Kala Timah Memudar di Bangka Belitung, Ekonomi Tumbuh Kemiskinan Naik
Fitriadi July 20, 2026 12:03 PM

 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pagi belum benar-benar terang ketika mesin tambang mulai meraung di sejumlah titik di Bangka Belitung. Dulu, suara itu menjadi penanda harapan. Orang-orang berangkat membawa jeriken bahan bakar, sekop, dan pompa, lalu pulang dengan wajah lega setelah timah yang didapat cukup untuk membeli beras, membangun rumah, bahkan menyekolahkan anak.

Di desa-desa yang selama puluhan tahun hidup dari timah, kemiskinan mulai memperlihatkan wajahnya. Bukan lagi sekadar angka dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS), melainkan cerita tentang dapur yang tak lagi mengepul, beras yang dibeli dengan utang, hingga keluarga yang terpaksa menghentikan aktivitas menambang karena biaya operasional lebih besar daripada hasil yang dibawa pulang.

Di Kabupaten Bangka Tengah, kondisi itu tercermin dari data BPS. Pada 2025, angka kemiskinan mencapai 6,70 persen, tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Ironisnya, kondisi tersebut terjadi ketika ekonomi daerah justru tumbuh 6,06 persen, sebagian besar ditopang sektor pertambangan dan industri pengolahan logam.

Kepala BPS Kabupaten Bangka Tengah, I Ketut Martayasa, menjelaskan pertumbuhan ekonomi di wilayah Bangka Tengah memang masih ditopang sektor pertambangan dan industri pengolahan logam dasar. Namun, sektor tersebut tidak menyerap tenaga kerja sebanyak pertanian maupun jasa.

"Pertambangan itu nilainya besar dan menggerakkan ekonomi. Tetapi masyarakat yang berkecimpung langsung di sektor itu tidak banyak. Sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terlihat meningkat, tetapi apabila sektor tersebut terganggu atau mengalami penurunan maka semua lapisan masyarakat merasakan dampaknya hingga tingkat kemiskinan bisa meningkat," katanya.

Menurutnya, kemiskinan tidak semata-mata dipengaruhi ada atau tidaknya pekerjaan.

"Orang miskin tidak selalu berarti tidak bekerja. Banyak yang bekerja tetapi pendapatannya masih rendah sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan hidup." katanya.

BPS Bangka Tengah juga mencatat, apabila sektor pertambangan dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi Bangka Tengah hanya berada di kisaran 3,42 persen. Angka itu menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan ekonomi daerah terhadap timah.

Jadi Kenangan

Di Desa Lubuk Pabrik, Kecamatan Lubuk Besar, Emma masih mengingat masa ketika timah benar-benar menjadi sumber kesejahteraan keluarganya. Suaminya pernah memiliki tambang inkonvensional (TI) sendiri di kawasan Raping.

Saat harga timah masih tinggi dan kandungan bijih melimpah, mereka mampu menabung sedikit demi sedikit. Rumah sederhana yang kini mereka tempati berdiri dari hasil kerja keras mengangkat pasir timah.

Emma masih mengingat masa-masa itu dengan jelas.

"Dulu waktu timah lagi bagus, kami masih bisa menabung. Harga timah pernah sampai Rp160 ribu per kilogram. Suami juga pernah dapat belasan kilogram dalam sehari. Dalam seminggu pernah juga bawa pulang uang lebih dari Rp20 juta. Alhamdulillah waktu itu rezeki memang ada," kata Emma ditemui Bangkapos.com.

Uang itu, katanya, tidak pernah dihamburkan.

"Kami tidak foya-foya. Uangnya dipakai buat bangun rumah. Modal tambang juga dulu pinjam sama keluarga, lama-lama bisa kami lunasi karena hasil tambang memang masih bagus."

Cerita itu kini tinggal kenangan. Dalam dua tahun terakhir, timah semakin sulit diperoleh. Harga jual menurun, sementara biaya operasional justru terus meningkat. Bahan bakar menjadi barang yang mahal sekaligus sulit dicari. Tambang milik keluarga akhirnya dijual karena tidak lagi sanggup beroperasi.

"Kalau sekarang memang sudah tidak menambang lagi. Kami berhenti karena penghasilannya sudah tidak mencukupi. Besar pengeluaran daripada pendapatan. Mau bagaimana lagi, dipaksakan pun nanti utang makin banyak," kata Emma.

Kini Emma menghidupi tiga anak dengan mengandalkan penghasilan suami yang tidak menentu serta mencoba berjualan secara daring. Tetapi tambahan itu belum cukup. Setiap hari, kebutuhan rumah tangga terus mengejar.

