TRIBUNNEWS.COM – Spanyol sukses menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada partai final yang digelar di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Gol tunggal kemenangan La Roja dicetak Ferran Torres pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu.
Berawal dari sundulan Nico Williams, Torres berhasil menyambar bola untuk menaklukkan Emiliano Martinez sekaligus memastikan Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia kedua dalam sejarah mereka setelah edisi 2010.
Keberhasilan La Roja mengakhiri penantian 16 tahun itu tak lepas dari peran generasi emas baru yang dipimpin Lamine Yamal dan Nico Williams.
Kedua pemain muda tersebut menjadi motor permainan Spanyol sepanjang turnamen, baik dalam membangun serangan maupun menciptakan peluang.
"Spanyol memiliki generasi emas baru dengan pemain-pemain muda berbakat seperti Lamine Yamal dan Nico Williams yang menjadi motor serangan tim," ungkap Adrian dari Spieltag Indonesia dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Di balik keberhasilan Spanyol menjadi juara dunia, final tersebut juga melahirkan sejumlah catatan sejarah menarik.
Berikut tiga fakta yang tercipta setelah laga final Piala Dunia 2026:
1. Spanyol Jadi Tim Pertahanan Terbaik Sepanjang Sejarah
Sepanjang Piala Dunia 2026, tim asuhan Luis de la Fuente tampil luar biasa solid di lini belakang.
Meski dikenal dengan gaya bermain menyerang yang atraktif, kekuatan terbesar Spanyol justru terletak pada organisasi pertahanannya yang nyaris tak tertembus.
Hingga memastikan diri menjadi juara, La Roja hanya kebobolan satu gol dalam tujuh pertandingan.
Catatan impresif tersebut mengantarkan Spanyol mencetak rekor baru sebagai tim juara Piala Dunia dengan jumlah kebobolan paling sedikit sepanjang sejarah.
Baca juga: Spanyol Sah Juara Piala Dunia 2026, Terima Kasih para Pemain Pengganti La Furia Roja!
Rekor itu melampaui pencapaian Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010, ketika mereka hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen.
Sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930, belum pernah ada tim juara yang mampu mengakhiri turnamen dengan kebobolan kurang dari dua gol, seperti dilaporkan Sporting News.
Rekor tersebut akhirnya resmi dipecahkan oleh Spanyol pada Piala Dunia 2026 setelah hanya sekali memungut bola dari gawang mereka sepanjang turnamen.
2. Lamine Yamal Cetak Sejarah di Usia 19 Tahun
Bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, kembali mencatatkan namanya dalam buku sejarah sepak bola dunia.
Di usia 19 tahun, Yamal menjadi pemain pertama yang pernah tampil di final Kejuaraan Eropa (Euro) dan final Piala Dunia, dikutip dari Opta Joe di X.
Sebelumnya, pemain Barcelona itu turut membawa Spanyol menjuarai Euro 2024.
Kini, ia kembali menjadi bagian penting keberhasilan La Roja merebut gelar Piala Dunia 2026.
Pencapaian tersebut semakin menegaskan status Yamal sebagai salah satu talenta terbaik generasi baru sepak bola dunia.
3. Argentina Ukir Rekor Negatif di Final
Kekalahan dari Spanyol juga membuat Argentina mencatat rekor yang tidak diinginkan.
Sepanjang 90 menit waktu normal, La Albiceleste gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran.
Catatan tersebut menjadikan Argentina sebagai tim pertama dalam sejarah final Piala Dunia yang tidak mampu menciptakan satu pun percobaan tembakan selama waktu normal pertandingan.
Dominasi pertahanan Spanyol membuat Lionel Messi dan rekan-rekannya benar-benar kesulitan mengembangkan permainan.
Keberhasilan Spanyol sekaligus menggagalkan ambisi Argentina menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan gelar juara Piala Dunia secara berturut-turut.
Meski gagal membawa Argentina mempertahankan gelar juara dunia, Lionel Messi tetap mengukir sejarah.
Kapten La Albiceleste menjadi pemain kedua yang tampil pada tiga final Piala Dunia berbeda.
Sebelumnya, rekor tersebut hanya dimiliki legenda Brasil, Cafu.
Messi tampil pada final Piala Dunia 2014, 2022, dan 2026.
Tak hanya itu, kapten Argentina tersebut juga menjadi pemain non-kiper tertua yang pernah tampil di partai final Piala Dunia.
Sayangnya, pencapaian individu tersebut gagal ditutup dengan trofi setelah Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol.
(Tribunnews.com/Ali)