Usai Insiden Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Psikolog Ungkap Langkah yang Harus Dilakukan Sekolah
Endra Kurniawan July 19, 2026 04:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Kasus perundungan atau bullying di lingungan sekolah terus menjadi perhatian masyarakat Indonesia.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, terdapat 2.621 laporan terkait perundungan sepanjang tahun 2025, dengan 620 di antaranya dikategorikan sebagai perundungan serius. 

Data lembaga seperti Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) juga mencatat setidaknya 641 kasus kekerasan di satuan pendidikan, di mana sekitar 30 persen dari total angka tersebut adalah kasus perundungan (bullying).

Dalam beberapa kasus, korban perundungan sampai berbuat aksi nekat di sekolahnya, seperti kasus peledakan bom di MAN 3 Padang, Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat.

Siswa kelas XII berinisial R melakukan aksi teror dengan merakit bom dan meledakkannya di jam sekolah, pada Selasa (14/7/2026).

R berdalih melakukan aksinya karena ingin melukai teman yang sering mem-bully-nya.

Baca juga: Kemenag: Siswa MAN 3 Padang Buat Alat Mirip Mercon usai Jadi Korban Bully, Belajar dari YouTube

Psikolong: Ceramah Jangan Mem-bully Tidak Cukup

KASUS BULLYING - Dosen Program Studi Psikologi Universitas 'Aisyiyah (UNISA), Ratna Yunita Setiyani Subardjo S.Psi, M.Psi,. Ph.D.
KASUS BULLYING - Dosen Program Studi Psikologi Universitas 'Aisyiyah (UNISA), Ratna Yunita Setiyani Subardjo S.Psi, M.Psi,. Ph.D. (Tribunnews.com/Dok. Pribadi)

Insiden ini menjadi pengingat penting bagi sekolah untuk tidak hanya berfokus pada penanganan kasus, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis warga sekolah dan upaya pencegahan agar peristiwa serupa tidak terulang.

Dosen Program Studi Psikologi Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo S.Psi., M.Psi., Ph.D, menilai penanganan pascakejadian perlu dilakukan secara menyeluruh dengan pendekatan psikologis yang berfokus pada manajemen krisis, pemulihan, dan pencegahan.

Menurut Ratna, langkah pertama yang harus dilakukan sekolah adalah memberikan Psychological First Aid (PFA) kepada seluruh siswa dan guru yang terdampak.

"Validasi rasa takut, sedih, dan marah yang mereka rasakan. Jangan buru-buru mengajak mereka untuk 'melupakan' kejadian tersebut," ujar Ratna, saat dihubungi dari redaksi Tribunnews.com, Klodran, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Ia juga menyarankan sekolah membentuk tim respons yang terdiri dari kepala sekolah, guru bimbingan konseling (BK), psikolog, dan wali kelas.

Tim tersebut bertugas melakukan asesmen risiko terhadap siswa lain, terutama mereka yang menunjukkan perubahan perilaku, menarik diri dari lingkungan, atau justru memuja tindakan kekerasan.

"Siapa yang menarik diri, siapa yang memuja kekerasan. Sebab ini bisa menjadi bibit perilaku berulang," katanya.

Selain itu, Ratna menekankan pentingnya penerapan program pencegahan perundungan yang berbasis bukti, bukan sekadar memberikan ceramah jangan bully.

Ia merekomendasikan penggunaan Program Olweus Bullying Prevention, yang mencakup penyusunan aturan kelas, pertemuan rutin, pemberian konsekuensi yang jelas, serta pelatihan empati bagi siswa.

Ratna juga meminta sekolah membuka jalur pelaporan yang aman dan mudah diakses, seperti kotak curhat atau nomor WhatsApp guru BK yang merespons laporan secara cepat.

"Anak harus yakin bahwa melapor berarti akan dilindungi, bukan justru dibully kembali. Ini akan menciptakan rasa aman dan kepercayaan," jelasnya.

Terakhir, ia menilai guru perlu mendapat pelatihan untuk mengenali tanda-tanda awal munculnya masalah psikologis maupun potensi perilaku berisiko pada siswa.

Tanda-tanda tersebut antara lain perubahan perilaku secara drastis, kecenderungan mengisolasi diri, hingga munculnya tulisan atau gambar yang bertema kekerasan.

Menurut Ratna, deteksi dini menjadi salah satu kunci penting dalam mencegah terulangnya insiden serupa di lingkungan sekolah.

Baca juga: Sosok R, Siswa MAN 3 Padang Nekat Ledakkan Bom di Sekolah Gegara Sering Di-bully, Dikenal Pendiam

Kenapa Bullying Terus Terjadi di Sekolah?

Ratna dalam kesempatanya menjelaskan kenapa aksi bulyying masih terus terjadi di sekolah. Ia menilai masih adanya kesenjangan antara kebijakan yang dibuat sekolah dengan pelaksanaannya di lapangan menjadi salah satu penyebab utama bullying sulit diberantas.