"Kalau dihitung-hitung kebutuhan paling sedikit sudah lebih dari Rp100 ribu sehari. Itu belum semuanya. Ada uang jajan sekolah anak, beli susu, beras, kebutuhan dapur, belum lagi bensin dan kebutuhan lainnya. Semua sekarang serba mahal," kata Emma.

Pada titik tertentu, keluarga itu tak lagi memiliki uang untuk membeli beras. 

"Pernah tidak ada uang sama sekali untuk beli beras. Untung masih ada saudara yang punya toko, jadi kami boleh berutang dulu. Kalau tidak begitu, kami juga bingung harus makan apa."

Bagi Emma, perubahan itu terasa sangat cepat.

"Dari sekitar dua tahun terakhir sampai sekarang kondisinya memang terus menurun. Dulu kami masih bisa menabung, bisa bangun rumah sedikit demi sedikit. Sekarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah berat," kata Emma.

Nelayan pun Susah

Kesulitan ternyata tidak hanya dirasakan keluarga penambang. Di desa yang sama, Muhammad Dodi, nelayan tradisional, menghadapi persoalan serupa. Bedanya, ia mencari nafkah di laut.

Perahunya sepanjang tujuh meter hanya mampu melaut ketika cuaca bersahabat. Dalam seminggu, ia kini hanya turun sekitar empat hari. Selebihnya harus berhenti karena angin kencang atau kesulitan memperoleh BBM.

"Kalau sekarang paling seminggu cuma empat hari melaut. Kendala terbesar kami itu BBM. Selain itu cuaca juga sering angin kencang, jadi kami tidak berani turun ke laut."

Sekali melaut, ia membutuhkan sekitar 20 liter bahan bakar. Harga yang dulu sekitar Rp14 ribu per liter kini bisa mencapai Rp20 ribu.

"Dulu masih gampang dapat minyak sekitar Rp14 ribu per liter. Sekarang kadang kami beli sampai Rp20 ribu per liter. Kalau minyak susah, kami tidak bisa bekerja."

Hasil tangkapannya pun tidak pernah pasti. Kadang memperoleh 20 kilogram sotong, kadang hanya satu kilogram, bahkan beberapa kali pulang tanpa hasil. Setelah dikurangi biaya bahan bakar, makan, rokok, dan pembagian hasil dengan pemilik kapal, uang yang tersisa tidak seberapa.

"Kalau bersih kadang tinggal Rp400 ribu sampai Rp500 ribu. Itu pun kalau hasilnya bagus. Kalau hasil sedikit ya lebih kecil lagi."

Yang paling membekas dalam ingatan Dodi bukanlah soal cuaca atau hasil tangkapan, melainkan ketika keluarganya benar-benar kehabisan uang. "Kami pernah sampai tiga hari tidak masak nasi pada dua tahun yang lalu. Bukan karena tidak mau, tapi memang tidak ada uang untuk beli beras. Akhirnya makan apa yang ada saja."

Kehilangan Daya Beli

Di Belitung Timur, suara serupa datang dari Imron, warga Desa Batu Penyu. Ia melihat sendiri bagaimana desa yang selama ini hidup dari timah perlahan kehilangan denyut ekonominya. Pasar menjadi sepi, warung-warung kehilangan pembeli. 

"Daerah Bangka Belitung ini dari zaman dahulu sudah dicap ke seluruh dunia sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia. Tapi kenyataannya sekarang apa? Rakyat kecil di bawah justru hidup sare (sengsara)."

Menurut Imron, masyarakat sebenarnya ingin menyampaikan keluhannya, tetapi merasa tidak pernah didengar.

"Saya bersedia diwawancara karena ingin Belitung Timur ini maju. Selama ini saya merasa seperti tidak ada yang berani buka suara. Suara-suara keluhan kami di bawah sengaja diredam, makanya tidak ada yang mengoreksi."

Ia menilai lesunya pertimahan telah memukul seluruh sendi ekonomi desa.

"Dampak dari jatuhnya harga timah ini jelas sangat terasa di satu desa, Bang. Kan abang liat sendiri pasar udah sepi. Sebenarnya semua masyarakat di bawah itu sudah ingin bersuara dan menjerit, tapi ya itu tadi, suaranya teredam semua."

Bahkan, semangat masyarakat untuk bekerja ikut memudar.

 "Karena harga hancur begini, masyarakat jadi tidak semangat bekerja. Mau mengeluarkan modal jadi ketakutan sendiri. Uang modal yang ada lebih baik disimpan untuk didang (masak) makanan sehari-hari," kata Imron. (x1/z1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.