TRIBUNJOGJA.COM - House of Natural Fiber (HONF) resmi membuka pameran seni bertajuk 'Dark Garden: Living in Paradox, Growing in Networks' pada 19 Juli 2026 di Loka Carita, Nitiprayan.
Pameran yang berlangsung hingga 2 Agustus 2026 ini menjadi puncak rangkaian Climate Futures Incubator (CFI) 2026, sebuah program kolaborasi Indonesia dan Australia yang mempertemukan seniman, peneliti, akademisi, serta komunitas untuk merespons krisis iklim melalui praktik seni berbasis riset.
Selama beberapa pekan, para peserta menjalani proses inkubasi, residensi, riset lapangan, mentoring, hingga berdialog dengan masyarakat. Hasilnya kemudian diwujudkan dalam berbagai karya yang tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga menyentuh persoalan sejarah, budaya, teknologi, politik, hingga pengalaman hidup sehari hari.
Sebanyak 16 seniman internasional terlibat dalam program ini. Enam di antaranya mengikuti residensi secara langsung di Yogyakarta, terdiri dari tiga seniman Indonesia dan tiga seniman Australia. Sementara sepuluh seniman lainnya berpartisipasi secara daring, meliputi lima seniman Indonesia, empat seniman Australia, serta satu seniman Indonesia yang bermukim di Italia.
Climate Futures Incubator memandang perubahan iklim sebagai persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar isu lingkungan. Krisis iklim juga berkaitan erat dengan keadilan sosial, sejarah kolonial, sistem ekonomi, hingga relasi manusia dengan makhluk hidup lain.
Melalui seni, berbagai persoalan tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Kurator pameran, Arami Kasih, mengatakan 'Dark Garden' lahir dari kesadaran bahwa manusia hidup di tengah paradoks. Di satu sisi, pengetahuan mengenai perubahan iklim terus berkembang. Namun di sisi lain, berbagai aktivitas yang memperparah krisis justru masih berlangsung.
"Dark Garden mengajak kita mengakui bahwa kita hidup dalam sebuah paradoks. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim, kita juga menyaksikan berbagai tindakan yang terus memperparah krisis. Karena itu, pameran ini tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan membuka ruang dialog untuk membayangkan berbagai kemungkinan masa depan melalui jejaring relasi, perawatan, dan solidaritas antarmanusia maupun lebih dari manusia," ujar Arami.
Menurutnya, pameran ini sengaja mengambil pendekatan yang berbeda dibanding pameran bertema lingkungan pada umumnya. Jika banyak pameran masih berfokus pada penyampaian data atau aktivisme, 'Dark Garden' justru mengajak publik membayangkan masa depan melalui pendekatan yang lebih personal dan spekulatif.
"Kami mencoba bergeser dari sekadar protes atau aktivisme menuju cara pandang yang mengajak orang membayangkan masa depan iklim. Faktanya, kita sudah mengetahui persoalannya, para ilmuwan sudah memetakan penyebabnya, bahkan solusi pun sudah banyak dirumuskan. Namun emisi terus meningkat dan bumi semakin panas. Karena itu, seni menjadi ruang untuk menghubungkan persoalan yang abstrak dengan pengalaman manusia yang nyata," katanya.
Ia menambahkan, para seniman yang berasal dari latar belakang berbeda berhasil menerjemahkan isu iklim yang selama ini terasa jauh menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari hari.
"Kalau kita terus menjalankan sistem seperti sekarang, apa yang akan terjadi di masa depan? Para seniman menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sangat personal dan emosional. Karya karya mereka tidak hanya mengajak kita berpikir, tetapi juga menggerakkan perasaan," katanya.
Salah satu karya yang menarik perhatian datang dari seniman asal Melbourne, Australia, Panda Wong. Dalam proyek bertajuk 'Creeping Normalities', ia mengangkat perubahan ekologis Sungai Code melalui sosok sebatang bambu tua yang telah berusia lebih dari seratus tahun.
Inspirasi tersebut muncul setelah Panda berbincang dengan warga lokal, Pak Totok mengenai sejarah Sungai Code. Dari percakapan itu, ia mengetahui bahwa bambu tua tersebut menjadi salah satu yang terakhir bertahan di kawasan itu, padahal dahulu bambu tumbuh begitu banyak di sepanjang bantaran sungai.
Temuan tersebut membawanya pada konsep 'creeping normality', yakni perubahan besar yang berlangsung perlahan sehingga kerap tidak disadari hingga dampaknya menjadi sangat nyata.
“Saya mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi sebatang bambu berusia seratus tahun yang sudah tidak lagi memiliki keluarga dan tidak lagi bisa 'berbicara' dengan sungai karena sungai telah melupakan bahasanya akibat perubahan yang terjadi selama bertahun tahun," ujar Panda.
Gagasan itu diterjemahkannya melalui perpaduan live coding, puisi, chlorophyll printing, serta lanskap bunyi hasil kolaborasi dengan Jahan Xanlü. Panda memanfaatkan cahaya matahari untuk mencetak puisi dan foto arsip sejarah Sungai Code di atas daun bambu, sementara puisi yang ditulisnya menggunakan sudut pandang sang bambu sebagai narator.
Baginya, proses tersebut justru menghadirkan paradoks lain. Teknik chlorophyll printing yang semula ia anggap sangat alami ternyata membutuhkan proses kimia menggunakan alkohol, tembaga sulfat, serta lapisan pelindung.
"Saya menyadari bahwa proses yang tampak alami ini ternyata menyimpan sesuatu yang tidak alami, bahkan sedikit bersifat keras terhadap materialnya. Saya rasa kontradiksi seperti inilah yang juga terjadi dalam hubungan manusia dengan alam. Kita mencintainya, tetapi pada saat yang sama tanpa sadar juga melakukan berbagai bentuk kekerasan terhadapnya," katanya.
Sementara itu, seniman Paul Kiram menghadirkan karya berjudul 'Finding Title' yang mengeksplorasi kemungkinan material organik melalui perpaduan serat alam, limbah organik, dan bakteri starter yang diolah menjadi objek kinetik.
Pergerakan berbagai komponen di dalam karya menghasilkan bunyi dan respons mekanis yang terus berubah seiring proses biologis material. Melalui hubungan antara gerak, suara, dan dekomposisi, Paul mengajak pengunjung melihat material bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai entitas yang memiliki agensi, memori, serta siklus kehidupan yang terus berlangsung.
Melalui berbagai pendekatan artistik tersebut, 'Dark Garden: Living in Paradox, Growing in Networks' tidak menawarkan solusi instan atas krisis iklim. Sebaliknya, pameran ini mengajak pengunjung merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam, mempertanyakan berbagai paradoks yang selama ini dianggap wajar, sekaligus membayangkan kemungkinan masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.(nto)