Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Krisis moneter 1998 tidak hanya mengguncang perekonomian Indonesia, tetapi juga mengubah cara pandang seorang mahasiswa Indonesia yang saat itu sedang menempuh studi di Amerika Serikat.
Di tengah pertanyaan demi pertanyaan mengenai ambruknya nilai rupiah dan rapuhnya sistem ekonomi nasional, ia menyadari bahwa teori ekonomi yang dipelajarinya belum mampu menjelaskan kompleksitas dunia nyata.
Pengalaman itulah yang kemudian membentuk perjalanan akademik Profesor Deddy Priatmodjo Koesrindartoto, Ph.D., hingga akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ekonomi Keuangan di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dalam orasi ilmiahnya, ia menawarkan cara pandang baru bahwa ekonom tidak cukup hanya menjadi pengamat pasar, melainkan harus berperan sebagai perancang sistem yang mampu mencegah krisis.
Lahir di Jakarta pada 3 April 1970, Prof Deddy menempuh pendidikan dasar hingga menengah di berbagai kota sebelum akhirnya diterima di Program Studi Teknik Elektro ITB pada 1988.
Menariknya, meski memulai karier akademik dari dunia teknik, ia justru menjadi Guru Besar pertama dari angkatan Teknik Elektro 1988.
Setelah menyelesaikan pendidikan di ITB, Deddy melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat.
Di sana ia meraih gelar Master of Science di bidang Industrial Engineering dengan minor Ekonomi, kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Department of Economics hingga memperoleh gelar Ph.D. in Economics.
Perjalanan lintas disiplin tersebut membentuk pendekatan khas dalam penelitian dan pengajarannya, yakni menggabungkan cara berpikir rekayasa (engineering) dengan ilmu ekonomi.
Dalam orasinya, Prof Deddy mengenang masa ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi pada 1997–1998, sementara dirinya sedang belajar di Amerika Serikat.
“Saya kerap mendapat pertanyaan dari dosen maupun mahasiswa internasional mengenai penyebab runtuhnya perekonomian Indonesia.Namun, secara teori ekonomi yang saya pelajari saat itu belum mampu memberikan jawaban yang memuaskan,” kata Prof Deddy ketika orasi ilmiah, beberapa waktu lalu.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Amerika Serikat juga menghadapi krisis deregulasi pasar listrik California yang menyebabkan lonjakan harga energi, kebangkrutan perusahaan utilitas, hingga pergantian gubernur.
Dari dua peristiwa tersebut, Deddy mulai mempertanyakan paradigma ekonomi konvensional yang selama ini menjadi dasar berbagai kebijakan publik.
“Banyak model ekonomi terlalu mengandalkan asumsi bahwa pasar akan selalu menemukan keseimbangan secara otomatis. Padahal, realitas menunjukkan bahwa pasar bisa gagal, dimanipulasi, bahkan menimbulkan kerugian besar apabila desain sistemnya tidak diuji secara matang,” ucapnya.
Prof Deddy memperkenalkan gagasan “The Economist as an Engineer”. Menurutnya, ekonom semestinya memiliki peran seperti seorang insinyur yang tidak hanya merancang, tetapi juga menguji kekuatan sistem sebelum digunakan masyarakat.
Ia mengibaratkan seorang insinyur sipil yang tidak mungkin membangun jembatan tanpa melakukan simulasi beban maksimum. Begitu pula dalam penyusunan kebijakan ekonomi.
“Sebelum suatu kebijakan diterapkan, seluruh kemungkinan risiko dan kegagalannya perlu disimulasikan terlebih dahulu agar masyarakat tidak menjadi korban ketika sistem mengalami keruntuhan. Jika insinyur bertugas memastikan jembatan tidak runtuh, maka tugas ekonom seharusnya memastikan sistem kebijakan dan pasar tidak menjatuhkan mereka yang kita layani,” ujarnya.
Sebagai akademisi, Prof Deddy dikenal aktif mengembangkan riset mengenai Behavioral Finance, Risiko Sistemik, Agent-Based Modeling, Financial Technology, hingga pasar karbon.
Ia menilai pendekatan ekonomi modern perlu bergeser dari model konvensional menuju simulasi berbasis ribuan agen dengan perilaku berbeda yang mampu menggambarkan kondisi pasar secara lebih realistis.
Ia memperkenalkan perkembangan terbaru berupa Agentic Cognitive Economics, yaitu model ekonomi yang menggabungkan komputasi, machine learning, hingga Large Language Model (LLM) untuk memahami cara pelaku pasar mengambil keputusan.
Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan membuka peluang bagi para ekonom untuk membangun sistem kebijakan yang lebih adaptif terhadap dinamika dunia nyata.
Selain aktif meneliti, Prof Deddy telah mengabdikan lebih dari dua dekade kariernya di ITB.
Ia saat ini menjabat sebagai dosen SBM ITB sekaligus Ketua Kelompok Keahlian Business Risk and Finance.
Sebelumnya, ia pernah dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, di antaranya Direktur Institutional Development and Planning SBM ITB, Ketua Program Studi Magister dan Doktor Sains Manajemen, Sekretaris Senat SBM ITB, Sekretaris Komisi I Senat Akademik ITB, Kepala Financial Innovation Laboratory, hingga Kepala Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL) ITB.
Di bidang pendidikan, Prof Deddy telah membimbing ratusan mahasiswa. Tercatat sebanyak 83 lulusan Program Sarjana Manajemen, 31 lulusan Magister Sains Manajemen, 37 lulusan MBA, serta delapan doktor berhasil menyelesaikan studi di bawah bimbingannya, termasuk mahasiswa internasional.
Ia juga memimpin maupun terlibat dalam sedikitnya 17 proyek penelitian yang didanai berbagai lembaga nasional dan internasional seperti Kementerian Keuangan, World Bank, Islamic Development Bank, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga internal ITB.
Dedikasi Prof Deddy dalam pendidikan juga membuahkan berbagai penghargaan. Ia menerima penghargaan di bidang pengajaran, penelitian, serta inovasi dari ITB, termasuk penghargaan Ganesha Wira Adiutama 2025.