UKM Cosmip FISIP UNIB Dorong Mahasiswa Berkarya, Seni Jadi Media Kritik Sosial
Hendrik Budiman July 18, 2026 11:40 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Komunitas Seni Mahasiswa FISIP Universitas Bengkulu (Cosmip) terus mempertahankan eksistensinya sebagai ruang berekspresi sekaligus media penyampaian kritik sosial. 

Memasuki usia ke-26 tahun, organisasi tersebut tetap konsisten mengangkat berbagai isu sosial melalui pertunjukan seni.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Naufal Dzaky, Radja Cosmip FISIP Universitas Bengkulu, saat berbincang dalam Podcast Tribun Bengkulu.

Cosmip lahir pada tahun 2000 berangkat dari keresahan mahasiswa yang membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi melalui seni.

“Awalnya Cosmip terbentuk karena adanya keresahan yang dirasakan mahasiswa saat itu. Bukan keresahan pribadi, tetapi keresahan bersama sehingga lahirlah komunitas seni ini sebagai medianya,” ujar Naufal dalam Podcast Kito Obroli di Studio Tribun Bengkulu, Sabtu (18/7/2026).

Hingga kini semangat yang dibawa Cosmip masih tetap sama meski situasi zaman telah berubah.

“Kalau ditanya masih relevan atau tidak, tentu masih relevan. Yang berubah hanya zamannya, tetapi semangatnya tetap sama,” katanya.

Baca juga: Nobar Film Mahasiswa, UKM Cinematography Unived Dukung Kemajuan Industri Film Bengkulu

Cosmip memiliki empat divisi utama, yakni musik, sastra, rupa, dan tari.

Keempat unsur tersebut kemudian dipadukan dalam pertunjukan teater yang menjadi ciri khas organisasi tersebut.

Selain latihan rutin untuk mengembangkan kemampuan anggota, Cosmip juga menggelar diskusi rutin guna membahas isu-isu yang sedang menjadi perhatian masyarakat.

“Dari diskusi itulah lahir ide pertunjukan. Kami membahas keresahan yang sedang terjadi, kemudian dituangkan dalam sebuah pementasan,” jelasnya.

Pesan utama yang selalu dibawa dalam setiap pertunjukan adalah menyampaikan keresahan masyarakat.

“Yang pertama dan paling utama adalah keresahan. Misalnya persoalan fasilitas kampus yang kurang memadai, padahal mahasiswa tetap membayar UKT. Hal-hal seperti itu yang kami angkat melalui seni,” ujarnya.

Ia menilai seni masih menjadi media kritik sosial yang efektif, bahkan semakin didukung oleh perkembangan media sosial.

“Justru dengan adanya media sosial kami semakin mudah menyampaikan keresahan kepada masyarakat. Hampir semua orang memegang telepon genggam sehingga penyebaran pesan menjadi lebih luas,” katanya.

Selain aktif berkesenian, Cosmip juga menjalankan berbagai kegiatan sosial, salah satunya melalui program tahunan bertajuk Black and White yang menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Dalam proses produksi sebuah pertunjukan, seluruh anggota dilibatkan mulai dari diskusi, penyusunan konsep, latihan, hingga pementasan.

Salah satu penampilan yang paling berkesan baginya adalah saat Cosmip menjadi pembuka konser FIS Band pada 2024 dengan mengangkat tema tentang keresahan masyarakat yang dibungkam.

Sementara pada masa kepengurusannya, pertunjukan yang paling membekas adalah pementasan di Fakultas Hukum Universitas Bengkulu yang mengangkat isu pelecehan seksual.

“Kami juga memberikan ruang yang sama kepada teman-teman penyandang disabilitas untuk tampil. Kami melihat semangat mereka, bukan keterbatasannya,” ujarnya.

Salah satu tantangan terbesar organisasi kemahasiswaan saat ini adalah menurunnya minat mahasiswa untuk aktif berorganisasi.

Meski demikian, Cosmip justru memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai peluang untuk memperluas jangkauan karya melalui konten di media sosial.

“Semua kegiatan kami dokumentasikan dan dibagikan melalui media sosial agar lebih banyak orang mengetahui pesan yang ingin kami sampaikan,” katanya.

Menjelang penerimaan mahasiswa baru, Cosmip juga tengah menyiapkan penampilan khusus untuk memperkenalkan organisasi kepada mahasiswa baru.

Ia mengajak mahasiswa agar tidak ragu mengembangkan potensi diri melalui organisasi maupun kegiatan seni.

“Jangan ragu mencoba hal baru. Kalau terus ragu, kita tidak akan berkembang,” ujarnya.

Saat ditanya apakah seni masih dibutuhkan masyarakat, Naufal memberikan jawaban yang menjadi prinsip organisasi tersebut.

“Selama masyarakat belum benar-benar merdeka, seni masih dibutuhkan,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.