1.480 Siswa di Bali Belum Dapat Sekolah, Disdikpora Kebut Penyaluran
Ida Ayu Suryantini Putri July 19, 2026 08:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk jenjang SMA dan SMK di Bali resmi ditutup Jumat 18 Juli 2026 setelah dimulai Senin 13 Juli 2026.

Namun carut-marut proses penerimaan siswa baru di Bali ternyata belum sepenuhnya rampung.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.480 calon peserta didik dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 masih terombang-ambing karena belum mendapatkan sekolah.

Baca juga: Empat SD Masuk Kajian Regrouping, Disdikpora Buleleng Data Anak Belum Sekolah hingga 31 Agustus

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, awalnya ada 2.567 calon siswa yang dinyatakan tidak lolos seleksi reguler.

Dari jumlah tersebut, baru sekitar 1.087 anak yang berhasil dialokasikan ke sekolah-sekolah yang kuotanya belum terpenuhi.

Kepala UPTD Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BP Tekdik) Disdikpora Provinsi Bali, I Komang Agus Kariasa, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa upaya pendistribusian siswa masih terus berjalan di lapangan.

Baca juga: Tujuh SD Negeri di Bangli Hanya Dapat 3-6 Murid Baru, Disdik Singgung Anggapan Sekolah Favorit

"Masih (ada siswa tercecer), baru tersalurkan untuk SMA tahap pertama 731 dan SMK tahap pertama 356,” ujarnya, Sabtu 18 Juli 2026. 

Jika dibedah lebih rinci, dari 1.151 calon siswa SMA yang sempat tercecer, sebanyak 731 anak sudah berhasil mendapatkan sekolah pada gelombang penyaluran pertama.

Sementara untuk jenjang SMK, baru 356 siswa yang berhasil ditempatkan dari total 1.416 anak yang sempat terlantar.

Saat ini, sisa 1.480 anak yang belum mendapatkan kepastian sekolah menjadi prioritas utama bagi Disdikpora Bali, yang tengah berkoordinasi intensif dengan jajaran sekolah negeri maupun swasta.

Merujuk pada rekapitulasi SPMB Tahap I dan Tahap II, daya tampung SMA negeri di seluruh Bali baru terisi rata-rata 70,87 persen.

Dari total kapasitas yang mencapai 30.314 kursi, jumlah siswa yang lolos seleksi baru menyentuh angka 21.483 orang. Kota Denpasar memimpin dengan tingkat keterisian tertinggi sebesar 87,03 persen, diikuti oleh Kabupaten Jembrana dengan 81,73 persen dan Karangasem sebesar 80,70 persen.

Sebaliknya, Kabupaten Tabanan mencatatkan angka keterisian paling minim, yakni hanya sebesar 49,72 persen.

Di sisi lain, minat terhadap jenjang SMK terpantau sedikit lebih tinggi dengan rata-rata keterisian mencapai 77,62 persen, di mana dari total daya tampung sebesar 24.844 kursi, sebanyak 19.283 siswa telah dinyatakan diterima.

Kota Denpasar kembali menjadi yang teratas dengan angka 91,45 persen, disusul oleh Karangasem sebesar 85,18 persen, Buleleng dengan 84,04 persen, dan Badung yang mencapai 83,85 persen.

Adapun Kabupaten Bangli berada di posisi paling buncit dengan tingkat keterisian SMK sebesar 60,62 persen.

Guna mengatasi persoalan ini, Disdikpora Bali masih terus melakukan pemetaan berkala terhadap sekolah-sekolah yang bangkunya belum penuh.

Proses penyaluran sisa siswa ini akan disesuaikan dengan kuota yang tersedia di tiap sekolah serta jarak dari domisili tempat tinggal calon murid.

Pemerintah Provinsi Bali menegaskan komitmennya agar seluruh anak yang belum tertampung ini bisa segera duduk di bangku sekolah, demi menjamin hak pendidikan mereka tetap terpenuhi walaupun agenda utama SPMB dan MPLS sudah selesai dilaksanakan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.