Temui BNPT, Ketum PB MA Ungkap Paham Radikal Lahir dari Pemahaman Agama yang Tidak Utuh
Ferdinand Waskita Suryacahya July 21, 2026 04:52 PM


TRIBUNJAKARTA.COM - Ketua Umum PB Mathla'ul Anwar, Jazuli Juwaini menegaskan pihaknya memiliki tanggung jawab kebangsaan dan kenegaraan. 

Oleh sebab itu, Mathla'ul Anwar siap membangun kerja sama yang berkelanjutan dengan BNPT dalam upaya mencegah dan mengikis paham radikalisme.

"Islam tidak mengajarkan radikalisme. Paham radikal justru lahir dari pemahaman agama yang parsial dan tidak utuh," kata Jazuli dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).

Karena itu, Mathla'ul Anwar berkomitmen untuk terus menumbuhkan semangat bela negara serta memberikan pemahaman keagamaan yang benar demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman radikalisme dan terorisme.

Hal itu disampaikan Jazuli saat Pengurus Besar (PB) Mathla'ul Anwar (MA) melakukan kunjungan silaturahim ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam pencegahan radikalisme, penanggulangan terorisme, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.

Delegasi PB Mathla'ul Anwar dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dr. KH. Jazuli Juwaini, M.A., M.M. didampingi Ketua Majelis Amanah KH. Embay Mulya Syarif, Ketua Majelis Fatwa Prof. Dr. KH. Syibli Sarjaya, Sekretaris Jenderal H. Yanuar Arif Wibowo, S.H., M.I.Pol., serta Bendahara Umum H. Ulfi Khadafi. Rombongan diterima langsung oleh Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono beserta jajaran.

Sementara itu, Ketua Majelis Amanah PB Mathla'ul Anwar, KH. Embay Mulya Syarif, menambahkan bahwa Mathla'ul Anwar merupakan mitra strategis BNPT dalam menyebarkan pemahaman Islam yang moderat. 

Dakwah, menurutnya, harus dilaksanakan dengan prinsip amar ma'ruf bil ma'ruf dan nahi munkar ghaira munkar, sehingga umat Islam dapat terus menjadi perekat persatuan bangsa sekaligus menjaga keutuhan Indonesia.

Ia juga mengapresiasi kerja sama Mathla'ul Anwar dengan BNPT melalui Program Desa Siapsiaga yang telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. 

Program yang dijalankan di Menes ini melalui pembangunan ekosistem pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk bantuan mesin produksi paving block bagi pesantren dan pembangunan jalan desa. 

Kepala BNPT memastikan kerjasama Program Desa Siapsiaga bisa dikembangkan di wilayah lain bersama Mathla'ul Anwar.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal PB Mathla'ul Anwar, H. Yanuar Arif Wibowo, S.H., M.I.Pol., menyampaikan bahwa program deradikalisasi, khususnya pembinaan terhadap eks narapidana terorisme, dapat menjadi salah satu bidang kerja sama konkret antara BNPT dan Mathla'ul Anwar. 

Menurutnya, upaya mitigasi dan pencegahan radikalisme harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan agar mampu membangun ketahanan masyarakat secara berkelanjutan.


Dalam pertemuan tersebut, Kepala BNPT  Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono menegaskan bahwa pencegahan terorisme merupakan amanat undang-undang yang dilaksanakan melalui tiga pilar utama, yakni kesiapsiagaan nasional, kontra-radikalisasi, dan deradikalisasi. 

Oleh karena itu, BNPT memandang Mathla'ul Anwar sebagai mitra strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung penguatan kesiapsiagaan nasional sekaligus pelaksanaan program deradikalisasi di tengah masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, BNPT mengajak Mathla'ul Anwar untuk berpartisipasi aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme. 

Hal ini menjadi semakin penting mengingat ancaman terorisme saat ini bersifat semakin persisten dan adaptif, terutama melalui fenomena self-radikalisasi di ruang digital. Bahkan, propaganda radikalisme kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sehingga menjadi tantangan baru dalam membedakan informasi yang benar dan informasi yang bersifat manipulatif.

Dalam konteks tersebut, menurut Kepala BNPT penguatan ideologi Pancasila, cinta tanah air, serta pembinaan terhadap eks narapidana terorisme harus diperkuat dan itu semua membutuhkan dukungan aktif organisasi masyarakat, termasuk Mathla'ul Anwar.

Sedangkan, Jazuli Juwaini menyampaikan bahwa Mathla'ul Anwar yang didirikan pada tahun 1916 oleh KH. Muhammad Yasin, KH. Tb. Mohamad Soleh, dan KH. Mas Abdurrahman sejak awal telah berkiprah di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial serta turut memberikan kontribusi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Saat ini Mathla'ul Anwar memiliki jaringan satu universitas, sekitar 3.000 madrasah, sekitar 17 juta warga, serta kepengurusan yang tersebar di 28 Pengurus Wilayah. 

Dengan potensi tersebut, Mathla'ul Anwar menyadari bahwa berbagai persoalan kebangsaan hanya dapat diselesaikan melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan.

Silaturahim ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara BNPT dan PB Mathla'ul Anwar dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap penyebaran paham radikalisme, memperkuat nilai-nilai Pancasila, serta menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berita terkait

  • Baca juga: DPRD DKI Minta Pemprov Evaluasi Program Bantuan Pangan Murah, Soroti Kuota dan Kendala Teknis

  • Baca juga: Usai Cekcok di Jalan, Anggota DPRD DKI dan Polantas Sepakat Berdamai Saling Memaafkan

  • Baca juga: Komisi A DPRD DKI Jakarta Desak Realisasi Program Satu RT Satu APAR Dipercepat 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.