WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen Tanam 250.000 Bibit Pohon di Aceh, Mitigasi Konflik Manusia dan Gajah
Mawaddatul Husna July 19, 2026 09:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON - Organisasi konservasi WWF-Indonesia bersama Konten Kreator lingkungan Jerhemy Owen resmi memulai gerakan restorasi alam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, Provinsi Aceh.

Sebanyak 250.000 bibit pohon akan ditanam secara bertahap guna memulihkan ekosistem kritis pascabencana sekaligus memitigasi konflik menahun antara manusia dan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus). 

Aksi ini diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan lingkungan yang sempat terganggu di wilayah tersebut.

Kick-off gerakan yang bertajuk "Wenanam" ini ditandai dengan penanaman perdana sekitar 2.000 bibit pohon di kawasan Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan, Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Sabtu (18/7/2026).

Penanaman awal difokuskan pada area hilir di dekat bantaran sungai yang telah melebar hingga 200 meter akibat erosi dan alih fungsi lahan. 

Aksi nyata ini melibatkan ratusan sukarelawan lintas generasi, komunitas Earth Hour Aceh, Forum Kolaborasi PECI, pemerintah daerah, serta masyarakat adat setempat.

Kondisi Hutan dan Lingkungan yang Rusak

Inisiator gerakan, Jerhemy Owen mengungkapkan bahwa langkah besar ini dipicu oleh keprihatinannya atas bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor besar yang melanda Aceh pada akhir tahun lalu. 

Bencana tersebut tidak hanya menelan banyak korban jiwa, tetapi juga merusak dan mengubah lanskap alam secara masif akibat maraknya alih fungsi lahan. 

Owen menekankan bahwa bencana kemarin terjadi bukan sekadar karena tingginya curah hujan, melainkan karena kondisi hutan dan lingkungan yang memang sudah rusak.

"Tahun ini, kita memilih Aceh bekerja sama lagi dengan WWF untuk penanaman pohon.

Salah satu alasannya karena di bulan Desember kemarin ada bencana yang cukup besar.

Longsor dan banjir di sini yang memakan banyak korban, termasuk alih fungsi lahan yang mengganti lanskap lahan," ujar alumnus ilmu lingkungan dari Belanda tersebut. 

Melalui program ini, publik diberi wadah untuk berkontribusi langsung. 

"Di Peusangan, saya belajar bahwa menanam bukan hanya soal angka. 

Ada masyarakat yang kehilangan kebun dan perlu memulihkan ekonomi mereka, dan di sisi lain ada habitat gajah yang harus diperbaiki," tambah Jerhemy di lokasi.

Ratusan Ribu Bibit Pohon Didistribusikan ke Tujuh Desa

Setelah penanaman perdana selesai dilakukan di sekitar kawasan CRU, ratusan ribu bibit pohon tersebut selanjutnya akan didistribusikan secara bertahap ke tujuh desa di Lanskap Peusangan yang tersebar di tiga kabupaten, yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah dan Bireuen. 

Wilayah pendistribusian ini mencakup Desa Alur Cincin, Alur Gading, Blang Ara, Musara Pakat, Negeri Antara, Simpang Lancang, dan Salah Siron Jaya. 

Pemilihan lokasi-lokasi tersebut didasarkan pada kondisi Lanskap Peusangan yang merupakan ruang hidup yang saling tumpang tindih antara wilayah kelola warga dan habitat satwa liar dilindungi.

Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, menyatakan bahwa upaya pemulihan ekologis dan penguatan ekonomi masyarakat harus berjalan beriringan agar konservasi dapat berdampak jangka panjang. 

"Konservasi satwa liar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang berbagi ruang di lanskap yang sama.

Kita perlu menjawab kebutuhan keduanya bagaimana habitat dipulihkan, interaksi negatif dengan gajah dikelola, dan di saat bersamaan warga memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan," kata Dewi. 

Oleh karena itu, pendekatan penanaman di lapangan dibagi ke dalam dua metode adaptif berdasarkan kondisi lahan yang dihadapi.

Pada metode pertama yang menyasar area kelola masyarakat, penanaman difokuskan menggunakan sistem agroforestri dengan bibit tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti durian, alpukat, kopi, dan jeruk. 

Langkah ini dirancang untuk memulihkan kembali pendapatan para petani lokal yang kebunnya rusak terdampak bencana. 

Sementara pada metode kedua yang menyasar daerah aliran sungai berkondisi kritis dan berpasir, penanaman difokuskan untuk memperbaiki unsur hara tanah menggunakan tanaman pionir seperti legum atau lamtoro serta pohon bambu. 

Di zona restorasi ini juga ditanam rumput gajah yang berfungsi ganda sebagai pakan satwa sekaligus pembatas alami (natural atau biobarrier) agar kawanan gajah tidak menerobos masuk ke permukiman warga.

Seluruh rangkaian aksi pemulihan lingkungan ini telah diintegrasikan ke dalam skema Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI). 

Tidak berhenti pada aksi penanaman pohon saja, komitmen jangka panjang program ini juga mencakup pembangunan infrastruktur pendukung seperti PECI House dan PECI Center yang akan berfungsi sebagai ruang edukasi dan pengembangan ekonomi masyarakat. 

Selain itu, disiapkan pula program penguatan perlindungan gajah di wilayah konsesi PT THL melalui pengelolaan area santuari, pembuatan kantong pakan alami, serta penyediaan fasilitas tempat menjilat garam (salt lick) demi menjaga kelestarian satwa liar tersebut.

Gerakan kolaboratif berskala besar ini digerakkan melalui kerja sama multi-pihak yang solid.

Aksi ini sukses terlaksana berkat keterlibatan aktif dari Kementerian Kehutanan RI, Pemerintah Provinsi Aceh.

FCDO Pemerintah Inggris, HSBC Indonesia, platform Kitabisa, serta Mantappu Corp yang ikut memobilisasi para kreator konten guna memperluas kampanye konservasi di tanah air. (*)

Baca juga: BMKG Prakirakan Aceh Tengah Diguyur Hujan Ringan Minggu 19 Juli 2026

Baca juga: Wujudkan RSUD Datu Beru Senyaman Hotel Pemkab Aceh Tengah Siapkan Master Plan

Baca juga: Pemkab Aceh Tengah Tuntaskan Masalah Air Bersih hingga Stok Obat di RSUD Datu Beru

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.