Awalnya untuk Persiapan Lomba, Warga Tambaklorok Tak Menyangka Mural Ramai Didatangi Pengunjung
rival al manaf July 19, 2026 01:14 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Deretan mural berwarna-warni yang menghiasi sheet pile atau dinding penahan air laut di kawasan Tambaklorok, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara,  menjadi magnet baru bagi warga.

Padahal, pengecatan mural dan penataan taman di sepanjang sheet pile itu mulanya hanya dipersiapkan untuk menghadapi lomba Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat RW yang akan digelar pada Agustus mendatang.

Berbagai gambar yang menghiasi dinding tersebut menampilkan kearifan lokal masyarakat pesisir, mulai dari kepiting, udang, lobster, gurita, aneka ikan laut, nelayan hingga pemancing.

Tak hanya itu, berbagai lukisan dinding turut menghiasi dinding tersebut mulai dewi laut hingga berbagai pemandangan khas laut.

Baca juga: Sore Nanti Duel Klasik Persebaya vs PSIS Semarang, Hamka: Kami Tak Mau Sebatas Meramaikan

Baca juga: Detik-detik Warga Kejar dan Kepung Mobil Polisi yang Bawa Pelaku Begal Payudara

Sementara di bagian depannya, tampak dibuat taman memanjang yang mengikuti garis sheet pile, membuat kawasan itu tampak lebih asri.

Tribun Jateng mengunjungi kawasan Kampung Bahari Tambaklorok tersebut, Sabtu (18/7/2026) sore.

Suasana di lokasi terlihat ramai. Pengunjung berdatangan untuk menikmati pemandangan laut, berburu foto di depan mural, duduk menikmati senja, hingga membeli camilan dari lapak pedagang yang mulai bermunculan.

Istri Ketua RT 01 RW 15 Tambaklorok, Firma (51) mengatakan, penataan kawasan tersebut sudah berlangsung sekitar dua bulan. Adapun pengerjaan mural, menghabiskan waktu lebih dari satu bulan.

"Ini ya merawat ini hampir dua bulanan, Mbak. Kalau proses pengerjaan mural satu bulan lebih," katanya.

Menurut Firma, ide membuat mural muncul dari keinginan warga agar pintu masuk kampung tidak terlihat monoton.

Dinding yang semula hanya berupa tembok beton biasa, "disulap" menjadi warna-warni dengan berbagai gambar yang merepresentasikan warga khas pesisir.

Dinding terlebih dahulu dicat putih sebelum dilukis oleh warga.

"Awalnya ibu-ibu di sini bilang, 'Bu, dicat, Bu, biar bagus.' Soalnya kan di RT 1 ini langsung menuju pintu masuk. Pintu masuk gitu kalau enggak dicat kan kelihatan jelek.

Kalau enggak dilukis ya jelek ya, Mbak.

Terus ternyata pas digambar, terus semua (digambar)," terannya.

Pengerjaan mural dilakukan secara gotong royong oleh warga, terutama kaum bapak.

Proses pengecatan bahkan memakan waktu lebih dari satu bulan karena dikerjakan bertahap hingga malam hari.

"Sebulan lebih. Ini malam-malam ini baru selesai ini. Masih sedikit-sedikit tinggal finishing," katanya.

Sementara ibu-ibu berperan merawat taman sekaligus menyiapkan konsumsi saat kerja bakti berlangsung.

"Kalau yang ngecat itu bapak-bapak. Cuman ibu-ibu kan mengondisikan minumnya kalau ada yang kerja bakti kayak gitu," ujarnya.

"Tamannya, ini tinggal setiap hari disiram, ditengok kalau ada yang rusak nanti jadi dibetulin," ujarnya.

Menurut Firma, penataan taman memanfaatkan hadiah lomba tanaman obat keluarga (Toga) yang sebelumnya diraih warga.

Dari hadiah sebesar Rp1 juta, sebagian digunakan membeli tanaman.

"Pas lomba toga itu dulu kan menang, Mbak, nomor 3 Alhamdulillah dapat 1 juta. 1 juta kan terus dibuat ini, habis Rp200.000, masih sisa Rp800.000 ini ditanamkan di taman ini," kata Firma.

