TRIBUNSTYLE.COM, DENPASAR — Menikmati momen akhir pekan atau liburan santai bareng keluarga dan pasangan di Pulau Dewata kini tak lengkap rasanya tanpa berburu wisata kuliner unik. Bagi Anda yang sedang merencanakan traveling ke Bali, ada satu destinasi kuliner tersembunyi (hidden gem) di Kota Denpasar yang wajib masuk dalam daftar kunjungan: Nasi Jinggo Ungu kreasi Adi Kharisma.
Jika biasanya nasi jinggo identik dengan nasi putih berbungkus daun pisang, porsi mungil, dan sambal pedas menggugah selera, Adi menghadirkan sentuhan redefinisi kekinian. Lewat racikan berjuluk "Nasi Jinggo Now", kuliner khas Bali ini tampil estetik dengan warna ungu alami nan menggoda yang didapat dari ubi ungu kaya antioksidan.
Baca juga: Aduhai Nikmatnya Sensasi Makan di Pinggir Sungai, Ini Dia Nukad Tampaksiring, Hidden Gem Bali!
Ide menghadirkan nasi ungu ini berawal dari keprihatinan Adi terhadap tingginya risiko penyakit modern seperti kanker. Pria kelahiran Buleleng ini memahami pentingnya mengonsumsi bahan pangan alami berwarna ungu, hitam, dan merah tua yang kaya nutrisi penangkal radikal bebas. Dari sekian banyak pilihan, ubi ungu menjadi bahan yang paling ideal dan aman dikonsumsi harian.
"Ubi yang paling bagus adalah ubi ungu karena mengandung antioksidan, jadi dialah yang menyerap racun, kanker, dan saya sudah punya teman setelah konsumsi ini jadi netral penyakitnya. Termasuk yang paling utama ya kanker. Selain itu pastinya pencernaan juga jadi lebih sehat karena mengandung serat tinggi," tutur Adi Kharisma.
Terinspirasi dari tradisi nasi sela (nasi campur ubi khas Bali), Adi merancang formula agar kuliner tradisional ini dapat diterima dengan hangat oleh generasi muda maupun wisatawan lokal. Ia mengolah ubi ungu hingga bertekstur sangat lembut, lalu menggilingnya menjadi pasta alami. Saat menanak nasi, ia memadukan 20 persen pasta ubi ungu dengan 80?ras. Hasilnya, rasa ubi tidak mendominasi melainkan menyatu sempurna dengan nasi, memberikan tekstur pulen alami yang menyehatkan.
Untuk mempertahankan keautentikannya, Nasi Jinggo Ungu disajikan lengkap bersama lauk-pauk legendaris: ayam suwir gurih, tempe orek, mie goreng, serundeng wangi, kacang goreng renyah, telur dadar, dan tentunya sambal khas Bali yang mantap.
Tak hanya warna nasinya yang memesona, kemasannya pun tampil unik dengan balutan plastik kerucut yang estetik dan higienis. Tampilan ini menjadikannya sangat pas dinikmati saat piknik keluarga atau mengganjal perut di sela-sela agenda jalan-jalan berduaan menjelajahi Bali.
Proses pembuatannya pun dilakukan dengan ketelitian tinggi. Sebagian lauk disiapkan sejak malam hari, sedangkan komponen yang membutuhkan kesegaran ekstra seperti nasi, mie, dan telur diproses segar mulai pukul 03.00 WITA. Nasi ditanak dengan teknik khusus dan didiamkan hingga suhu pas sebelum dibungkus. Pasta ubi ungu yang digunakan diolah secara higienis dalam kondisi beku dari pasokan 50 kg ubi ungu segar Pasar Induk Ubung, Denpasar.
Baca juga: Lupakan Bising Bali: Villa Private Pool Mewah Ini Bikin Betah Selamanya!
Usaha yang dirintis Adi sejak 15 tahun lalu ini sempat hiatus dan bangkit kembali pasca-pandemi dengan respon pasar yang luar biasa. Cukup merogoh kocek Rp 7.500 per bungkus, Anda sudah bisa menikmati suguhan sehat, lezat, sekaligus melestarikan budaya lokal Bali.
Selain diproduksi terbatas sekitar 40 bungkus harian untuk pembeli langsung, Nasi Jinggo Ungu juga dapat ditemukan dengan mudah di jaringan ritel ternama Bali seperti Grand Lucky Udayana, Grand Lucky Sunset Road, Bintang Hayam Wuruk, Bali Jaya, serta layanan pesan antar online. Ke depan, Adi juga berencana meluncurkan kembali lontong ubi ungu dan gado-gado ubi ungu untuk semakin memanjakan lidah para pecinta kuliner sehat.
( Tribun-Bali.com / Ni Luh Putu Wahyuni Sari / Tribunstyle.com / Selviana Safitri )