Sayembara Cari Pria Madiun yang Kabur saat Trip di Korsel, Travel Agen Siapkan Hadiah Liburan Gratis
Endra Kurniawan July 19, 2026 04:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Upaya pencarian Femas Yani Arianto, pria asal Madiun, Jawa Timur, yang kabur saat open trip ke Korea Selatan, masih terus berlanjut.

Berani Backpacker sebagai travel agen yang memfasilitasi keberangkatan Femas bahkan telah menyiapkan hadiah bagi siapa saja yang mengetahui keberadaan pemuda berumur 22 tahun itu.

Marketing dan Tour Leader Berani Backpacker, Dwiky Prayogi membenarkan adanya sayembara ini.

"Betul ada sayembara (untuk mencari Femas) Bagi siapa saja yang berhasil menemukan Femas."

"Nanti ada hadiah liburan gratis ke Singapura dan Malaysia untuk satu keluarga boleh gitu. Tapi, kalau keluarganya tujuh bersaudara, ya empat  maksimal ya (yang diberangkatkan)," kata Dwiky ketika dihubungi dari dapur redaksi Tribunnews, Solo, Jawa Tengah.

Kronologi Kaburnya Femas

Dwiky dalam wawancaranya juga menceritakan kronologi lengkap kaburnya Femas hingga viral menjadi bahan perbincangan lewat media sosial.

Semua bermula saat Berani Backpacker mengadakan tour ke Korea Selatan yang diikuti 39 orang, termasuk Femas.

Rombongan berangkat dari Indonesia pada 27 Juni 2026 dan tiba di Negeri Ginseng keesokan harinya.

"Kita sampai di Korea itu tanggal 28 Juni 2026 dan tournya sampai 1 Juli 2026," kata Dwiky.

Awalnya, tour berjalan sesuai rencana saat rombongan mengunjungi kawasan Myeongdong, distrik perbelanjaan, kuliner, dan pusat wisata paling populer yang terletak di jantung Kota Seoul, Korea Selatan.

Tibalah waktu bebas (free time), saat peserta tour dapat menjelajah sendiri.

"Femas kemudian bilang kalau dia mau cari sepatu. Maka di situlah berpisah dari rombongan," tambah Dwiky.

Sebelum berpisah, Femas sudah diberikan arahan oleh Berani Backpacker mengenai cara menggunakan fasilitas umum untuk kembali ke hotel tempat menginap.

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan tengah malam di Korea Selatan. Namun, Femas tak kunjung kembali ke rombongan hingga keesokan paginya.

Pihak Berani Backpacker berusaha menghubungi Femas melalui pesan singkat WhatsApp, akan tetapi tidak ada respons.

Dwiky yang kebetulan juga ikut dalam rombongan mulai khawatir.

"Di Korea kan banyak klub malamnya. Kita sempat berpikir apa dia pingsan di pinggir jalan atau di mana gitu. Akhirnya kita sama-sama telusuri dari titik berpisah, tapi tidak ketemu," lanjutnya.

Tour leader tidak henti-hentinya terus menghubungi Femas. Sesekali pesan tidak langsung terkirim ke ponsel Femas.

Baca juga: Sosok Femas Yani Arianto, Pria Madiun Kabur saat Wisata ke Korea Selatan, Keluarga Kini Dilaporkan

"Saya dan tim office beberapa kali chat. Chat centang satu, tapi nanti di jam-jam tertentu itu akan centang dua."

"Nanti centang satu lagi, centang dua lagi berulang seperti itu. Jadi memang benar-benar ada waktu-waktu tertentu dia mengaktifkan HP-nya," beber Dwiky.

Beberapa hari berlalu, Femas tidak kunjung kembali ke rombongan hingga membuat tim memutuskan melapor ke pihak kepolisian.

Sayangnya, laporan tersebut ditolak karena Femas bukan termasuk orang hilang.

"Jadi dianggap memisahkan diri dari rombongan dengan sadar. Dia juga masih punya masa tinggal yang legal. Masa berlaku visanya masih 15 hari dan baru berakhir pada 12 Juli 2026," lanjut dia.