Menariknya, warga juga bergotong royong mengumpulkan botol plastik sebagai pembatas taman. Botol itu pun dicat warna-warni.

Setiap kepala keluarga diminta menyumbang 10 botol.

"Per KK 10 botol. Warganya cuman 60 KK. Jadi cuma 600 botol kan, dari 10 botol dikali 60. Terus sisanya beli," ujarnya.

Total kebutuhan botol, lanjut dia, mencapai sekitar 1.800 buah untuk memenuhi seluruh area taman.

Tak Disangka Jadi Tujuan Wisata Sore

Di luar dugaan warga, mural yang semula dibuat untuk keperluan lomba justru menarik perhatian masyarakat dari luar Tambaklorok.

"Sejak ada mural-mural ini," kata Firma saat ditanya sejak kapan kawasan tersebut mulai ramai didatangi pengunjung.

Hampir setiap sore kawasan itu dipenuhi warga yang ingin menikmati suasana pesisir.

"Wah, hampir setiap sore, Mbak, habis pulang kerja pada mampir ke sini. Ada yang acara makan-makan," ujarnya.

Firma mengaku tidak pernah menyangka hasil kerja bakti warga akan berdampak sebesar itu.

"Enggak nyangka," katanya singkat.

Menurutnya, seluruh upaya itu sebelumnya dilakukan sebagai persiapan mengikuti lomba Proklim.

"Lomba Proklim. Tapi ini tingkat RW, per RT lombanya," ucapnya.

Warga RT 03 RW 15 Tambaklorok, Pariyani (61) mengatakan, mural yang menghiasi sheet pile mengangkat identitas Tambaklorok sebagai kampung nelayan.

"Kalau masalah ikan sudah lama ada, sudah dahulu. Kalau masalah ikan sini memang tempatnya nelayan Tambak Lorok," ujarnya.

Pariyani menyebut bentangan sheet pile yang dibuat mural memiliki panjang sekitar satu kilometer.

"Panjangnya sana-sini hampir 1 kilometer," ujarnya.

Setiap sore, ungkapnya, terutama saat cuaca cerah, kawasan tersebut ramai didatangi pengunjung, mulai untuk menikmati angin laut hingga matahari terbenam.

"Kalau enggak hujan, ramai loh," katanya.

Ia mengatakan pengunjung mulai berdatangan sekitar pukul 17.00 WIB hingga selepas salat Isya. Tidak hanya warga Tambaklorok, masyarakat dari berbagai wilayah di Kota Semarang juga tak jarang ditemui.

"Orang sekitar sini, orang Sawah Besar. Orang dari daerah, semua. Anak sini ya ada. Biasa, sudah biasa tiap hari," ujarnya.

Menurut Pariyani, jumlah pengunjung rata-rata mencapai sekitar 100 orang per hari dan meningkat saat akhir pekan.

"Rata-rata 100 lah. Tambah rame tiap hari kalau hari Sabtu sampai Minggu," katanya.

Sementara itu, keberadaan mural semakin menambah daya tarik kawasan sheet pile bagi warga sekitar.

Warga Tambaklorok, Intan (27) mengaku kerap datang ke lokasi pada akhir pekan untuk mengajak keponakannya berjalan-jalan.

Menurut Intan, kawasan itu sudah ramai dikunjungi sejak sheet pile dibangun. Kini, mural membuat suasana di sekitar tanggul semakin menarik untuk disinggahi.

"Udah lama ya sejak ini dibangun tanggul. Kan rame pada ke sini terus ya lihat ke sini ternyata bagus kalau di sini kalau sore," katanya.

Baginya, suasana sore menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

"Rame sih kalau sore ya biasanya, terus yang menarik ya itu lihat sunsetnya, bagus," ujarnya.

Intan mengatakan, dirinya tidak ikut melukis mural. Namun, lingkungan RT tempat tinggalnya turut berpartisipasi dalam penataan kawasan untuk lomba kampung.

"Itu sih kan ada lomba taman ya sama menghias itu ikutnya itu per RT, tapi aku enggak ikut gambar cuma RT-nya ikut di situ cuma enggak ikut gambar paling di tamannya," katanya. (idy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.