fenomena pergerakan tanah ini belum tentu berhubungan langsung dengan aktivitas sesar Kaligarang.
"Untuk itu, pembangunan infrastruktur tersebut perlu dilakukan rekayasa, agar dapat mengantisipasi fenomena tanah bergerak di daerah tersebut," kata Sonny kepada Tribun, Sabtu (18/7/2026.
Sonny mengakui, studi bidang gerakan tanah bukan bidang kepakarannya.
Namun, sepanjang pemahamannya, pergerakan tanah di Gombel diperkirakan karena gabungan beberapa faktor, antara lain litologi (batuan) yang merupakan batuan dari formasi Damar yang tidak padat.
Adapula lapisan lempung yang kehilangan kuat geser saat jenuh dan bisa menjadi bidang gelincir.
"Ada juga faktor topografi yang curam, curah hujan tinggi maupun drainase yang kurang baik," ungkapnya.
Sonny menegaskan kembali, dampak tanah gerak di Kota Semarang, belum tentu berhubungan langsung dengan adanya sesar.
Ketika disodorkan contoh kasus seperti patahan jalan dekat Kampus Untag dan tanjakan di Jalan Untung Suropati, hingga kerusakan rumah di Bukit Manyaran Permai (BMP), kondisi itu dimungkinkan tidak terlalu berbeda jauh dengan kondisi Gombel.
"Gerakan tanah belum tentu berhubungan langsung dengan adanya sesar. Akan tetapi, adanya gempa, bisa mengakibatkan tanah longsor. Saya belum bisa menjawab ini secara pasti," terangnya.
Kendati demikian, ia mengungkap, kota Semarang dilintasi oleh sesar Kaligarang sebagai sebuah sesar geologi yang belum dikategorikan sebagai sesar aktif tetapi potensial aktif.
Sesar ini jalurnya membentang dari utara ke selatan sepanjang sungai Kaligarang.
"Daerahnya berada antara Gunung Watugajah (Bergas Kabupaten Semarang) hingga Srondol Kulon Banyumanik Kota Semarang)," tuturnya.
Menurutnya, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengkategorikan Sesar Kaligarang sebagai sesar aktif. Ia sendiri bekerjasama dengan Badan Geologi dan Universitas di sekitar Semarang sedang melakukan kajian dengan mengambil sejumlah sampel sedimen telah diambil dan masih dilakukan analisis umur.
"Jalur sesar aktif ini nantinya akan diupdate setiap kami menemukan hasil yang baru," terangnya.
Sembari menunggu penelitian itu, ia meminta pemerintah daerah membuat kebijakan untuk membangun bangunan tahan gempa. Lepas dari persoalan sesar, hampir di seluruh Indonesia merupakan daerah yang rawan gempa, termasuk Kota Semarang.
Jika sudah terbangun perlu dilakukan retrofitting atau memodifikasi bangunan tanpa membongkar total bekerjasama dengan instansi terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Langkah lainnya, perlu mempersiapkan dengan melakukan pendidikan kesiapsiagaan.
"Bukan menakuti, tetapi menciptakan kesiapsiagaan dan ketangguhan bencana," tuturnya.
Terpisah, Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Siti Ismaillyaningsih mengaku, Pakuwon Mall yang mengerjakan proyek pembangunan mal di Gombel telah melakukan kajian selama tiga tahun sebelum melakukan pembangunan kontruksi. "Setahu saya, ini kajian terlama dalam suatu proyek pembangunan," katanya.
Meksi begitu, pihaknya bersama Pakuwon bersilang pendapat soal titik sesar aktif yang menjadi poin krusial dalam pembangunan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia itu.
Ia mengungkap, lembaganya menilai titik sesar ada di bagian selatan, sebaliknya Pakuwon mematok di bagian utara.
"Kami meminta mereka mendetailkan kembali, posisi tapak proyek antara di selatan atau utara, karena di situ ada indikasi (dilalui) sesar," jelasnya. (Iwn)