Hyrox tengah menjadi perbincangan setelah kompetisi kebugaran ini resmi digelar di Indonesia. Kompetisi yang menggabungkan lari dan latihan fungsional berintensitas tinggi tersebut pun sukses menarik perhatian banyak pecinta olahraga.
Seiring meningkatnya popularitas Hyrox, tak sedikit orang yang mulai tertarik mencobanya untuk menguji stamina sekaligus mencari tantangan baru. Namun, banyak pula yang menganggap Hyrox sama dengan CrossFit. Padahal, keduanya memiliki sejumlah perbedaan.
Apa bedanya Hyrox dengan CrossFit?
Menurut ilmuwan olahraga Gommaar D'Hulst, perbedaan utama Hyrox dan CrossFit terletak pada konsep kompetisinya. Hyrox merupakan ajang balap kebugaran () yang berfokus pada penyelesaian rangkaian lari dan latihan fungsional secepat mungkin. Sementara itu, CrossFit merupakan olahraga kebugaran () yang menguji kemampuan atlet dalam berbagai jenis latihan dengan tantangan yang lebih beragam.
"Keduanya sama-sama menggunakan gerakan fungsional yang dilakukan dengan intensitas tinggi serta menggabungkan unsur kekuatan dan daya tahan. Hal itu membuat keduanya tampak mirip. Namun, tipe atlet yang unggul di kompetisi tingkat atas masing-masing olahraga cenderung berbeda," jelasnya, dikutip dari Mens Health.
"Di Hyrox, kita tahu persis latihan apa yang akan dihadapi. Tingkat prediktabilitasnya sangat tinggi. Berbeda dengan CrossFit yang dikenal dengan konsep . Bahkan, dalam beberapa kompetisi seperti CrossFit Games atau semifinal, atlet baru mengetahui jenis latihannya saat sedang pemanasan," ujar D'Hulst.
1. Sistem Energi yang Digunakan
Meski sama-sama mengandalkan kekuatan dan daya tahan, tubuh menggunakan sistem energi yang berbeda saat menjalani Hyrox dan CrossFit.
"CrossFit lebih berada di sisi kiri kurva laktat. Latihannya mencakup aktivitas yang hanya berlangsung sekitar tiga detik dan sangat mengandalkan sistem kreatin fosfat, misalnya atau satu repetisi maksimal (). Ada pula latihan berdurasi sekitar 10 menit yang lebih banyak mengandalkan jalur metabolisme glikolisis," jelas D'Hulst.
"Sementara itu, Hyrox lebih berfokus pada atau latihan pengondisian fisik sehingga berada di sisi kanan kurva tersebut. Sistem ini lebih banyak mengandalkan kombinasi oksidasi lemak dan oksidasi glukosa," imbuhnya.
Dari hasil penelitiannya terhadap atlet elite CrossFit, D'Hulst menemukan banyak atlet memiliki kapasitas aerobik yang tidak terlalu tinggi. Akibatnya, tubuh lebih cepat beralih ke sistem anaerob sehingga produksi laktat meningkat dan kelelahan datang lebih cepat.
Sebaliknya, atlet Hyrox yang memiliki kondisi ideal mampu mengandalkan sistem aerob lebih lama sehingga menghasilkan laktat lebih sedikit sebelum mengalami kelelahan.
2. Karakteristik Fisik Atlet
Perbedaan lainnya terlihat dari karakteristik fisik atlet yang unggul di masing-masing cabang olahraga.
Dalam penelitiannya terhadap 60 atlet CrossFit elite, D'Hulst menemukan rata-rata tinggi badan mereka sekitar 176 sentimeter. Ia juga melihat bahwa panjang lengan, panjang paha, dan panjang tubuh bagian inti memiliki hubungan dengan performa atlet dalam kompetisi.
"Sebagai contoh, sekitar 28 persen performa atlet dalam kompetisi CrossFit Open dipengaruhi oleh panjang tubuh bagian inti dan panjang lengan mereka."
