TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Kobaran api meludeskan lantai tiga Yayasan Pondok Pesantren Al Anwariyah di Blok 4 RT 004/RW 002, Desa Tegal Gubug Lor, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, Senin (20/7/2026) siang.
Kebakaran diduga dipicu instalasi listrik yang tidak standar sehingga api dengan cepat membesar dan menghanguskan ruang istirahat santri hingga merembet ke aula belajar hanya dalam hitungan menit.
Beruntung, saat kebakaran terjadi tidak ada aktivitas belajar maupun santri yang berada di ruangan tersebut.
Akibatnya, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa itu.
Meski demikian, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 200 juta.
Kepala Bidang Kedaruratan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Cirebon, Eno Sudjana mengatakan, laporan kebakaran diterima Pos Damkar Sektor Arjawinangun sekitar pukul 13.40 WIB.
"Setelah menerima laporan, armada dan anggota Regu 2 Sektor Arjawinangun langsung meluncur ke lokasi. Petugas tiba pada pukul 13.53 WIB dan mendapati kondisi api masih cukup besar," ujar Eno melalui keterangan tertulisnya, Senin (20/7/2026) malam.
Menurutnya, petugas segera menggelar dua selang untuk memadamkan kobaran api.
Namun, karena titik api berada di lantai tiga dan terus membesar, Damkar Arjawinangun meminta bantuan dari Pos Sektor Palimanan dan Weru.
"Dikarenakan api cukup besar dan berada di lantai tiga, Pos Sektor Arjawinangun meminta bantuan ke Sektor Palimanan dan Sektor Weru guna meminimalisir api menjalar ke bangunan lainnya serta untuk kebutuhan stok air," ucapnya.
Proses pemadaman berlangsung hingga pukul 14.30 WIB, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan sampai pukul 15.45 WIB untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Berdasarkan keterangan salah seorang pengurus pondok pesantren, api diduga berasal dari instalasi listrik yang tidak standar pada atap berbahan kayu di ruang pengistirahatan santri yang merupakan bangunan semi permanen.
"Api awal diduga dari instalasi listrik yang tidak standar pada atap berbahan kayu di ruangan pengistirahatan santri. Karena angin cukup kencang, api cepat membesar dan menjalar ke aula atau tempat belajar yang berada di sebelah utara lokasi yang terbakar," jelas dia.
Saat kebakaran terjadi, pihak pesantren tidak tinggal diam.
Para santri bersama pengurus berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sambil menunggu kedatangan petugas pemadam kebakaran.
Setibanya di lokasi, petugas langsung memusatkan penyemprotan ke bagian lantai tiga yang telah dipenuhi kobaran api.
Dokumentasi DPKP Kabupaten Cirebon memperlihatkan petugas berjibaku menyemprotkan air ke sisa-sisa atap yang runtuh dan hangus terbakar.
Asap putih masih terlihat mengepul dari bangunan, sementara sejumlah warga menyaksikan proses pemadaman dari area sekitar pesantren.
Video lainnya menunjukkan kondisi ruang yang terbakar dipenuhi puing-puing material hangus dengan dinding menghitam dan atap yang jebol.
Petugas pemadam bersama anggota kepolisian terus menyemprotkan air ke bagian atas bangunan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang tersisa.
Eno mmenyebutkan, akses jalan menuju lokasi yang sempit menjadi salah satu kendala selama proses penanganan kebakaran.
Meski demikian, api berhasil dikendalikan sebelum merembet ke bangunan lain di kompleks pondok pesantren.
Akibat kebakaran tersebut, sejumlah barang ikut terbakar, di antaranya kipas angin, pakaian santri, lemari, toren air, Al-Quran dan pengeras suara (toa).
Luas area yang terbakar mencapai sekitar 240 meter persegi dari total 300 meter persegi di lantai tiga, sedangkan sekitar 60 meter persegi berhasil diselamatkan.
Dalam penanganan kebakaran ini, DPKP Kabupaten Cirebon turut dibantu personel Polsek Arjawinangun, Babinsa Koramil Arjawinangun, pengurus pondok pesantren, para santri, perangkat Desa Tegal Gubug Lor, serta masyarakat sekitar.