Apa itu Downdraft? Proses yang memicu Angin Kencang di Krayan, Beda dengan Puting Beliung
Cornel Dimas Satrio July 19, 2026 12:14 AM

TRIBUNKALTARA.COM - Bencana cuaca ekstrem di Krayan yang merusak sejumlah gereja dan fasilitas umum sempat diduga akibat puting beliung. Namun, BMKG meluruskan bahwa kerusakan tersebut dipicu oleh proses downdraft dari awan Cumulonimbus.

Apa sebenarnya downdraft itu dan apa bedanya dengan puting beliung? Simak penjelasan ilmiahnya di sini.

Fenomena cuaca ekstrem yang menyebabkan kerusakan sejumlah rumah, bangunan gereja, hingga merobohkan sebuah menara, sempat menggegerkan warga Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) pada Kamis (16/7/2026).

BPBD sempat menyebutkan fenomena tersebut sebagai puting beliung.

Namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena ini secara meteorologis bukanlah angin puting beliung.

ANGIN KENCANG - Kondisi salah satu bangunan di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kaltara, yang mengalami kerusakan setelah diterjang angin kencang disertai hujan lebat.
ANGIN KENCANG - Kondisi salah satu bangunan di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kaltara, yang mengalami kerusakan setelah diterjang angin kencang disertai hujan lebat. (ARSIP - ISTIMEWA)

Baca juga: Atap Sekolah hingga Gereja di Krayan Nunukan Rusak, BMKG: Itu Angin Kencang Bukan Puting Beliung

BMKG menyatakan kejadian tersebut murni merupakan angin kencang yang dipicu oleh proses downdraft dari awan Cumulonimbus.

Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Yuvai Semaring Long Bawan, Darso Purnanto, melalui Tim Forecaster Reza, Jumat (17/7/2026), setelah melakukan analisis terhadap kondisi cuaca dan dokumentasi video saat kejadian.

Lantas, apa sebenarnya proses downdraft itu dan mengapa fenomena ini berbeda dengan puting beliung?  
Mengenal Proses Downdraft

Secara ilmiah, downdraft adalah istilah meteorologi untuk menggambarkan arus udara yang bergerak turun secara vertikal.

Proses ini biasa terjadi ketika awan badai ( Cumulonimbus) memasuki fase matang.

Di dalam awan tersebut, terdapat hembusan angin yang bergerak sangat cepat dari atas menuju ke permukaan bumi bersamaan dengan jatuhnya hujan lebat.

Ketika hempasan udara dingin ini menyentuh tanah, ia menyebar ke segala arah dan menciptakan angin kencang yang bersifat merusak di permukaan bumi.

"Pada awan Cumulonimbus biasanya terjadi proses downdraft, yaitu hembusan angin yang bergerak cepat dari awan menuju permukaan. Kondisi inilah yang menyebabkan angin kencang saat hujan berlangsung," ujar Reza.

Mengapa Bukan Disebut Angin Puting Beliung?

Meskipun sama-sama merusak, BMKG menegaskan ada perbedaan mendasar pada pola gerakan jalannya angin.

Syarat utama sebuah fenomena disebut puting beliung adalah adanya karakteristik angin yang berputar membentuk pusaran.

Berdasarkan hasil analisis visual terhadap video amatir warga dan pantauan cuaca di lapangan, BMKG sama sekali tidak menemukan adanya tanda-tanda pusaran angin spiral di wilayah Krayan.

"Kalau puting beliung ada gerakan angin yang berputar. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG maupun video yang kami amati, kejadian kemarin lebih mengarah pada angin kencang karena tidak terlihat adanya pola pusaran," kata Reza meluruskan.

Dampak Nyata Hempasan Downdraft di Krayan

Dampak dari hempasan angin kencang akibat downdraft ini dilaporkan terkonsentrasi di wilayah Long Bawan, Long Kiwan, dan Kampung Baru.

Sementara wilayah Krayan lainnya umumnya hanya mengalami hujan dengan intensitas lebat tanpa disertai angin kencang.

Data sementara Pos BPBD Krayan Induk menunjukkan cuaca ekstrem yang berlangsung kurang dari satu jam itu mengakibatkan dampak yang cukup masif.

Dua rumah warga mengalami kerusakan berat. Atap dua bangunan gereja (termasuk Gereja GKII) terlepas.

Ada pula sebuah tower roboh hingga menimpa Pos Pengamanan Perbatasan (Pos Pamtas) Long Bawan.

Kerusakan pada Rumah Dinas Guru, Gedung SDN Kampung Baru, serta sejumlah pohon tumbang yang mengganggu akses jalan.

Sebelum kejadian berlangsung, BMKG bersama Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini cuaca melalui grup WhatsApp di wilayah Kecamatan Krayan.

BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Saat ini, penanganan pascabencana sedang dilakukan secara gotong royong oleh warga bersama jemaat untuk membersihkan puing-puing bangunan yang membahayakan serta mengamankan peralatan yang terdampak hujan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.