"Dari perspektif psikologi sekolah, ada tiga jurang yang sering terjadi sehingga bullying masih terus berlangsung meski sudah ada langkah preventif," ujar Ratna.

Menurutnya, persoalan pertama adalah kesenjangan antara kebijakan dan implementasi. 

Banyak sekolah telah memiliki aturan anti-bullying, tetapi aturan tersebut belum benar-benar menjadi budaya di lingkungan sekolah.

Ratna menjelaskan, teori perubahan perilaku organisasi menunjukkan bahwa sebuah aturan tidak akan berjalan efektif apabila tidak dibarengi pelatihan bagi guru, penerapan yang konsisten, serta keteladanan dari para pendidik.

"Aturan tanpa pelatihan guru, tanpa konsistensi, dan tanpa teladan dari guru membuat aturan yang dibuat tidak akan hidup," katanya.

Faktor kedua adalah lemahnya deteksi dini terhadap bullying

Menurut Ratna, tidak semua bentuk perundungan mudah dikenali karena banyak terjadi dalam bentuk relasional, seperti pengucilan, penyebaran gosip, hingga mengabaikan seseorang di grup percakapan.

"Banyak bullying bentuknya relasional. Guru sering baru mengetahui ketika sudah terjadi kekerasan fisik, padahal luka relasional justru bisa menjadi trauma yang paling lama sembuhnya dan itu tidak terlihat," jelasnya.

Baca juga: Siswa MAN 3 Padang Ledakkan Bom di Sekolah Gegara Di-bully, Psikolog Tegaskan: Dia Bukan Anak Jahat

Ia mengatakan bentuk perundungan semacam itu sering luput dari perhatian karena tidak meninggalkan bukti fisik, tetapi dampak psikologisnya dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Selain itu, Ratna menilai masih rendahnya literasi kesehatan mental juga menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan bullying di sekolah.

Menurutnya, masih ada anggapan bahwa menjadi korban bullying merupakan hal yang wajar agar seseorang menjadi lebih kuat. 

Padahal, perundungan dapat menimbulkan trauma psikologis yang serius apabila tidak segera ditangani.

Ratna juga menyoroti keterbatasan jumlah guru bimbingan dan konseling (BK) maupun psikolog sekolah yang berperan dalam melakukan skrining dini terhadap kondisi psikologis siswa.

"Kita juga belum memiliki guru BK maupun psikolog sekolah dalam jumlah yang memadai untuk melakukan skrining. Rasio ideal sekitar satu guru BK atau psikolog untuk 150 siswa di banyak sekolah masih belum terpenuhi," pungkasnya.

Polisi: Motif karena Bullying

Kejadian bermula saat R merasa tidak tahan menjadi korban bullying yang dilakukan oleh teman-temannya.

Ia kemudian memiliki rencana merakit bom yang dipelajari melalui internet, sehingga aksinya tidak terkait dengan jaringan terorisme.

Singkat cerita, R membawa empat bom ke sekolah pada Selasa (14/7/2026) siang.

Ia meletakkan satu bom di bawah meja kelas, sementara sisanya masih di dalam tas.

Bom berkekuatan rendah itu meledak dan membuat heboh sekolah.

"Bom itu diletakkan di bawah meja dengan harapan ledakan bisa meruntuhkan dinding kelas untuk mencelakai teman-teman yang sering membully dirinya."

"Namun, bangunan sekolah cukup kuat sehingga ledakan tidak menimbulkan kerusakan yang mengakibatkan korban jiwa," jelas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumatera Barat Kombes Susmelawati Rosya.

Baca juga: Polisi Pastikan Ledakan di MAN 3 Padang Bukan Terorisme, Pelaku Tertekan secara Psikologis

Tidak lama kemudian kepolisian diterjunkan usai menerima laporan untuk mengamankan situasi.

Turut diamankan R guna dimintai keterangan lebih lanjut.

R mengaku nekat melakukan aksinya karena masalah bullying.

"Sampai saat ini motifnya bullying. Dan ini perlu kami tegaskan juga, tidak ada hubungannya dengan jaringan terorisme. Ini murni karena korban bullying dari teman-teman sekelasnya," urai Susmelawati, dikutip dari TribunPadang.com.

Hingga kini, Polda Sumbar terus masih mendalami kasus ledakan bom di MAN 3 Padang.

Untuk R, statusnya masih anak yang berhadapan dengan hukum (ABH).

"Fokus kita saat ini melakukan rehabilitasi terhadap anak tersebut dan memberikan pendampingan. Walaupun dia pelaku, dia juga syok dengan kejadian ini."

"Dia juga korban karena tertekan secara psikologis akibat dugaan bullying," tandasnya.

(Tribunnews.com/Endra, TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.