Ulasan Jelang Final Piala Dunia: Pemred Tribun Jambi vs Dosen POK Unja, Tugas Tambahan Jaga Messi
asto s July 19, 2026 04:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Laga final Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina bukan hanya mempertemukan dua tim terbaik dunia, tetapi juga dua filosofi sepak bola yang berbeda.

Dalam podcast Mojok Tribun Jambi, bersama Pemimpin Redaksi Tribun Jambi, Yoso Muliawan, dan Dosen Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Jambi, Adrizal, yang mengulas perjalanan kedua tim hingga menembus partai puncak.

Menurut Adrizal, banyak pengamat lebih sering menilai kekuatan tim dari nama besar pemain maupun kualitas individu. Padahal, faktor yang paling menentukan justru terletak pada filosofi permainan yang dibangun masing-masing negara sejak lama.

"Sepak bola setiap negara dibentuk oleh latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Filosofi itulah yang akhirnya menentukan bagaimana sebuah tim bermain di lapangan," ujarnya.

Spanyol Tak Lagi Sekadar Tiki-taka

Adrizal menilai kemenangan Spanyol atas Prancis di semifinal menjadi bukti evolusi permainan La Roja.

Jika dahulu identik dengan tiki-taka yang mengandalkan penguasaan bola dan umpan pendek berulang, kini Spanyol tampil lebih vertikal, progresif, dan agresif menyerang.

"Spanyol tetap memainkan tiki-taka, tetapi sudah berevolusi. Mereka tidak lagi hanya memutar bola untuk mencari celah, melainkan lebih cepat menyerang ketika ruang terbuka," katanya.

Menurutnya, perubahan tersebut didukung oleh hadirnya generasi baru seperti Lamine Yamal, Dani Olmo, Baena, hingga Oyarzabal yang memiliki kecepatan dan kemampuan menyerang lebih baik dibanding era sebelumnya.

Di lini tengah, Rodri tetap menjadi pusat permainan.

Peraih Ballon d'Or itu dinilai sebagai pemain yang mampu mengatur ritme pertandingan sekaligus menjadi pemutus serangan lawan.

"Rodri adalah otak permainan Spanyol. Dia mengatur tempo, memutus serangan, lalu membangun serangan kembali. Perannya sangat vital," ujar Adrizal.

Yoso Muliawan menambahkan perubahan paling mencolok terlihat pada pola distribusi bola Spanyol.

Jika pada era Xavi Hernandez dan Andres Iniesta umpan lebih banyak berputar di tengah lapangan, kini permainan Spanyol jauh lebih langsung menuju area pertahanan lawan.

"Spanyol sekarang lebih progresif. Mereka tetap memainkan tiki-taka, tetapi orientasinya jauh lebih cepat ke depan sehingga serangan menjadi lebih efektif," katanya.

Prancis Kehabisan Jawaban

Dalam pandangan Adrizal, kekalahan Prancis bukan semata karena kualitas pemain yang kalah dari Spanyol.

Ia menilai Les Bleus gagal mengimbangi permainan kolektif Spanyol.

Meski memiliki pemain seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, hingga Desire Doue, permainan Prancis dinilai terlalu bergantung pada kemampuan individu.

Selain itu, lini tengah Prancis gagal mengimbangi dominasi Rodri.

"Prancis tidak memiliki pemain dengan karakter seperti Rodri yang mampu mengontrol ritme permainan. Itu menjadi pembeda utama di semifinal," ujarnya.

Ia juga menilai keputusan pelatih yang tidak menurunkan beberapa pemain sejak menit awal turut memengaruhi performa tim.

Argentina Menang karena Mental Juara

Pada semifinal lainnya, Argentina menyingkirkan Inggris melalui permainan yang disebut Adrizal lebih cair dan sulit dibaca.

Ia menilai pelatih Inggris Thomas Tuchel justru melakukan kesalahan ketika memilih bertahan setelah unggul.

Menurutnya, gaya bermain tersebut tidak sesuai dengan karakter sepak bola Inggris yang selama ini lebih mengandalkan permainan terbuka.

"Inggris bukan Italia yang punya tradisi bertahan berlapis. Ketika mereka memilih bertahan melawan Argentina, justru itu menjadi keuntungan bagi Argentina," katanya.

Adrizal menilai Argentina memiliki mental juara yang sangat kuat.

Meski tertinggal ataupun mendapat tekanan, pola permainan mereka tidak berubah.

Filosofi tersebut membuat Argentina tetap percaya diri hingga akhir pertandingan.

Messi Tetap Menjadi Ancaman

Memasuki final, perhatian utama Spanyol dipastikan tertuju kepada Lionel Messi.

Meski tidak lagi mengandalkan kecepatan seperti masa mudanya, Messi dinilai tetap menjadi pemain paling berbahaya karena kecerdasannya membaca ruang.

"Messi tidak harus banyak berlari. Dia berjalan, mengamati ruang kosong, lalu muncul di saat yang tepat. Itu yang membuatnya berbeda," kata Adrizal.

Menurutnya, tugas berat akan dipikul Rodri.

Selain mengatur ritme permainan, gelandang Manchester City tersebut diperkirakan juga harus membatasi ruang gerak Messi.

Jika Rodri gagal menjalankan peran tersebut, Argentina dinilai akan lebih mudah mengembangkan permainan.

Duel Lini Tengah Jadi Penentu

Yoso Muliawan menilai final Piala Dunia kali ini akan ditentukan oleh pertarungan lini tengah.

Spanyol memiliki Rodri, Fabian Ruiz, dan Dani Olmo sebagai motor permainan.

Sementara Argentina mengandalkan Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Leandro Paredes, Rodrigo De Paul, serta Lionel Messi yang bergerak bebas.

"Kuncinya ada di lini tengah. Kalau Spanyol mampu memutus suplai bola ke Messi, peluang mereka lebih besar. Sebaliknya, jika Argentina mampu menguasai lini tengah, mereka bisa mendikte pertandingan," ujarnya.

Menurut Adrizal, Spanyol memang lebih unggul dalam organisasi permainan.

Namun Argentina memiliki kelebihan berupa fleksibilitas taktik dan pengalaman pemain-pemainnya menghadapi pertandingan besar.

Karena itu, final Piala Dunia 2026 diprediksi berlangsung ketat hingga menit-menit akhir.

"Ini bukan hanya duel Messi melawan Lamine Yamal atau Rodri. Ini pertarungan dua filosofi sepak bola yang berbeda. Tim yang mampu menjalankan identitas permainannya dengan disiplin akan menjadi juara dunia," pungkasnya. (Tribun Jambi)

Baca juga: Prediksi Skor Spanyol vs Argentina, Alasan Tim Tango Diunggulkan Jadi Juara

Baca juga: Warga Tiga Desa di Kerinci Protes Penimbunan Alur Sungai Lama Terkait Proyek PLTA

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.