Gelombang Panas Inggris Belum Berakhir, Hujan Diprediksi Datang, tapi Suhu Ekstrem Masih Mengancam
Sri Juliati July 19, 2026 04:30 PM

TRIBUNNEWS.COM - Gelombang panas yang memecahkan rekor di Inggris diperkirakan mulai berubah arah pada paruh kedua Juli 2026.

Peluang hujan diprediksi mulai meningkat di sejumlah wilayah, tetapi para peramal cuaca mengingatkan ancaman suhu ekstrem belum benar-benar berakhir.

Meski cuaca diperkirakan menjadi lebih berubah-ubah, suhu di atas rata-rata musim panas dan potensi gelombang panas baru masih membayangi Inggris hingga Agustus.

Kondisi tersebut sudah dirasakan langsung oleh warga Indonesia yang tinggal di Inggris.

Chef Bobby Ananta, warga Solo yang kini bekerja sebagai koki di Leicester, mengatakan suhu udara memang "hanya" berkisar 33 hingga 34 derajat Celsius.

Namun, menurutnya, panas terasa jauh lebih menyiksa dibandingkan di Indonesia karena Matahari bersinar sangat lama setiap hari.

"Memang sekitar 33 sampai 34 derajat, tapi mataharinya dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam. Sumuk banget (gerah sekali)," ujar Bobby kepada Tribunnews.com, Selasa (14/7/2026). 

Ia menjelaskan sebagian besar rumah di Inggris dirancang untuk menghadapi musim dingin sehingga tidak dilengkapi pendingin ruangan.

Akibatnya, saat gelombang panas datang, suhu di dalam rumah justru terasa seperti berada di dalam oven.

"Rumah di sini didesain untuk winter, jadi kalau musim panas rasanya seperti di dalam oven," kata dia.

Menurut Bobby, penggunaan pendingin ruangan kini mulai meningkat karena suhu panas yang semakin ekstrem.

Baca juga: Musim Panas di Jepang Picu Lahirnya Mi Instan yang Bisa Diseduh Air Dingin

Namun, biaya pemasangannya masih sangat mahal.

"Sekarang AC mulai umum, tapi pemasangannya sekitar 2.000 poundsterling atau hampir Rp40 juta. Karena permintaan tinggi, sekarang sampai ada waiting list," jelas Bobby.

Ia mengaku kondisi cuaca dalam beberapa tahun terakhir terus berubah.

Gelombang panas yang dulu jarang terjadi kini semakin sering datang.

"Dibanding tahun-tahun sebelumnya memang makin parah. Tahun 2021 pernah sampai 39 derajat, sekarang rasanya panas ekstrem makin sering," katanya.

Pengalaman Bobby sejalan dengan proyeksi terbaru BBC Weather.

Lembaga tersebut melaporkan Inggris memang berpeluang mengalami cuaca yang lebih basah pada paruh kedua musim panas.

Namun, perubahan itu belum cukup untuk mengakhiri ancaman gelombang panas.

Prakiraan jangka panjang menunjukkan wilayah Skotlandia dan Irlandia Utara akan lebih sering dipengaruhi sistem tekanan rendah sehingga peluang hujan meningkat.

Sementara itu, Inggris bagian selatan diperkirakan masih berada di bawah pengaruh tekanan tinggi Azores yang berpotensi mempertahankan kondisi panas dan relatif kering.

Met Office juga memperkirakan pengaruh tekanan tinggi mulai melemah menjelang akhir Juli.

Kondisi tersebut diperkirakan memicu meningkatnya hujan dan badai petir yang awalnya terjadi di wilayah utara sebelum meluas ke bagian selatan.

Meski demikian, suhu udara diperkirakan tetap berada di atas rata-rata hingga awal Agustus.

Artinya, peluang munculnya gelombang panas berikutnya belum dapat dikesampingkan.

Musim Panas yang Menulis Sejarah

Baca juga: Dehidrasi hingga Sakit Kepala Ancam Anak di Pekan Pertama Sekolah, Lindungi dari Panas

Musim panas 2026 telah menjadi salah satu periode cuaca paling ekstrem dalam sejarah modern Inggris.

Gelombang panas beruntun sejak Mei, Juni, hingga Juli memecahkan berbagai rekor yang sebelumnya bertahan selama puluhan tahun.

Menurut BBC Weather, Inggris mencatat rekor suhu tertinggi baru untuk bulan Juni, yakni 37,7 derajat Celsius di Lingwood, Norfolk.

Negara itu juga mencatat enam hari dengan suhu mencapai sedikitnya 35 derajat Celsius, melampaui rekor lima hari yang sebelumnya tercipta pada musim panas legendaris 1976.

Bahkan hingga pertengahan Juli, jumlah hari dengan suhu di atas 30 derajat Celsius telah melampaui total sepanjang musim panas 1976.

Untuk pertama kalinya pula dalam sejarah, Inggris mencatat suhu minimal 35 derajat Celsius pada tiga bulan berbeda dalam satu tahun, yakni Mei, Juni, dan Juli.

Perubahan Iklim Jadi Faktor Utama

Para ilmuwan menilai perubahan iklim menjadi penyebab utama meningkatnya intensitas gelombang panas di Inggris.

Met Office dalam laporan State of the UK Climate menyebut suhu rata-rata Inggris meningkat sekitar 0,25 derajat Celsius setiap dekade sejak 1980-an.

Akibatnya, cuaca yang dahulu dianggap ekstrem kini mulai menjadi kondisi normal baru.

Selain itu, minimnya curah hujan membuat tanah menjadi sangat kering.

Tanah yang kehilangan kelembapan menyerap lebih banyak panas Matahari sehingga suhu udara meningkat lebih cepat.

Suhu permukaan laut di sekitar Inggris yang juga lebih hangat dari biasanya ikut mengurangi efek pendinginan alami, terutama pada malam hari.

Baca juga: Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris, WNI: Rumah seperti Oven, AC Rp40 Juta Diburu

Ribuan Orang Diperkirakan Meninggal

Gelombang panas tahun ini tidak hanya memecahkan rekor suhu, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat.

Penelitian London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM), Imperial College London, dan Met Office yang dikutip TechTimes memperkirakan sekitar 2.700 orang meninggal akibat cuaca panas selama gelombang panas Mei dan Juni 2026 di Inggris dan Wales.

Sekitar 42 persen atau sekitar 1.140 kematian diperkirakan tidak akan terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Peneliti Imperial College London, Dr. Clair Barnes, mengatakan Inggris kini harus beradaptasi dengan realitas baru.

"Kita sekarang hidup di negara dengan musim panas yang sangat panas dan berbahaya. Untuk melindungi masyarakat pada kejadian ekstrem berikutnya, kita harus segera beradaptasi dengan kondisi iklim saat ini dan mempercepat upaya menuju emisi nol bersih agar situasi tidak semakin memburuk," ujarnya.

Meski hujan diperkirakan mulai kembali pada paruh kedua musim panas, para ahli menegaskan masyarakat tidak boleh lengah.

Suhu yang tetap berada di atas normal membuat risiko gelombang panas lanjutan masih sangat mungkin terjadi hingga Agustus, sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan iklim kini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan telah dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.