Mengintip Dapur Lumbung Padi Nasional, Adu Murah Biaya Hidup Sumatera Selatan vs Jawa Timur
Yandi Triansyah July 20, 2026 03:27 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Label sebagai "lumbung padi" selalu identik dengan hamparan sawah yang subur dan ketahanan pangan yang kuat.

Di Indonesia, Jawa Timur (Jatim) berdiri kokoh sebagai salah satu produsen beras paling raksasa dengan potensi produksi padi mencapai 7,7 juta ton gabah kering giling.

Namun, di luar Pulau Jawa, Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) tidak kalah mentereng.

Bumi Sriwijaya ini sukses menembus jajaran elite bersama Jatim sebagai pilar penopang pangan nasional.

Kedua wilayah ini sama-sama makmur dari sektor agraria. Namun, jika bentang sawah mereka disandingkan dengan realitas meja makan warganya, daerah mana yang sebenarnya menawarkan biaya hidup lebih murah?

Baca juga: Menakar Dompet di Sumsel, 5 Daerah dengan Biaya Hidup Paling Ramah Poket, Ada yang di Bawah Rp1 Juta

Mengukur murah atau mahalnya biaya hidup suatu daerah dapat dilihat dari rata-rata pengeluaran per kapita dalam satu bulan, yang dibagi menjadi dua pembanding utama, sektor makanan dan non-makanan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang diperbarui per 19 Februari 2026, angka-angka statistik mulai menguak isi dompet warga di kedua provinsi lumbung padi ini.

Jawa Timur: Sektor Non-Makanan yang Mulai Membuntuti

Sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di Pulau Jawa, perputaran uang di Jawa Timur terbilang sangat dinamis.

Hal ini berdampak langsung pada rata-rata pengeluaran bulanan masyarakatnya.

Data BPS menunjukkan, rata-rata pengeluaran penduduk di Provinsi Jawa Timur mencapai Rp1.419.140 per kapita dalam sebulan.

Jika dibedah lebih dalam, struktur pengeluaran warga Jawa Timur adalah sebagai berikut:

Pengeluaran Makanan: Rp715.989 per kapita / bulan.

Pengeluaran Non-Makanan: Rp703.152 per kapita / bulan.

Meskipun statusnya sebagai produsen padi terbesar, porsi pengeluaran terbesar warga Jatim rupanya masih tersedot untuk urusan perut (makanan).

Menariknya, angka pengeluaran non-makanan seperti biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan gaya hidup sudah menempel sangat ketat di belakangnya, mencerminkan tingginya biaya komoditas non-pangan di kawasan urban Jawa.

Sumatera Selatan: Lebih Bersahabat di Saku Warga

Beralih ke Sumatera Selatan, pola pengeluaran masyarakatnya memperlihatkan angka yang jauh lebih miring.

Sumsel mencatatkan rata-rata pengeluaran bulanan sebesar Rp1.283.538 per kapita.

Angka belanja bulanan di Bumi Sriwijaya ini terbagi ke dalam dua pos utama:

Pengeluaran Makanan: Rp691.256 per kapita / bulan.

Pengeluaran Non-Makanan: Rp592.283 per kapita / bulan.

Sama halnya dengan Jawa Timur, sektor makanan masih mendominasi struktur pengeluaran masyarakat di Sumsel.

Namun, yang membuat Sumsel keluar sebagai daerah dengan biaya hidup lebih murah adalah efisiensi di sektor non-makanan, yang berselisih cukup signifikan dibandingkan dengan Jawa Timur.

Kesimpulan

Hasil komparasi ini menegaskan bahwa Sumatera Selatan menawarkan biaya hidup yang secara umum lebih murah dan ramah di kantong dibandingkan Jawa Timur.

Selisih total pengeluaran yang mencapai sekitar Rp135 ribu per kapita setiap bulannya tentu menjadi angka yang berarti bagi skala rumah tangga.

Ada fenomena menarik di sini. Di kedua daerah lumbung padi ini, masyarakatnya ternyata sama-sama menghabiskan uang paling banyak untuk sektor makanan.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pasokan beras melimpah di hulu, rantai pasok dan inflasi bahan makanan di hilir tetap menjadi motor penggerak utama pengeluaran masyarakat.

Keunggulan Sumsel terletak pada lebih rendahnya biaya hidup di luar urusan dapur.

Sektor non-makanan di Sumsel yang belum setinggi Jawa Timur memberikan ruang napas lebih lega bagi isi dompet warganya, menjadikan Bumi Sriwijaya tak hanya subur sebagai lumbung pangan, tetapi juga nyaman sebagai tempat bernaung yang ekonomis.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.