Kusta Bisa Disembuhkan, Kenali Gejala dan Cara Penularannya Sejak Dini
Isvara Savitri July 19, 2026 07:22 PM

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Penyakit kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat. 

Meski dapat menular, kusta bukan penyakit yang mudah menyebar dan dapat disembuhkan apabila terdeteksi serta diobati sejak dini.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Cabang Manado, dr. Reymond Sondakh, Sp.DVE, FINSDV, FAADV.

Ia menjelaskan bahwa kusta atau lepra merupakan penyakit infeksi menahun yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

"Kusta terutama menyerang kulit dan saraf tepi, tetapi juga dapat mengenai mata serta saluran napas bagian atas. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kelemahan otot hingga kecacatan," ujarnya, Minggu (19/7/2026).

Masyarakat perlu mengenali tanda-tanda awal penyakit tersebut agar penderita segera mendapatkan penanganan.

Gejala yang paling umum adalah munculnya bercak pada kulit yang berwarna lebih putih, kemerahan, atau kecokelatan. 

Bercak tersebut tidak kunjung hilang meski telah diobati seperti penyakit kulit biasa dan disertai mati rasa atau baal.

"Penderita sering kali tidak merasakan sentuhan, tusukan benda tajam, maupun sulit membedakan suhu panas dan dingin pada area bercak," jelasnya.

Selain itu, kusta juga dapat ditandai dengan kesemutan atau baal pada tangan dan kaki, terutama pada jari, yang dapat disertai kelemahan. 

PERIKSA - Foto Ilustrasi dokter melakukan pemeriksaan Kusta terhadap salah satu pasien. Di Sulut tahun 2026 ini ada 179 kasus baru penyakit kusta yang dilaporkan Dinas Kesehatan Sulut, Senin (6/7/2026)
PERIKSA - Foto Ilustrasi dokter melakukan pemeriksaan Kusta terhadap salah satu pasien. Di Sulut tahun 2026 ini ada 179 kasus baru penyakit kusta yang dilaporkan Dinas Kesehatan Sulut, Senin (6/7/2026) (Dok. Istimewa/Tribun Manado)

Gejala lainnya adalah pembesaran saraf yang biasanya terjadi di siku, pergelangan tangan, belakang lutut, atau leher dan terkadang disertai nyeri maupun kesemutan.

Pada kasus yang lebih lanjut, penderita dapat mengalami luka pada tangan atau kaki yang tidak terasa sakit karena mati rasa sehingga sering tidak disadari dan sulit sembuh. 

Gangguan pada wajah dan mata, seperti sulit menutup mata, alis menipis, hingga perubahan bentuk wajah juga dapat terjadi.

dr. Reymond menegaskan bahwa kusta memang dapat menular, namun tidak semudah yang selama ini dipersepsikan masyarakat. 

Penularan bisa melalui percikan ludah atau cairan hidung saat penderita yang belum menjalani pengobatan batuk, bersin, atau berbicara dalam kontak dekat yang berlangsung lama.

Namun sebagian besar orang memiliki kekebalan alami sehingga tidak mudah tertular meskipun pernah melakukan kontak dengan penderita.

Sebaliknya, kusta tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan atau alat makan, duduk berdekatan, gigitan nyamuk, maupun karena faktor keturunan.

Untuk mencegah penularan, ia mengimbau masyarakat agar segera menemukan dan mengobati penderita sedini mungkin. 

Setelah mendapatkan multidrug therapy (MDT), kemampuan penderita untuk menularkan penyakit akan menurun dengan cepat.

Selain itu, masyarakat dianjurkan menghindari kontak erat yang berkepanjangan dengan penderita yang belum diobati, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muncul bercak kulit yang mati rasa atau keluhan pada saraf, terutama jika terdapat anggota keluarga yang menderita kusta.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Daerah Rawan Longsor Sulut 20-21 Juli 2026, Hujan Guyur Kepulauan Sangihe dan Talaud

Baca juga: Lirik Lagu Good Alone - Agatha Chelsea

"Deteksi dini dan pengobatan yang tepat merupakan kunci untuk mencegah kecacatan akibat kusta sekaligus memutus rantai penularan di masyarakat," kata dr. Reymond.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.