120 Tahun Tionghoa di Enrekang: Buyut David Gozal Hijrah dari Bone ke Dekat Tangsi Belanda Randangan
AS Kambie July 20, 2026 02:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Wu Rui Jin belum lama meninggalkan Watampone ketika Enrekang yang didatanginya juga sedang berubah. Wu Rui Jin bersama istrinya, Tjiu Tjin Hui, menetap di Enrekang sejak tahun 1906.

Mereka membuka toko yang yang kini masih berdiri di Jalan Juppandang, Enrekang. Sudah 120 tahun. Keturunan Wu Rui Jin dan Tjiu Tjin Hui kini menetap di Makassar, Jakarta, dan Parepare.

“Kami di sini sudah 5 turunan,” ujar cicit Wu Rui Jin, David Gozal, di Makassar, Minggu (19/7/2026).

Generasi pertama Wu Rui Jin. Kedua, A ngan Gozal (Tuan Kepala). Ketiga David Gozal bersaudara. Keempat anak David Gozal bersaudara serta sepupu-sepupunya. Kelima, cucu kakak David Gozal. 

Rumpa’na Bone

Satu abad lalu. 121 tahun silam, Wu Rui Jin hanya berdua dengan Tjiu Tjin Hui. Mereka masih di Bone.

PENDIRI - Wu Rui Jin (kiri) bersama istrinya, Tjiu Tjin Hui, dalam foto lama yang disimpan keluarga. Pasangan ini tiba dan menetap di Enrekang pada 1906. Dari keluarga yang mereka bangun di tanah Massenrempulu, lahir generasi penerus Toko Baru, termasuk Ngo A Ngan Gozal atau Tuan Kepala yang lahir di Enrekang pada 1918. (Dok. Keluarga Gozal)
PENDIRI - Wu Rui Jin (kiri) bersama istrinya, Tjiu Tjin Hui, dalam foto lama yang disimpan keluarga. Pasangan ini tiba dan menetap di Enrekang pada 1906. Dari keluarga yang mereka bangun di tanah Massenrempulu, lahir generasi penerus Toko Baru, termasuk Ngo A Ngan Gozal atau Tuan Kepala yang lahir di Enrekang pada 1918. (Dok. Keluarga Gozal) (Tribun-timur.com/Courtesy: Keluarga David Gozal)

Setahun sebelum mereka menetap di Enrekang, 1905, tentara Belanda melancarkan ekspedisi militer ke berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan. Bone jatuh. La Pawawoi Karaeng Segeri ditangkap. Peristiwa itu kelak dikenang sebagai Rumpa'na Bone.

Gelombang kekuasaan Belanda bergerak pula ke pegunungan Massenrempulu.

Kerajaan-kerajaan lokal yang selama berabad-abad mengatur wilayahnya sendiri kini berhadapan dengan kekuasaan baru. Belanda tidak lagi cukup berdagang dan membuat perjanjian. Mereka datang membawa tentara, membangun tangsi, lalu menata pemerintahan.

Enrekang masuk ke dalam pusaran perubahan itu.

Wilayah Massenrempulu mulai ditata dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda. Ada afdeling. Di bawahnya ada onderafdeling. Lebih ke bawah lagi ada distrik dan kampung.

Enrekang menjadi salah satu onderafdeling. Seorang kontrolir menjadi wakil kekuasaan kolonial di wilayah itu.

Belanda mendirikan Tangsi Militer di Randangan. Tentara datang dan pergi. Jalan-jalan yang menghubungkan permukiman mulai semakin ramai dilewati. Orang-orang dari Duri, Cakke, Kalosi, Maiwa, dan kampung-kampung di pegunungan membawa hasil bumi. Kopi dan berbagai hasil kebun bergerak turun. Barang kebutuhan sehari-hari bergerak naik.

Wu Rui Jin melihat semua pergerakan itu. Naluri bisnisnya bangkit. 

“Di mana ada Tangsi Militer, di situ akan semakin ramai. Dan yang terpenting, di situ aman dan pasti tempatnya strategis,” bisik Wu Rui Jin pada Tjiu Tjin Hui. Dia ingin meyakinkan istrinya bahwa pilihannya menetap di Enrekang sudah tepat.

Tjiu Tjin Hui tersenyum. Sejak awal wanita ini tak keberatan di bawa ke Enrekang.

Wu Rui Jin seorang pendatang. Tetapi ia juga seorang pedagang.

