Cerita Cucu Toko Baru, Kelontong Tertua dan PO Bus Sahabat Baru di Enrekang 
Sudirman July 19, 2026 02:07 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Mengelola usaha satu soal pelik. Adaptasi sosial dan regulasi jadi tantangan.

Namun mempertahankan usaha dan aset hingga 120 tahun, juga bukan persoalan mudah.

"Tantangan terbesarnya adalah mewariskan nilai moral, adaptasi dan meyakinkan generasi pelanjut," kata David Gozal (63), kepada Tribun, tentang toko kelontong tertua di Kota Enrekang, sekitar 225 km, tenggara Kota Makassar.

David Gozal adalah putra dari mendiang pasangan Ngo A Ngan dan Dewi Gozal, generasi kedua pengelola Toko Baru, di Jl Kemakmuran, Kelurahan Juppandang, Kecamatan Enrekang, Sulsel.

Ngo A Ngan adalah putra pasangan Wu Rui Jin dan istrinya, Tjiu Tjin Hui.

Hingga kini, toko kelontong di hook pertigaan Jl Imam Bonjol-Jl Kemakmuran dan hook Jl Diponegoro itu, dikelola generasi ke-4, sejak dirintis kakek buyutnya, Wu Rui Jin, 1906 silam.

Sebelum dinamai Toko Baru, kedai kelontong itu bernama Chi Sing Kok.

Baca juga: Toko Baru yang Sudah 120 Tahun: Kisah Wu Rui Jin, Kakek David Gozal Menetap di Enrekang Sejak 1906

Namun di dekade 1960, menyusul kebijakan pelarangan penggunaan aksara dan bahasa Tiongkok di toko dan nama WNI, toko itu dinamai Toko Baru.

"Warga sudah sebut toko baru, jadinya pakai nama itu," ujar David.

Hingga Jumat (15/7/2026) ini, toko kelontong atau retail lokal era kolonial itu, sudah memasuki usia 120 tahun, dan dikelola buyut, generasi ke-4.

Konstruksi toko hook gaya Eropa mideteranian era 1960-an dan Plang nama Toko Baru masih terjaga, dan jadi spot foto instagram generasi Millenial Enrekang.

"Kira-kira habis pandemi, keponakan ubah jadi mini market. Pintunya dicet list merah putih, lebih modern sedikit," kata Ketua Wilayah Lions Club Sulawesi Selatan Lions Club Makassar itu di Benz Coffee Shop, Jl Kajaolaliddo, Ujungpandang, Makassar.

Dinamai Toko Baru, sebab di dekade awal 1920 an, toko klontomg milik kakeknya, jadi pendatang anyar.

"Orang Enrekang bilang, belanja di toko baru, akhirnya dikasi nama Toko Baru, tak pernah tua," kelakar David.

Kakek David adalah perantau asal Tiongkok, yang masuk ke Nusantara, di paruh terakhir Penjajahan Belanda, akhir abad 19.

Saat itu, kakeknya bersama ratusan perantau Tiongkok bermigrasi lewat Laut China Selatan dari provinsi selatan seperti Guangdong dan Fujian. 

Mereka mayoritas kelompok suku Hokkian, Keek, Hakka, dan Kanton untuk mencari kehidupan baru akibat krisis ekonomi pascakerusuhan politik dan runtuhnya Dinasti Qing (1644-1912).

"Cerita ibu saya, kapal Akung itu mendarat di Banten, lalu masuk ke Makassar, Watampone lalu dagang di daerah Pammana, Sengkang lalu sama dagangannya pakai kuda ke Enrekang," ujar pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulsel itu.

Karena posisi strategis toko berada di perlintasan jalan poros Ujungpandang - Duri - Enrekang, Wu Rui Ji, juga sempat buka jasa angkutan mini bus; Perusahaan Otobus (PO) Sahabat Baru. 

Bus jenis Colt Disel itu melayani penumpang Enrekang - Ujungpandang, hingga dekade 1980-an.

Dekade itu Enrekang adalah daerah transit ke wilayah perkebunan kopi, cengkeh, rempah-rempah dan hasil perkebunan keras dari Duri, Cakke, dan Toraja.

Di masa penjajahan Enrekang dikenal sebagai wilayah adat Massenrempulu (1905–1942), dan wilayah otoritas Onderafdeling Enrekang. 

Petani dan pedagang dari wilayah kerajaan-kerajaan lokal seperti Federasi Duri, Cakke, Kalosi, dan Malua, dan perbatasan Toraja.

Akungnya,  jelas David, merasa cocok dengan daerah Juppandang, karena dekat Sungai Saddang dan menjadikan Sungai Mataallo, sebagai sumber air sekaligus tempat bermain. 

Orangtua David, paman dan saudara-saudaranya bahkan sudah berakulturasi dengan warga kabupaten di ketinggian 2.500 mdpl itu.

"Bapak, dan lima saudara saya semua lahir san lancar bahasa Enrekang," ujar David, yang ke Makassar melanjutkan pendidikan menengah di SMP 6 dan SMA Katolik Rajawali, akhir dekade 1970-an.

