SERAMBINEWS.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran melancarkan serangan terhadap sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk Persia pada Sabtu (18/7/2026) malam, menyusul gelombang ketujuh serangan militer AS yang menghantam sejumlah target strategis di Iran.
Dilansir Reuters, Kuwait menjadi salah satu negara yang terdampak. Serangan tersebut merusak fasilitas pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air, sekaligus memaksa Bandara Internasional Kuwait menghentikan sementara operasional akibat ancaman rudal dan drone yang terus berulang.
Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait mengonfirmasi kerusakan pada kompleks pembangkit listrik dan instalasi penyulingan air. Ini menjadi serangan kedua terhadap infrastruktur vital Kuwait dalam dua hari terakhir.
Baca juga: Iran Klaim 5 Pesawat Tempur AS Hancur Dirudal, Sejumlah Tentara Terluka dalam Serangan ke Yordania
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas operasi tersebut. Dalam pernyataannya, IRGC menyebut telah menyerang pusat dukungan militer AS di Camp Arifjan serta menghancurkan instalasi radar di Pangkalan Udara Ali Al-Salem, Kuwait.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa IRGC melancarkan serangan ke Pangkalan Udara Isa di Bahrain yang diklaim menjadi lokasi penempatan pesawat tempur AS sekaligus pusat pengumpulan intelijen. Namun, Reuters menyebut klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
IRGC menegaskan serangan itu merupakan balasan atas operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran dan memperingatkan bahwa seluruh sekutu Washington di kawasan berpotensi menjadi sasaran berikutnya jika serangan AS terus berlanjut.
Di saat yang sama, media Iran melaporkan rudal menghantam fasilitas energi dan desalinasi di Kota Jask, Provinsi Hormozgan. Akibatnya, sekitar 10.000 warga di 20 desa dilaporkan mengalami krisis pasokan air bersih.
Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei sekaligus pejabat senior IRGC, Mohsen Rezaee, memperingatkan bahwa Iran akan meningkatkan eskalasi konflik apabila operasi militer AS tidak segera dihentikan.
"Jika serangan Amerika berlanjut dua atau tiga hari lagi, kami akan memasuki fase operasi ofensif skala penuh," kata Rezaee, seperti dikutip CNN melalui media pemerintah Iran.
Ia menegaskan tidak akan ada batas politik yang mampu melindungi musuh Iran dari serangan balasan. Rezaee juga menuntut Amerika Serikat membayar ganti rugi atas kerusakan yang disebut Iran terjadi pada infrastruktur sipil, meski Washington membantah pernah menargetkan fasilitas sipil.
Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah menyelesaikan gelombang ketujuh serangan terhadap target-target di Iran pada Sabtu dini hari.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut sasaran operasi meliputi fasilitas pengawasan, jaringan logistik militer, gudang senjata bawah tanah, hingga kekuatan angkatan laut Iran. Operasi dilakukan menggunakan pesawat tempur, drone, dan kapal perang.
CENTCOM juga mengungkapkan bahwa lebih dari 50.000 personel militer AS kini ditempatkan di kawasan Timur Tengah.
Rangkaian eskalasi ini bermula setelah AS menyerang Iran sebagai balasan atas serangan IRGC terhadap kapal kontainer berbendera Siprus, GFS Galaxy, yang menyebabkan satu awak sipil hilang dan kapal mengalami kerusakan.
Sebagai respons, IRGC mengumumkan pemblokiran Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Iran menyatakan tidak akan mengizinkan kapal mana pun melintas hingga Amerika Serikat menghentikan seluruh operasi militernya di kawasan.
Sebelum eskalasi terbaru, Oman diketahui telah mengusulkan rancangan skema pelayaran baru di Selat Hormuz. Proposal tersebut mencakup Koridor Selatan di wilayah perairan Oman yang memungkinkan pelayaran bebas, serta Koridor Utara di perairan Iran yang mengharuskan setiap kapal memperoleh izin dari Teheran.
Seluruh perkembangan ini berlangsung di tengah masa negosiasi selama 60 hari berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu.
Pemerintah AS sebelumnya menyatakan kesepakatan akhir hanya dapat tercapai apabila Iran menyerahkan sekitar 410 kilogram uranium yang telah diperkaya kepada Washington.(*)