TRIBUNNEWSMAKER.COM - Jagat media sosial dihebohkan dengan pengakuan seorang alumni Universitas Diponegoro (Undip) yang mengaku mengalami dugaan pelecehan seksual saat masih menjalani bimbingan skripsi. Cerita tersebut viral setelah diunggah melalui akun Threads dan menuai ribuan respons dari warganet.
Dalam unggahannya, korban mengaku peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2015 ketika menjalani bimbingan dengan seorang dosen yang hanya disebut berinisial D.
Korban menyebut sang dosen diduga menarik tangannya dan memintanya untuk mencium sebelum ia meninggalkan ruang bimbingan.
Setelah berhasil keluar dari ruangan, korban mengaku menerima pesan singkat berisi permintaan maaf sekaligus permintaan agar kejadian itu tidak diceritakan kepada siapa pun.
Selama bertahun-tahun, korban memilih bungkam karena merasa tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
Unggahan tersebut kemudian memicu pengakuan dari sejumlah warganet lain yang mengklaim pernah mengalami pengalaman serupa.
Menanggapi berbagai informasi yang beredar, Universitas Diponegoro menyatakan seluruh laporan yang diterima masih dalam proses verifikasi sesuai mekanisme yang berlaku.
Hingga kini belum ada kesimpulan maupun pernyataan resmi yang membuktikan kebenaran seluruh tuduhan yang beredar di media sosial.
Baca juga: Persib Bandung Lepas Pemain Piala Dunia 2026 Frans Putros, Alasan Hengkang Terkuak: Negosiasi Buntu
Seperti diketahui, unggahan seorang pengguna media sosial Threads yang mengaku sebagai alumni Universitas Diponegoro (Undip) menjadi perhatian publik setelah menceritakan dugaan pelecehan seksual yang disebut dialaminya saat masih menjadi mahasiswa.
Kisah yang dibagikan lebih dari satu dekade setelah peristiwa itu terjadi memicu banyak tanggapan dari warganet dan kembali menyoroti pentingnya penanganan dugaan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
Informasi yang beredar saat ini masih berupa pengakuan dari pihak yang mengunggah cerita di media sosial.
Berdasarkan unggahan yang dikutip Tribun Jateng pada Sabtu (18/7/2026), pemilik akun Threads @bonabon mengaku memberanikan diri menyampaikan pengalamannya setelah menyimpan cerita tersebut selama bertahun-tahun.
Dalam rangkaian unggahan yang terdiri dari 18 bagian, ia mengaku mengalami dugaan pelecehan seksual saat menjalani bimbingan skripsi dengan seorang dosen yang hanya disebut menggunakan inisial D.
Menurut pengakuannya, ia merupakan mahasiswa Program Studi Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip angkatan 2010.
Korban mengaku selama menjalani perkuliahan kerap menerima perlakuan yang membuatnya merasa tidak nyaman, mulai dari sindiran hingga ucapan yang dianggap merendahkan.
Dalam unggahannya, korban menyebut dugaan pelecehan terjadi sekitar tahun 2015 ketika menjalani proses bimbingan skripsi di ruang dosen pada sore hari.
Korban mengaku sempat merasa tidak aman karena kondisi ruangan saat itu sepi.
Usai proses bimbingan selesai, korban mengaku saat berpamitan dan bersalaman, dosen tersebut diduga menarik kedua lengannya dan berusaha memeluknya.
Dalam unggahan di Threads, korban menuliskan bahwa saat berusaha menolak, dosen tersebut diduga berkata,
"Sini cium dulu dong."
Korban kemudian mengaku spontan menolak.
"Pak, jangan Pak,"
Menurut pengakuannya, setelah berhasil meninggalkan ruangan, ia menerima pesan singkat (SMS) yang disebut berisi permintaan maaf sekaligus permintaan agar kejadian tersebut tidak diceritakan kepada siapa pun.
Korban juga mengaku memilih diam selama bertahun-tahun karena merasa tidak memiliki posisi yang cukup kuat untuk melawan, terlebih dosen yang disebutkan dalam unggahannya memiliki jabatan penting di lingkungan kampus.
Setelah kisah tersebut dipublikasikan melalui Threads, ia mengaku mulai menerima dukungan dari berbagai pihak. Bahkan, menurut pengakuannya, beberapa orang menghubunginya dan menyampaikan pernah mengalami pengalaman serupa.
Cerita tersebut memicu berbagai respons di media sosial. Sejumlah pengguna Threads memberikan dukungan kepada pengunggah, sementara sebagian lainnya mengaku mengetahui sosok yang dimaksud atau menyampaikan pengalaman yang mereka klaim serupa.
Perlu dicatat, hingga kini belum ada putusan maupun pernyataan resmi yang membuktikan kebenaran tuduhan tersebut. Proses klarifikasi dari pihak terkait masih berlangsung.
Selain unggahan yang viral di Threads, media sosial X juga diwarnai unggahan dari akun @anythngineed yang menyampaikan dugaan kasus berbeda terkait seorang mahasiswa Universitas Diponegoro.
Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan:
"PLIS BANTU VIRALIN, ANOTHER PELAKU KS berkeliaran di Undip. Korbannya udah banyak bgttt. kelakuan dari smp gaperna tobat dibawa bawa sampe kuliah. roy sidabutar, FEB ‘24, Medan, Stosa,"
Unggahan tersebut juga menyertakan tangkapan layar percakapan yang diklaim berisi pesan tidak pantas.
Salah seorang yang mengaku sebagai korban menyebut perkenalan dengan terduga pelaku bermula dari media sosial.
"Setelah itu dia mulai chat ke arah yang tidak pantas,"
Korban mengaku terduga pelaku merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undip, sedangkan korban berasal dari berbagai fakultas.
"Setahu saya ada kurang lebih 10, tapi pas baca baca komentar dari instagram ternyata korbannya lebih dari itu,"
Menurut pengakuannya, laporan mengenai dugaan tersebut telah disampaikan kepada Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS).
"Korban ada yang sempat lapor ke Satgas PPKS. Namun, hingga saat ini dari pihak satgas belum ada respons atau tindak lanjut yang disampaikan," jelasnya.
Korban berharap laporan tersebut diproses secara adil.
"Kami berharap pelaku mendapatkan sanksi yang sesuai, serta efek jera agar kejadian serupa tidak terulang. Aku juga korban, dan dia nggak ada sama sekali minta maaf," pintanya.
Menanggapi informasi yang beredar di media sosial, Direktorat Jejaring Media Universitas Diponegoro, Nurul Hasfi, menyatakan pihak kampus masih melakukan proses verifikasi sesuai mekanisme yang berlaku.
"Benar mahasiswa Undip, saat ini, informasi yang diterima masih dalam proses verifikasi melalui mekanisme yang berlaku," kata Nurul.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi awal yang diterima, dugaan tindakan tersebut disebut terjadi di luar aktivitas perkuliahan dan berada dalam ranah pribadi.
"Undip tetap menindaklanjuti laporan tersebut secara objektif dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan perlindungan terhadap pihak-pihak terkait," lanjutnya.
Pihak universitas menegaskan proses verifikasi masih berjalan. Hingga saat ini belum ada keputusan maupun kesimpulan resmi mengenai dugaan-dugaan yang beredar tersebut.
(TribunNewsmaker.com/TribunJateng)