Sementara itu, atlet Hyrox papan atas cenderung memiliki postur lebih tinggi, sekitar 5,5 sentimeter lebih tinggi dibanding atlet CrossFit elite. Menurut D'Hulst, postur yang lebih tinggi memberikan keuntungan biomekanik pada sejumlah tantangan Hyrox, seperti sled push, wall balls, walking lunges, rowing, hingga lari.
3. Program Latihan
Karena format perlombaannya sudah ditentukan, program latihan Hyrox lebih mudah disusun. Atlet dapat berlatih menggunakan gerakan yang memang akan muncul saat kompetisi, lalu mengombinasikannya dalam latihan interval, EMOM (), maupun AMRAP () dengan durasi yang lebih panjang.
Sebaliknya, latihan CrossFit cenderung lebih bervariasi karena atlet harus siap menghadapi berbagai jenis tantangan. Akibatnya, latihan kekuatan dan daya tahan sering kali saling tumpang tindih sehingga program latihan menjadi lebih kompleks.
D'Hulst juga menjelaskan bahwa atlet Hyrox umumnya lebih banyak menjalani latihan zona 2, yaitu latihan aerobik berintensitas rendah hingga sedang dalam durasi panjang untuk meningkatkan daya tahan. Sementara itu, atlet CrossFit lebih sering berlatih pada zona intensitas tinggi (zona 4 dan 5).
4. Strategi Nutrisi
Perbedaan Hyrox dan CrossFit juga terlihat dari strategi pemenuhan energi selama latihan maupun kompetisi.
Menurut D'Hulst, perlombaan Hyrox yang berlangsung sekitar 60-90 menit membuat atlet sangat bergantung pada cadangan glikogen, yaitu bentuk simpanan glukosa di otot dan hati.
"Glikogen adalah glukosa yang tersimpan di hati dan otot Anda. Anda perlu memiliki itu sebagai bahan bakar. Jika glikogen Anda rendah di akhir Hyrox, Anda harus mengurangi kecepatan dan menurunkan daya keluaran Anda."
"Disarankan untuk mengonsumsi beberapa karbohidrat dalam Hyrox selama kompetisi. Anda dapat mengonsumsi hingga 60 hingga 90 gram kombinasi glukosa dan fruktosa, tergantung pada seberapa baik sistem pencernaan Anda terlatih," lanjutnya.
Berbeda dengan Hyrox, durasi latihan atau kompetisi CrossFit umumnya jauh lebih singkat sehingga atlet tidak memungkinkan untuk makan di tengah sesi. Oleh karena itu, strategi nutrisi CrossFit lebih difokuskan pada asupan sebelum dan setelah latihan agar tubuh memiliki energi yang cukup dan proses pemulihan berjalan optimal.
Di sisi lain, Hyrox maupun CrossFit sama-sama menuntut kebugaran fisik yang tinggi, tetapi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Hyrox lebih menekankan daya tahan dengan format kompetisi yang terstruktur, sedangkan CrossFit menguji kemampuan atlet menghadapi berbagai tantangan yang tidak dapat diprediksi.
Karena itu, kedua olahraga ini juga memerlukan pendekatan yang berbeda dalam hal program latihan, strategi pemenuhan nutrisi, hingga pemulihan. Meski sama-sama menguras fisik dan mental, Hyrox dan CrossFit menguji kemampuan atlet dengan cara yang berbeda.
Bagi yang ingin mencoba Hyrox, persiapan dapat difokuskan pada latihan yang sesuai dengan rangkaian kompetisi karena format perlombaannya sudah ditentukan. Peserta juga perlu memperhatikan strategi pemenuhan karbohidrat untuk menjaga cadangan energi selama kompetisi.
Sementara itu, mereka yang ingin mencoba CrossFit perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan dengan melatih beragam kemampuan karena tantangan yang dihadapi dapat berubah. Strategi nutrisi juga lebih difokuskan pada asupan sebelum dan setelah latihan untuk mendukung performa serta pemulihan.