Bahkan mendiang ayahnya, dikenal sebagai Tuan Kapala, karena dekat dengan tokoh adat, pemerintah dan militer setempat.

David bahkan menyinggung, di masa-masa Gerombolan DI/TII Kolonel Kahar Muzakkar, era krisis disintegrasi Indonesia (1950-1968), kakek dan ayahnya juga banyak berinteraksi dagang dan sosial dengan pentolan Kahar Muzakkar, tentara KNIL, dan tokoh laskar Harimau, anak pejuang pascaProklamasi 17 Agustus 1945, seperti Andi Sose.

"Dagangan Akung saya bisa lewat hadangan Gerombolan DI/TII tapi juga kakak perempuan saya hampir jadi anak angkat Andi Sose," ujar David mengenang ayahnya yang wafat dan dimakamkan Pekuburan Pannara', Makassar, 1994.

Kakek dan orangtuanya berdagang cemilan dari Makassar, Pulau Jawa, dan kebutuhan kerajinan sehari-hari seperti jarum, lilin, minyak angin, paku, seng, balsem, hingga camilan seperti cokelat batangan.

"Kakak tertua saya, bahkan sering lihat Andi Sose dan anak buahnya selalu beli Silver Queen, dia paling suka kalo ke toko," ujarnya.

Namun konferensi Asia Afrika di Bandung, April 1955, jadi dilema dan mengubah lanskap kehidupan sosial ekonomi bagi perantau Dinasti Qing Tiongkok di Nusantara.

Menurut David, usai Menteri Luar Negeri Sunario dan Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai, mendandatangani perjanjian kewarganegaraan, kakeknya memilih remigrasi ke Tiongkok.

Saat itu krisis ekonomi dan luncak masa Gerombolan DI/TII.

"Kakek kembali ke kampungnya, dan Bapak saya bangga jadi orang Enrekang, tak mau ikut," ujar David menggambarkan efek regulasi soal regulasi Dwi Kewarganegaraan.

2026-07-18 - Keluarga David Gozal mengabadikan mobil pete-pete di Enrekang.
ENREKANG - Keluarga David Gozal mengabadikan mobil pete-pete di Enrekang. David Gozal mempertahankan usaha dan aset hingga 120 tahun di Enrekang.

Tak lama setelah itu, Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 10 Tahun 1959, juga menetapkan larangan orang asing berusaha dagang kecil dan eceran di luar Ibu Kota Daerah Swatantra tingkat I dan II serta Karesidenan. 

"Tapi karena bapak sudah seperti saudara dengan Andi Sose, bapak saya memilih tetap di Enrekang," kenang David, yang lahir tiga tahun pascaratifikasi regulasi itu.

Dari regulasi ekonomi lokal itu, banyak keluarga dan kerabat David di Enrekang bermigrasi dagang ke Parepare, salah satu kota ekonomi terbesar kedua di Sulsel, setelah Makassar.

Bahkan, menurut cerita Dewi Lestari, saat regulasi PP 10/1959 itu, ayahnya sering berdiskusi dan dapat jaminan dari Andi Sose, yang kala itu berpangkat Mayor TNI, dan jadi asisten intelijen di Kodam VII Hasanuddin.

"Kata Ibu Saya, Andi Sose banyak didatangi pedagang Tionghoa, dan diarahkan ke kepala Staf Kodam Letkol Aziz Taba," ujar David.

Di masa itu, Panglima Kodam VII Hasanuddin dijabat Kolonel M Jusuf. Dan tentara dan pemerintahan lokal masih fokus membenahi disintegrasi eks pejuang kemerdekaan pascaproklamasi.

Di masa itu, Panglima Kodam XIV/Hasanuddin (sekarang Kodam XIV/Hasanuddin), yang membawahi wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara, pada periode 1959 hingga 1965.

Dan, jadilah di kabupaten di Sulsel generasi kedua dan ketuga perantau Tionghoa masih dapat izin tetap jadi salah satu komunitas penggerak ekonomi lokal; seperti Palopo, Bone, Pangkep, Bantaeng, Bulukumba, Parepare, dan  Polewali Mamasa.

Toko Baru dan beberapa toko klomtong di pusat kota Enrekang, tetap eksis hingga saat ini.

David dan kakaknya migrasi ke Makassar, setelah ikut kakaknya yang jadi atlet tenis provinsi, di era Walikota HM Patompo.

Kakaknya, sekolah di SMA 1 Makassar dan karena David belum cukup umur, dia dimasukkan di SMA Katolik Rajawali, seangkatan dengan " Bupati Gowa (2005-2015), Ichsan Yasin Limpo (1963-2018).

"Kami awalnya kos dan tinggal di rumah Haji Mangenre, orang Enrekang di dekat Pasar Sentral, lalu bapak bikin rumah dan tinggal di Jl Gunung Lompo Battang, dekat Gudang Lame-lame," ujar David yang kemudian kuliah di Fakultas Hukum Unhas, menikah dengan gadis keturunan Manado. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.