Dwiky memastikan, hingga hari ini, Minggu (19/7/2026), Femas sudah dipastikan overstay dan belum ada kabar sama sekali.

Berani Backpacker Datangi Pihak Keluarga

Upaya pencarian Femas berlanjut ketika rombongan sudah tiba di Indonesia.

Dwiky dan tim bahkan sampai rela mengunjungi rumah orang tua Femas di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Di awal komunikasinya dengan pihak keluarga, ibu Femas berdalih tidak mengetahui keberadaan sang anak, bahkan mengaku tidak tahu Femas melakukan perjalanan ke Korea Selatan.

"Tapi ibu ini jawabannya, 'Saya enggak tahu, saya enggak tahu'. Dari chat dan telepon itu kelihatan si ibu tidak peduli sama sekali terhadap anaknya. Enggak sewajarnya sebagai seorang ibu dia seperti itu."

"Jadi akhirnya kita dari awal pun sudah berasumsi kayak ini enggak beres nih ibunya seperti itu. Akhirnya saya dan tim memutuskan untuk ke rumah beliau," urai Dwiky.

Sesampainya di Madiun, Dwiky merasa ada yang ditutup-tutupi. Padahal, salah satu syarat pengajuan visa Korea Selatan adalah rekening koran dan surat penjamin atas nama ibu Femas.

Ibu Femas awalnya tidak mengetahui soal syarat-syarat tersebut. Setelah didesak, akhirnya ia mengakui mengetahui anaknya memang pergi ke Korea Selatan.

Akan tetapi, hingga akhir pertemuan, tidak ditemukan titik terang soal keberadaan Femas.

Tidak menyerah, Dwiky kemudian meminta keterangan sejumlah tetangga.

Baca juga: Soal Viral Anggota DPRD Main HP, Ternyata Camat Bukan Anggota Dewan, Pak Camat: Bukan Judi Online

Belakangan diketahui, Femas sempat mengikuti pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) selama dua tahun sebagai persiapan bekerja di Korea Selatan.

Fakta tersebut memperkuat dugaan Femas kabur dari open trip karena ingin bekerja secara ilegal.

Ditambah lagi, tetangga-tetangga Femas banyak yang menjadi pekerja di luar negeri, seperti Jepang.

"Berarti kan sudah pernah niat ke luar negeri untuk mencari kerja. Memang disayangkannya jika benar kabur untuk mencari kerja lewat jalur enggak resmi," tegas Dwiky.

Rugikan Berani Backpacker

Dwiky mengaku semua pihak dirugikan atas kaburnya Femas.

Berani Backpacker terancam dijatuhi denda ratusan juta rupiah dari otoritas Korea Selatan.

"Kita dikenakan denda oleh pihak manajemen visa kurang lebih Rp125 juta. Ini angka minimal, belum visa tour selanjutnya juga bisa terancam dibatalkan. Jadi kerugian bisa jadi ratusan juta nilainya," urai Dwiky.

Dampak kejadian ini juga dirasakan tour leader dan seluruh peserta rombongan.

"Mereka dianggap tidak menjaga satu rombongan. Jadi bisa dipersulit saat mengajukan visa ke Korea."

"Jadi dampaknya sebenarnya besar banget dan ini merugikan banyak orang. Enggak hanya kita sebagai travel, tapi juga merugikan banyak orang. Termasuk untuk negara kita pastinya," tegas Dwiky.

Baca juga: Viral Ojol di Tangerang Kehilangan Motor saat Ambil Paket, Menangis karena Alat Cari Nafkah Raib

Atas kejadian ini, Berani Backpacker meminta Femas segera kembali ke Indonesia.

Bahkan, mereka siap memberikan fasilitas berupa tiket kepulangan secara gratis.

Selain itu, Berani Backpacker melaporkan keluarga Femas ke polisi.

"Kami melaporkan penjamin atau pemberi sponsor kepada pihak berwenang kepolisian karena terbukti sebagai penjamin dan berusaha menutup-nutupi data anak serta runtutan masalah memisahkan diri dari rombongan trip Korea atas nama Femas Yani Arianto," tutup Dwiky.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.