Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berkepanjangan di wilayah perbatasan Aceh kini memicu efek domino yang melumpuhkan jantung perekonomian.
Selain memukul daya beli warga, krisis distribusi ini juga menyandera proyek rekonstruksi infrastruktur pascabanjir yang saat ini tengah dikebut di Kabupaten Aceh Tamiang.
Mandeknya pasokan BBM membuat armada truk pengangkut komoditas vital, mulai dari bahan pangan hingga material bangunan terhenti beroperasi.
Akibatnya, pasokan material untuk membangun kembali fasilitas publik dan rumah warga yang rusak karena banjir jadi terhambat.
Abdul Gani, salah seorang pengusaha pemilik truk angkutan barang di Aceh Tamiang, membeberkan potret suram di lapangan.
Menurutnya, kelangkaan solar memaksa truk-truk logistik miliknya terlantar tanpa kepastian di luar daerah.
"Kelangkaan BBM ini berdampak luas terhadap kondisi ekonomi dan sosial masyarakat karena menghantam langsung angkutan pangan dan material bangunan. Padahal, di Aceh Tamiang saat ini sedang giat-giatnya pembangunan ulang pascabanjir," ungkap Abdul Gani, Sabtu (18/7/2026).
Gani menceritakan, armada truknya kini kerap tertahan sangat lama di wilayah Medan, Sumatera Utara, yang menjadi pusat pengambilan muatan.
Siklus perjalanan yang biasanya bisa rampung dalam waktu tiga hari, kini membengkak hingga sepuluh hari, bahkan sampai dua pekan tanpa aktivitas angkutan sama sekali.
Truk-truk tersebut terpaksa "tergantung" tanpa kejelasan di pelabuhan maupun di area gudang pemuatan semen.
Kondisi ini diperparah oleh beban operasional yang terus berjalan meski truk tidak bergerak.
Selama masa tunggu yang tidak pasti tersebut, para pemilik angkutan dipaksa tetap merogoh kocek dalam-dalam untuk biaya hidup kru truk di selama terkatung-katung di lokasi muat.
Baca juga: Krisis BBM Hantam Aceh Tamiang, Proyek Pemulihan Pascabanjir Terancam Lumpuh Total
"Kondisi ini mengharuskan kami pengusaha pengangkutan tetap mengeluarkan uang untuk makan dan minum sopir serta kernet, diperkirakan kurang lebih Rp200 ribu per hari. Kalau kita kalikan Rp 200 ribu dikali 10 hari saja, itu sudah Rp 2 juta rupiah habis di tempat muat semen karena lamanya menggantung di pelabuhan atau gudang," keluh Gani.
Imbas dari masa tunggu yang tidak masuk akal ini memicu lonjakan ugal-ugalan pada ongkos transportasi logistik.
Tarif angkutan truk dari Medan menuju Aceh Tamiang yang normalnya berada di kisaran Rp 3 juta hingga Rp 4 juta, kini melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp 7 juta.
Kenaikan ongkos angkut hingga hampir dua kali lipat ini otomatis memicu efek domino di pasar domestik Aceh Tamiang.
Harga-harga komoditas pangan pokok dan material penting seperti besi dan semen meroket tajam dalam beberapa hari terakhir.
Jika terus dibiarkan, situasi ini dinilai menjadi bom waktu yang akan memicu lonjakan inflasi daerah yang sulit dikendalikan.
Melihat ancaman krisis yang kian nyata, Abdul Gani mendesak otoritas terkait dan pemerintah daerah untuk segera turun tangan melakukan intervensi pasar.
Harus ada ketegasan dalam mengendalikan serta mengamankan jalur distribusi BBM dan barang, agar proyek pemulihan pascabanjir di Aceh Tamiang tidak lumpuh total dan masyarakat tidak semakin tercekik oleh lonjakan harga. (*)