TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) berupaya menekan kasus stunting di Indonesia, khususnya di Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.
Kegiatan tersebut dilakukan melalui program Pengabdian Masyarakat (Abdimas).
Ketua Tim Abdimas FKKMK UGM, dr. Ade Febrina Lestari, M.Sc., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K), menyebut upaya penanganan stunting itu dilakukan dengan kolaborasi bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul melalui Puskesmas Imogiri II dan Kalurahan Selopamioro.
Acara ini juga menggandeng Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM untuk memberikan edukasi kesehatan menyeluruh bagi masyarakat.
"Kenapa kami memilih Bantul? Karena data dan laporan dari Kepala Puskesmas Imogiri II, menunjukkan kasus stunting ternyata masih cukup tinggi untuk di Selopamioro, walaupun trennya alhamdulillah sudah semakin menurun," katanya, saat pelaksanaan Abdimas di Kalurahan Selopamioro, Minggu (19/7/2026).
Dikatakannya, penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga membutuhkan penanganan lintas sektor.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi multidimensi, mulai dari unit terkecil yaitu keluarga, tenaga kesehatan di Puskesmas, hingga peran aktif dari pemerintah kelurahan.
Kendati begitu, sebagai ujung tombak di lapangan, para kader kesehatan menjadi sasaran utama dalam program ini.
Kader perlu dibekali kemampuan teknis untuk mendampingi keluarga dengan balita yang terdeteksi stunting, termasuk cara pengukuran antropometri yakni berat badan dan tinggi badan yang benar.
"Kader merupakan garda terdepan dari masyarakat dalam hal kesehatan kalau menurut kami, sehingga kami berupaya bagaimana kader itu bisa mendampingi masyarakat atau dalam hal ini sasaran keluarga yang sudah terscreening sebagai keluarga dengan balita stunting," ujarnya.
Edukasi ini dinilai penting guna meluruskan persepsi di masyarakat.
Sebab, kondisi anak berperawakan pendek (short stature) belum tentu stunting.
Keduanya memiliki manajemen dan tata laksana medis yang sangat berbeda.
Baca juga: Akun Instagram Persiba Bantul Diretas, Unggah Penipuan Modus Undian Fiktif
Melalui kegiatan ini, tim ahli FKKMK UGM menekankan bahwa stunting bukanlah stigma yang harus ditakuti oleh keluarga.
Stunting merupakan kondisi multifaktorial yang dipicu oleh berbagai penyebab.
"Stunting itu merupakan suatu kondisi yang sifatnya bisa multifaktorial, multi penyebab yang harus kita ketahui sebab utamanya apa. Mungkin dulu penyebabnya adalah kekurangan gizi, kekurangan makan, kekurangan faktor ekonomi, tetapi bisa saja sekarang penyebabnya bergeser karena berubah pola asuh," tutur dr. Ade.
Guna mengatasi persoalan tersebut, tim Abdimas FKKMK UGM meluncurkan buku saku panduan penatalaksanaan stunting.
Buku ini memuat panduan komprehensif mulai dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), menjaga psikologis ibu hamil agar tidak stres, hingga penerapan responsive feeding yakni memberikan makan saat anak benar-benar siap dalam suasana yang bahagia tanpa paksaan.
Selain itu, buku saku ini menyajikan resep Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang mudah, sederhana, dan padat protein. Hal ini berkaca dari temuan klinis di mana banyak orang tua sudah bersusah payah memasak, namun kandungan kalori, protein, lemak, dan karbohidratnya belum seimbang.
Tak sekadar memberikan penyuluhan, aksi nyata di lapangan diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan menyeluruh.
Tercatat ada 8 dokter spesialis anak, dibantu oleh dokter residen dan fellow spesialis yang turun langsung melakukan pemeriksaan fisik diagnostik serta pemantauan tumbuh kembang anak untuk mendeteksi adanya keterlambatan.
Adapun dokter yang terlibat dalam Abdimas ini meliputi Prof.dr Madarina Julia MPH, PhD,SpA(K), Dr. dr. Neti SpA(K), dr. Braghmandita,PhD, SpA(K), dr. Arie Surya Nugrahaeni, Msc Sp.A, dr Friska Faradina SpA, dr Yudha Nur Patria SpA, dr. Widya Dwi Astuti SpOG, Leiyla Elvizahro S.Gz Dietician, dr. Miftahul, dr. Ayu Agustina, dr. Stevie Alexia, hingga dr. Asty.
"Dalam kesempatan ini, kami turut membagikan bingkisan telur bebek yang dihias pita cantik. Telur bebek ini diproduksi langsung oleh karyawan RSA UGM. Telur ayam maupun telur bebek merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat mudah dicerna oleh sistem pencernaan anak karena tidak berserat, sehingga sangat ideal untuk mencegah stunting secara ekonomis," tuturnya.
Lebih lanjut, dalam Abdimas ini juga terdapat pemeriksaan dimulai dari skrining dasar (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala), dilanjutkan dengan cek laboratorium untuk mendeteksi anemia, pemeriksaan kesehatan gigi, hingga survei pola konsumsi gizi harian anak.
"Kalau terdapat anak yang terindikasi membutuhkan penanganan medis spesifik, tim dokter akan menerbitkan surat rekomendasi rujukan berjenjang yang diselaraskan dengan Puskesmas Imogiri II baik untuk penanganan di tingkat puskesmas, rumah sakit tipe di atasnya, hingga rumah sakit rujukan tersier," terang dia. (*)