Gedung SDN di Kebayoran Lama Rusak Tak Kunjung Direnovasi, Komisi E Ungkap Penyebabnya
Satrio Sarwo Trengginas July 21, 2026 04:52 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Gedung SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Jakarta Selatan rusak tak kunjung diperbaiki, efisiensi anggaran jadi kendala program pembangunan sekolah di Jakarta tersendat. 

Hal ini diungkapkan Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta M. Subki, dia mengaku, pihakya mengetahui kabar bangunan SD Negeri di Jakarta Selatan itu rusak sudah cukup lama. 

"Iya, itu kan memang bangunan udah tua, atapnya juga udah kurang bagus. Ditambah waktu itu kan ada 2024 tuh kejadiannya tuh, banjir dan hujan besar. Jadi makanya rusak ya," kata Subki. 

Menurut Subki, alasan perbaikan tertunda akibat efisiensi anggaran. Pemprov DKI Jakarta selama beberapa tahun terakhir tidak menganggarkan program pembangunan sekolah. 

"Sudah. Sudah, sudah menyampaikan rencana anggarannya. Tapi kan hari ini kan efisiensi, kita enggak ada pembangunan sekolah baru. Enggak bisa bangun sekolah baru. Tapi mudah-mudahan di tahun besok sudah diprioritaskan deh, Insya Allah," jelas dia. 

Meski berada di area Jaksel, ternyata bangunan sekolah tersebut dibiarkan ambruk selama dua tahun dan tak ditangani sama sekali.

Akibatnya, siswa harus menumpang ke sekolah lain untuk bisa mengikuti kegiatan pembelajaran selama ini.

Salah seorang wali murid kelas V SDN Kebayoran Lama Selatam 09, Evi (33) menceritakan kronologi awal ambruknya gedung sekolah tersebut.

Peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba saat momen libur Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 27 November 2024 atau dua tahun lalu.

"Awalnya itu kejadian pas libur Pilkada, jadi nggak ada yang tahu, penjaga sekolah pun nggak tahu. Warga sekitar aja yang tahu, pagi-pagi sekitar jam 06.30 atau 07.00 WIB, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba roboh," ujar Evi saat ditemui di lokasi, Selasa (21/7/2026).

Evi menjelaskan, proses robohnya bangunan berlangsung secara bertahap.

Pada pagi hari, struktur atap dan tembok mulai miring, hingga akhirnya runtuh total saat hujan deras mengguyur pada sore harinya.

Total terdapat lima ruangan yang hancur dalam insiden tersebut.

"Empat kelas sama satu UKS, jadi lima ruangan. Langsung seperti itu (hancur), makanya dua tahun ya terbengkalai begini aja.

Dari sekolah sudah lapor ke Dinas Pendidikan, cuma memang sampai saat ini belum ada kepastian," tuturnya.

Pantauan TribunJakarta.com di lokasi, ruangan kelas yang ambruk berada di sisi kanan sekolah.

Meskipun sudah terjadi hampir dua tahun lalu, bagian yang ambruk sama sekali belum dibersihkan.

Genteng dan rangka baja ringan masih terlihat berantakan di dalam ruang kelas.

Siswa Numpang Sekolah Siang

Dampak dari terbengkalainya bangunan ini membuat ratusan murid SDN Kebayoran Lama Selatan 09 harus menumpang belajar di gedung SDN Kebayoran Lama Selatan 11.

Karena menumpang, jadwal belajar mengajar terpaksa digeser menjadi siang hari, yakni dari pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Kondisi tersebut membawa dampak besar bagi jam aktivitas anak-anak, terutama untuk pendidikan agama di sore hari.

"Anak-anak yang tadinya ngaji sekarang jarang yang ngaji. Sudah dua tahun tidak ngaji lagi, karena kan ngaji biasanya habis Asar. Kita di sini pulang sekolah jam 5 sore. Aktivitas agama jadinya tak nyaman, belajar pun tak nyaman karena masuk siang," keluh Evi.

Bahkan demi bisa belajar di pagi hari, sejumlah wali murid kelas 2 sepakat agar anak-anak mereka belajar di area musala sekolah.

"Kemarin orang tua murid kelas 2 minta 'nggak apa-apa deh masuk sekolah pagian tapi di musala', agar anak-anak yang masih kecil ini dapat pendidikan agamanya. Yang penting tetap masuk pagi," tambah Evi.

Ratusan Siswa Pilih Pindah Sekolah

Ketidakpastian perbaikan gedung yang tak kunjung terealisasi selama dua tahun ini memicu kekecewaan mendalam dari para orang tua murid. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain.

Akibatnya, jumlah murid di sekolah tersebut merosot drastis.

Evi menyebutkan, kuota murid baru pada tahun ajaran ini bahkan tidak memenuhi standar.

"Banyak orang tua memindahkan anaknya karena memang nggak ada kepastian.

Tahun ini pun yang masuk tidak memenuhi standar.

Harusnya satu kelas 32 siswa untuk dua kelas, tapi yang kita dapat totalnya cuma 38 siswa," terangnya.

Berita terkait

  • Baca juga: Pramono Genjot Program Bedah Rumah di Jakarta, 633 Hunian Warga Ditarget Rampung pada 2026
  • Baca juga: Ironi Pendidikan di Jaksel, SD Negeri Dibiarkan Ambruk Dua Tahun: Murid Harus Numpang Sekolah Lain
  • Baca juga: Bocah SD Respons Pidato Prabowo, Sampaikan Nasihat soal Cara Pemimpin Berbicara

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.