Kapan Cabut Penjor Setelah Galungan dan Kuningan? Simak Doa dan Banten saat Buda Kliwon Pegatwakan
Putu Kartika Viktriani July 20, 2026 11:23 AM

TRIBUN-BALI.COM – Banyak umat Hindu bertanya kapan waktu yang tepat untuk mencabut penjor setelah rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan berakhir.

Berdasarkan Kalender Bali, penjor tidak langsung diturunkan usai Hari Raya Kuningan, melainkan tetap dipasang hingga Hari Raya Pegat Wakan atau Buda Kliwon Pahang, yang jatuh 35 hari setelah Galungan.

Hari suci ini sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian Hari Raya Galungan dan menjadi waktu yang dianjurkan untuk mencabut penjor serta menghaturkan sesajen sebagai ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pegat Wakan, Penanda Berakhirnya Rangkaian Galungan

Hari Raya Pegat Wakan diperingati setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Buda (Rabu) Kliwon Wuku Pahang.

Sebagai contoh, pada siklus tahun 2027, Pegat Wakan jatuh pada Rabu, 22 Juli 2027.

 

Hari suci ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian Hari Raya Galungan, mulai dari Tumpek Wariga, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Penyekeban, Penyajaan, Penampahan Galungan, Galungan, Umanis Galungan, Pemaridan Guru, Ulihan, Pemacekan Agung, Penampahan Kuningan, Kuningan, hingga akhirnya Pegat Wakan.

Baca juga: Doa Menghadiri Undangan atau Memberikan Restu ke Pernikahan Umat Hindu, Lengkap Dengan Artinya

Kapan Penjor Dicabut?

Penjor Galungan dicabut pada Hari Raya Pegat Wakan.

Dalam tradisi masyarakat Bali, setelah penjor diturunkan:

  • seluruh hiasan penjor dikumpulkan menjadi satu,
  • kemudian dibakar hingga menjadi abu,
  • abu tersebut dimasukkan ke dalam klungah nyuh gading makasturi (kelapa gading muda),
  • selanjutnya ditanam kembali di bekas lubang tempat penjor dipasang.

Tradisi ini dimaknai sebagai simbol mengembalikan seluruh unsur alam ke asalnya sekaligus bentuk penghormatan atas berkah yang telah diterima selama rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Doa dan Sesajen Saat Pegat Wakan

Penjelasan mengenai Pegat Wakan tercantum dalam Lontar Sundarigama:

Pahang, Buda Kliwon Pegatwakan, ngaran, pati warah panelasning mengku, biana semadi, waraning Dungulan ika, wekasing perelina, ngaran kalingan ika, pakenaning sang wiku lumekasang kang yoga semadi, umoring kala ana ring nguni, saha widi-widana sarwa pwitra, wangi-wangi, astawakna ring sarwa dewa, muang sesayut dirgayusa abesik, katur ring Sang Hyang Tunggal, panyeneng tatebus.

Artinya:

Buda Kliwon Pahang merupakan Hari Raya Pegat Wakan.

Hari ini disebut Pegat Wakan karena menjadi akhir dari pelaksanaan tapa brata.

Pada hari tersebut umat dianjurkan melakukan semadi atau perenungan suci dengan sarana berupa wangi-wangian, sesayut dirgayusa, yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Tunggal, serta dilengkapi penyeneng dan tetebus.

Sesajen yang Dihaturkan

Mengacu pada Lontar Sundarigama, sesajen yang dihaturkan saat Pegat Wakan meliputi:

Wangi-wangian

Sesayut Dirgayusa

Penyeneng

Tetebus

Sesajen tersebut dipersembahkan sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon keselamatan, umur panjang, serta berkah setelah menyelesaikan seluruh rangkaian Hari Raya Galungan.

Makna Pegat Wakan

Selain menjadi waktu mencabut penjor, Pegat Wakan juga memiliki makna spiritual yang mendalam.

Berdasarkan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu yang diterbitkan PHDI, Budha Kliwon Pahang merupakan:

akhir pelaksanaan Tapa Brata,
penutup seluruh kegiatan Hari Raya Galungan,
momentum mengakhiri warah atau ajaran suci sebagaimana termuat dalam Lontar Jayakusuma dan Lontar Sundarigama.
Karena itu, Pegat Wakan bukan sekadar hari untuk menurunkan penjor, tetapi juga menjadi saat bagi umat Hindu melakukan introspeksi, mengakhiri rangkaian hari suci dengan penuh rasa syukur, serta memohon agar nilai-nilai dharma yang diperoleh selama Galungan dan Kuningan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.