Revitalisasi Keraton Solo Dimulai, Keputren dan Museum Jadi Prioritas, Ditarget Rampung Akhir 2026
Putradi Pamungkas July 18, 2026 09:29 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Revitalisasi Keraton Solo Jawa Tengah segera dimulai.

Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta menetapkan kawasan Keputren dan Museum Keraton sebagai prioritas awal dalam proyek revitalisasi yang ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Sosialisasi dimulainya revitalisasi kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat digelar di Sasana Handrawina pada Jumat (17/7/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan Kementerian Kebudayaan RI, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah, serta pihak Keraton.

Keputren dan Museum Keraton Jadi Prioritas Revitalisasi

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan revitalisasi kali ini tidak hanya menyentuh bangunan utama Keraton, tetapi juga kawasan yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan edukasi.

"Alhamdulillah, hari ini Karaton Surakarta Hadiningrat bersama Kementerian Kebudayaan yang diwakili oleh Direktur Jenderal Kebudayaan dan BPK Jawa Tengah mengadakan sosialisasi dimulainya revitalisasi kawasan Karaton Surakarta," terang Gusti Moeng dalam rilis yang diterima TribunSolo.com.

Suasana Kori Kamandungan Keraton Solo jelang revitalisasi, Sabtu (18/7/2026)
REVITALISASI - Suasana Kori Kamandungan Keraton Solo jelang revitalisasi, Sabtu (18/7/2026). Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta menetapkan kawasan Keputren dan Museum Keraton sebagai prioritas awal dalam proyek revitalisasi yang ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Ia menjelaskan, penggunaan istilah revitalisasi kawasan menunjukkan bahwa pekerjaan tidak hanya dilakukan pada bangunan inti, tetapi juga mencakup area di dalam maupun di luar kompleks Keraton.

Pada tahap awal, revitalisasi difokuskan di kawasan Keputren atau Keraton Kulon yang menjadi salah satu bagian penting di lingkungan Keraton Surakarta.

Selain itu, Museum Keraton juga akan dibenahi, termasuk penataan serta pengembangan ruang pamer dengan standar internasional agar koleksi benda-benda bersejarah dapat ditampilkan lebih representatif sesuai kaidah permuseuman modern.

"Waktunya hanya empat bulan, diharapkan nanti Desember selesai," ucapnya.

Pengerjaan Dimulai Pekan Depan

Sementara itu, Ketua Eksekutif LDA Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan pengerjaan revitalisasi semula dijadwalkan dimulai pada Jumat (24/7/2026).

Namun, jadwal tersebut dimajukan menjadi Selasa pekan depan karena waktu pelaksanaan yang cukup singkat.

"Sesegera mungkin karena tadinya akan wilujengan memulai kegiatan itu tanggal 24 Juli hari Jumat. Karena waktunya sangat pendek itu diajukan hari Selasa. Itu dengan catatan minimal kerja dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam," ujarnya saat dihubungi TribunSolo.com, Sabtu (18/7/2026).

Menurut Eddy, pekerjaan akan dimulai dari kawasan Pagelaran dan Sitinggil, kemudian berlanjut ke Kamandungan hingga kawasan inti Keraton.

"Kalau kita lihat dari depan sini dimulai dari Pagelaran, kemudian Sitinggil, seputaran Kamandungan. Kemudian nanti masuk ke Kasentanan kemudian ke museum sasana Handrawina, keraton kulon dan masih ada beberapa titik lain," kata dia.

Baca juga: Pendaftaran Merek SISKS PB XIV di DJKI Disorot, Dinilai Berpotensi Perkeruh Konflik Keraton Solo

Target Rampung Akhir Tahun

Eddy mengaku belum mengetahui besaran anggaran yang dialokasikan pemerintah pusat untuk revitalisasi Keraton Solo.

"Saya nggak tahu persisnya. Yang saya tahu karena yang ditangani ini nggak hanya Keraton Surakarta tapi keraton-keraton di seluruh Indonesia memang cukup besar dan ini memang dana khusus atensi dari presiden," jelasnya.

Ia menambahkan, revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembenahan fisik bangunan.

Program tersebut juga menyasar revitalisasi budaya nonfisik, termasuk pelestarian sejumlah upacara adat yang masih dijalankan Keraton Solo.

"Ini akan bersamaan, bahkan kemarin ada pesan dari pelaksana itu mereka butuh tempat untuk tidur para pekerja sudah dihitung kurang lebih 300 orang. Ini tidak hanya revitalisasi fisik tapi juga revitalisasi non fisiknya," sebut Wirabhumi.

Meski proyek revitalisasi berlangsung, Keraton Solo tetap membuka akses bagi wisatawan.

Menurut Eddy, aktivitas kunjungan tidak akan terganggu selama proses pengerjaan.

Ia juga memastikan persoalan sengketa sejumlah kawasan Keraton dengan kubu Pakubuwono (PB) XIV Purbaya tidak akan menghambat jalannya revitalisasi.

"Akses secara prinsip tidak ada seorang pun yang boleh menghalang-halangi. Nanti kita lakukan komunikasi, fokusnya tidak hanya di situ tapi semua menjadi fokus karena sampai akhir tahun harus sudah selesai," pungkas dia.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.