TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Zal, seorang pemilik usaha pangkas rambut yang sehari-hari menceritakan tentang pengalamannya sering menyaksikan kecelakaan di rel Lubuk Buaya Padang.
Setiap kali hujan deras mengguyur kawasan Jalan Adinegoro No. 22, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, ia selalu mendengar suara benturan keras dari para pengendara sepeda motor yang tergelincir.
Perlintasan rel kereta api di Jalan Adinegoro No. 22, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, kembali menjadi sorotan.
Meski sempat diperbaiki, lokasi tersebut masih dinilai berbahaya dan terus memakan korban, terutama saat hujan mengguyur kawasan itu.
Warga yang tinggal di sekitar perlintasan berharap pihak terkait segera menghadirkan solusi permanen. Mereka menilai penambalan jalan yang selama ini dilakukan belum mampu menghilangkan potensi kecelakaan.
Baca juga: Membangun Kabupaten Agam Tanpa Meninggalkan Adat, Sebuah Pandangan Perantau untuk Kampung Halaman
Pantauan reporter TribunPadang.com, Fajar Alfaridho Herman di lokasi, Senin (20/7/2026) sekitar pukul 17.30 WIB, kondisi perlintasan rel tampak basah usai diguyur hujan sejak siang hari.
Secara kasat mata, lubang-lubang yang sebelumnya telah diperbaiki memang masih dalam kondisi baik dan belum kembali rusak.
Namun, permukaan besi rel yang licin akibat hujan tetap menjadi ancaman bagi pengendara, khususnya sepeda motor.
Selain itu, posisi permukaan aspal di bagian tengah rel terlihat lebih rendah dibandingkan tinggi besi rel. Kondisi tersebut membuat roda kendaraan harus melewati perbedaan ketinggian saat melintas sehingga meningkatkan risiko ban tergelincir.
Di lokasi, sejumlah pengendara tampak memperlambat laju kendaraan sebelum melintasi rel. Beberapa di antaranya bahkan memilih memiringkan arah sepeda motor agar roda tidak sejajar dengan rel besi.
Baca juga: Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Suhatman Imam Bongkar Borok Argentina di Laga Final
Zal mengaku sudah terbiasa mendengar suara benturan akibat pengendara yang terjatuh di lokasi tersebut.
Menurutnya, kejadian kecelakaan sudah terlalu sering terjadi, terutama ketika hujan turun.
"Kadang saya sedang potong rambut, tiba-tiba terdengar bunyi keras orang jatuh. Sering sekali seperti itu," ujarnya.
Zal mengatakan dirinya ingin membantu para korban yang terjatuh. Namun, karena sedang melayani pelanggan, ia tidak selalu bisa langsung keluar dari tokonya.
"Kadang ingin membantu, tapi bagaimana, sedang ada orang yang dipotong rambut. Apalagi kalau hujan deras, tidak mungkin juga langsung keluar begitu saja," katanya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan perbaikan secara menyeluruh sehingga pengendara tidak lagi menjadi korban.
Baca juga: Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Suhatman Imam Ungkap Konsistensi Jadi Kunci Kalahkan Argentina
Menurutnya, penggunaan konstruksi jalan yang lebih kuat seperti di kawasan Tabing dapat menjadi solusi karena dinilai lebih tahan terhadap beban kendaraan maupun getaran kereta api.
"Kami berharap aspal di dekat rel bisa dibuat seperti yang ada di kawasan Tabing. Setidaknya lebih kuat, lebih tahan lama, tidak cepat turun, dan tidak gampang rusak karena getaran kereta. Yang paling penting, masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban saat melintas di sini," tuturnya.
Salah seorang warga sekitar, Indra, mengatakan hujan mulai mengguyur kawasan tersebut sejak sekitar pukul 13.00 WIB.
Menurutnya, sejak hujan turun hingga sore hari, sudah puluhan pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan di lokasi tersebut.
"Kalau dihitung sejak hujan tadi siang, mungkin sudah sekitar 20 pengendara yang jatuh atau ban motornya slip saat melewati rel ini," kata Indra kepada TribunPadang.com.
Ia menjelaskan, penyebab utama kecelakaan bukan hanya karena permukaan besi rel menjadi licin saat terkena air hujan, tetapi juga dipengaruhi kondisi konstruksi jalan yang belum rata.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar Malam Ini, 12 Wilayah Termasuk Pasaman Barat Siaga Angin Kencang
Menurutnya, permukaan aspal di antara rel lebih rendah dibandingkan besi rel sehingga roda kendaraan mudah kehilangan keseimbangan ketika melintas.
"Kalau hujan, besi rel memang sangat licin. Ditambah lagi posisi aspal di tengah lebih rendah dari rel, jadi motor gampang terpeleset," ujarnya.
Indra menambahkan, pengendara yang belum terbiasa melewati lokasi tersebut memiliki risiko lebih besar mengalami kecelakaan.
"Biasanya orang yang sering lewat sudah tahu caranya. Mereka pelan-pelan dan memiringkan posisi motor supaya roda melintas dengan sudut tertentu. Tapi kalau orang luar atau yang jarang lewat, sering kali langsung jatuh karena tidak tahu kondisi jalannya," katanya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Riki. Ia berharap pemerintah tidak lagi hanya melakukan penambalan ketika jalan mengalami kerusakan.
Menurutnya, kondisi perlintasan membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh agar kecelakaan yang terus berulang dapat dihentikan.
Baca juga: Bukan Kendaraan Operasional, Mobil Pengangkut UPS untuk Acara Tabuik Milik PLN Terbakar di Pariaman
Riki mengusulkan agar konstruksi jalan di sekitar rel menggunakan material seperti yang diterapkan di perlintasan kereta api kawasan Jalan Prof. Dr. Hamka.
Menurutnya, konstruksi tersebut lebih kuat, lebih rata, dan lebih nyaman dilalui kendaraan dibandingkan kondisi yang ada saat ini.
"Kalau hanya ditambal, nanti rusak lagi. Kami berharap ada solusi permanen, misalnya dibuat seperti perlintasan di Jalan Prof. Dr. Hamka. Kondisinya jauh lebih baik," ujarnya.
Selain kondisi jalan, Riki juga menyoroti minimnya penerangan di sekitar lokasi.
Ia mengatakan sejumlah lampu penerangan jalan sudah lama tidak berfungsi sehingga kondisi perlintasan menjadi gelap pada malam hari.
Akibatnya, pengendara yang melintas, terutama dari luar kawasan tersebut, kesulitan melihat posisi rel dan permukaan jalan.
"Kalau malam hari jalannya gelap. Pengendara jadi susah melihat kondisi rel, apalagi kalau hujan. Ini juga sangat membahayakan," katanya. (*)