Baru Temukan 117 Kasus, Pemkab Bangka Selatan Gencar Deteksi Penderita TBC
Ajie Gusti Prabowo July 21, 2026 04:50 PM

TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan baru menemukan 117 kasus tuberkulosis (TBC) hingga Juni 2026 atau sekitar 26 persen dari target estimasi 455 kasus yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui pembentukan Desa Siaga TBC agar lebih banyak kasus dapat ditemukan sebelum terjadi penularan lebih luas. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, mengatakan target pemerintah bukan sekadar mengobati pasien, melainkan menemukan sebanyak mungkin penderita yang masih belum terdeteksi. Semakin banyak kasus ditemukan maka semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan sehingga potensi penularan dapat ditekan. 

Hingga pertengahan tahun ini, capaian penemuan kasus masih jauh dari estimasi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. "Untuk capaian tahun 2026 kita berhasil menemukan 117 kasus TBC di Kabupaten Bangka Selatan. Kita memang ditargetkan oleh Kementerian Kesehatan untuk menemukan kasus sebanyak-banyaknya," kata Slamet Wahidin, Selasa (21/7).

Slamet Wahidin mengakui, dari 117 kasus yang ditemukan hingga Juni 2026, Puskesmas Toboali mencatat jumlah terbanyak dengan 36 kasus. Puskesmas Airgegas menemukan 12 kasus, sedangkan Puskesmas Payung, Simpang Rimba, Rias dan Tiram masing-masing mencatat 13 kasus. Puskesmas  Batu Betumpang lima kasus, Airbara dan Tanjung Labu masing-masing dua kasus, Puskesmas Pongok satu kasus, serta RSUD Junjung Besaoh tujuh kasus. 

Berdasarkan estimasi insiden Kementerian Kesehatan, Bangka Selatan diperkirakan memiliki 455 kasus TBC sepanjang 2026. Estimasi tersebut terdiri atas wilayah Puskesmas Toboali sebanyak 132 kasus, Airgegas, Payung dan Simpang Rimba masing-masing 78 kasus, Puskesmas Tiram 20 kasus, Rias 18 kasus, Batu Betumpang 15 kasus, Tanjung Labu 14 kasus, Airbara 10 kasus, serta Puskesmas Pongok satu kasus. Data itu menjadi acuan pemerintah dalam mengejar penemuan kasus hingga akhir tahun.

"Harapan kita pada bulan Desember 2026 seluruh estimasi 455 kasus dapat ditemukan," tegas Slamet Wahidin.

Selain mengejar target penemuan kasus, DKPPKB mencatat delapan warga meninggal dunia akibat TBC sepanjang 2026. Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 Bangka Selatan menemukan 285 kasus TBC atau sekitar 54 persen dari target estimasi 528 kasus. Pada tahun tersebut juga tercatat 20 kasus kematian akibat TBC. "Target dari Kementerian Kesehatan menjadi acuan agar seluruh kasus TBC dapat ditemukan dan ditangani," katanya.

Slamet Wahidin menegaskan penanggulangan TBC tidak dapat dilakukan hanya oleh tenaga kesehatan dan puskesmas. Menurutnya, pembentukan Desa Siaga TBC menjadi strategi untuk melibatkan pemerintah desa, kader kesehatan dan masyarakat dalam menemukan kasus, mengawasi kepatuhan pasien minum obat, hingga memastikan penderita sembuh. 

Saat ini tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Bangka Selatan baru sekitar 72 persen sehingga kolaborasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk menekan penularan, terlebih masih ada penderita yang tidak menunjukkan gejala atau menjadi bahaya laten.

"Dengan membentuk Desa Siaga, kita bersama-sama saling mengawasi, menemukan, dan mengobati sampai sembuh, karena masih ada kasus TB yang tidak bergejala dan itu menjadi bahaya laten," pungkas Slamet Wahidin. (u1)

Bentuk Desa dan Kelurahan Siaga TBC
PEMERINTAH Kabupaten Bangka Selatan mulai membentuk Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TBC) sebagai upaya mempercepat penemuan kasus di tengah masyarakat. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan komitmen lintas sektor dengan melibatkan pemerintah desa, kelurahan, kecamatan, hingga berbagai pemangku kepentingan. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, mengatakan kegiatan yang dilaksanakan berupa pertemuan koordinasi lintas sektor untuk membangun komitmen bersama. 

Selain pembentukan Desa Siaga TBC, pemerintah daerah juga mendorong terbentuknya Kampung Bebas Jentik sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit menular dan tidak menular. Sinergi seluruh pihak menjadi pondasi utama agar program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.

"Kami mengundang para kepala desa, lurah, kecamatan, dan para stakeholder untuk membentuk komitmen pembentukan desa siaga TBC dan kampung bebas jentik," kata Slamet Wahidin, Selasa (21/7).

Slamet Wahidin menjelaskan pembentukan Desa Siaga TBC menjadi semakin penting karena Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC. "Penanggulangan kasus TBC ini tidak bisa kita maksimalkan hanya mengandalkan kesehatan dan puskesmas saja," jelas Slamet Wahidin.

Ia menuturkan keberadaan Desa Siaga TBC diharapkan mampu mempercepat proses penemuan kasus di lingkungan masyarakat. Semakin cepat penderita diketahui dan mendapatkan pengobatan, maka peluang penularan kepada orang lain akan semakin kecil. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memutus rantai penyebaran penyakit di tingkat desa.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai gejala, cara penularan, hingga upaya pencegahan TBC dari narasumber yang dihadirkan. "Dengan masyarakat terlibat, masyarakat yang menemukan kasus, mengawasi sampai sembuh, itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Karena kasus TB ini ada juga yang tidak bergejala, karena ini bahaya laten," pungkas Slamet Wahidin. (u1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.