Dan seorang pedagang tahu bahwa perubahan kekuasaan hampir selalu diikuti perubahan arus manusia dan barang.

Setahun setelah kedatangannya, pada 1907, para penguasa lokal di wilayah Enrekang berhadapan dengan tata kekuasaan baru yang diteguhkan melalui Korte Verklaring. Perjanjian pendek. Tetapi akibatnya panjang. 

Kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda semakin mengakar di Massenrempulu. Wu Rui Jin tidak ikut mengurus pemerintahan. Ia memilih mengurus kehidupan.

Ia berdagang. Toko Baru yang dia buka di pertigaan di Juppandang, semakin ramai.

Hari berganti. Bulan berlalu. Tahun bersilang.

Wu Rui Jin bersama Tjiu Tjin Hui hidup berdampingan warga Enrekang. Bertetangga dengan tentara Belanda. 

Dari ke hari, Chi Sing Kok semakin ramai. Warga Enrekang semakin fasih menyebut Toko Baru. 

Dua tahun setelah menetap di Enrekang, anak mereka lahir. Seorang perempuan. Dua tahun kemudian, lahir anak kedua. Laki-laki. Wu Yong Chun. 

Empat tahun kemudian lahir akan ketiga. Perempuan. Lalu tahun 1918, lahir akan keempat. Lelaki. Diberi nama Wu Yong Ngan. Kelak dikenal sebagai Tuan Kepala.

Wu Yong Ngan masih punya dua adik, laki dan perempuan. 

Keluarga wu Rui Jin semakin besar. Masa liburan menjadi momen paling menyenangkan.

SUASANA TOKO - Tuan Kepala atau Ngo A Ngan Gozal bersama istri dan anak-anak serta keluarga di Toko Baru, Jalan Juppandang, Enrekang, Sulawesi Selatan. Tuan Kepala adalah generasi kedua kehadiran warga Tionghoa di Enrekang.
SUASANA TOKO - Tuan Kepala atau Ngo A Ngan Gozal bersama istri dan anak-anak serta keluarga di Toko Baru, Jalan Juppandang, Enrekang, Sulawesi Selatan. Tuan Kepala adalah generasi kedua kehadiran warga Tionghoa di Enrekang. (Tribun-timur.com/Courtesy: Dokumen Keluarga David Gozal)

Kehi dupan di Toko Baru

Suatu hari di masa liburan, Toko Baru lebih ramai dari biasanya.

Anak-anak dan cucu-cucu berkumpul. Sebagian berdiri di belakang meja dagangan. Sebagian lagi duduk di antara orang-orang dewasa. Seorang anak perempuan kecil digendong di dekat meja. Anak lainnya berdiri di antara tumpukan barang sambil menatap orang-orang yang bercakap-cakap.

Suara mereka bercampur dengan suara pelanggan. Toko tetap buka.

Stoples-stoples besar memenuhi meja. Biskuit, permen, dan aneka penganan tersusun di dalamnya. Di belakang meja, rak-rak kayu penuh dengan barang dagangan. Rokok tersusun di etalase. Barang kebutuhan sehari-hari berjejal hingga ke bagian atas rak.

Tak ada batas yang benar-benar tegas antara toko dan rumah.

Di tempat yang sama orang berjualan, anak-anak bermain, keluarga berkumpul, dan pelanggan datang silih berganti.

Begitulah kehidupan di Toko Baru.

Ketika keluarga besar berkumpul, toko tidak tutup. Kehangatan keluarga justru berpindah ke antara rak-rak dagangan. Pelanggan yang datang seperti ikut masuk ke dalam kehidupan keluarga itu.

Di balik meja, percakapan terus berlangsung. Ada yang melayani pembeli. Ada yang bercanda. Ada yang sekadar duduk memperhatikan. Sesekali seseorang mengeluarkan barang dari rak. Uang berpindah tangan. Barang dibungkus. 

Lalu percakapan yang sempat terputus kembali dilanjutkan. Toko Baru adalah tempat mencari nafkah. Tetapi sekaligus ruang keluarga.

Di sanalah anak-anak Tuan Kepala tumbuh. Mereka mengenal dunia dari balik meja dagangan. Mengenal orang-orang yang datang membeli kebutuhan sehari-hari. Mendengar percakapan orang dewasa. Mengenal wajah pelanggan yang datang berulang kali.

Sebagian pelanggan kemudian menjadi kenalan. Sebagian kenalan menjadi sahabat.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.