Pemda DIY Kampanyekan Becak Listrik Gratis di Malioboro dan Uji Coba Sistem Digitalisasi
Joko Widiyarso July 21, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Perhubungan DIY kembali menyelenggarakan layanan becak listrik gratis bagi warga dan wisatawan di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, pada Selasa (21/7/2026).

Program yang dibiayai melalui Dana Keistimewaan ini dilaksanakan sebagai bentuk kampanye pengoperasian moda transportasi tradisional ramah lingkungan sekaligus uji coba sistem digitalisasi pembayaran bagi para pengemudi becak.

Layanan operasional gratis tersebut dipusatkan di Pos Gumaton yang berlokasi di eks lahan Parkir Abu Bakar Ali, Jalan Abu Bakar Ali, Kelurahan Suryatmajan, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta. Kegiatan bertajuk kampanye kendaraan tradisional ini berlangsung selama empat jam, mulai pukul 14.00 hingga 18.00 WIB. 

Secara keseluruhan, Dinas Perhubungan DIY mengalokasikan program ini sebanyak sembilan kali dalam kurun satu tahun anggaran 2026 yang dijadwalkan secara rutin setiap pasaran Selasa Wage, di mana gelaran pada Selasa (21/7/2026) merupakan pelaksanaan yang keempat kalinya.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan DIY Wulan Sapto Nugroho menjelaskan bahwa seluruh pembiayaan kampanye ini didukung penuh oleh Dana Keistimewaan. 

"Jadi tahun ini kami mendapat support dari Dana Keistimewaan untuk kegiatan kampanye kendaraan tradisional. Dalam satu tahun ini ada sembilan kali. Hari ini yang keempat, kami laksanakan setiap Selasa Wage," ujar Wulan.

Wulan menyampaikan bahwa program becak listrik gratis tersebut mengusung dua sasaran utama.

Pertama, pemberdayaan ekonomi pengemudi becak, khususnya bagi para penarik becak kayuh yang telah mendapatkan bantuan konversi becak listrik dari pemerintah. 

Kedua, memberikan edukasi serta menginformasikan kepada publik bahwa kawasan cagar budaya Malioboro kini telah dilengkapi dengan moda transportasi ramah lingkungan yang nyaman.

Dalam skema ini, Pemerintah Daerah menyewa secara penuh (booking) para pengemudi becak selama empat jam operasional agar mereka dapat memberikan pelayanan cuma-cuma kepada para pengunjung.

"Tujuannya pertama memberdayakan teman-teman pengemudi becak, khususnya becak kayuh yang kemarin dapat bantuan becak listrik. Kemudian yang kedua, tujuannya juga untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa saat ini di Malioboro sudah ada becak listrik. Sehingga di tahap kampanye ini memang kami gratiskan, istilahnya kami mem-booking para pengemudi becak ini, kemudian kami sewa dalam waktu jam 2 sampai jam 6, untuk memberikan layanan kepada masyarakat secara gratis," tutur Wulan.

Dishub DIY gandeng koperasi 

Pada setiap agenda pelaksanaan, Dinas Perhubungan DIY bekerja sama dengan pihak koperasi untuk menyiagakan sebanyak 50 unit becak listrik. 

Armada tersebut berkumpul dan bersiaga di titik awal kawasan utara Malioboro untuk melayani calon penumpang secara bergiliran. 

Tingkat partisipasi masyarakat dan wisatawan menunjukkan tren kenaikan yang signifikan dari gelaran awal hingga ketiga yang berhasil melayani lebih dari 100 orang penumpang.

"Alhamdulillah yang pertama itu masih sedikit, kemudian yang kedua agak banyak. Kemarin yang ketiga itu dari kami jam 2 sampai jam 6 sore penumpangnya sudah ada lebih dari 100 orang. Mudah-mudahan hari ini yang keempat nanti bisa naik lagi untuk jumlah penggunanya," kata Wulan.

Mengenai alur pelayanan, masyarakat yang ingin memanfaatkan fasilitas ini cukup mendatangi Pos Gumaton di eks Parkir Abu Bakar Ali. Calon penumpang kemudian melapor kepada panitia, melakukan pendaftaran sesuai petunjuk petugas, dan mengantre secara tertib sebelum naik ke armada becak. 

Setiap unit becak rata-rata mampu melakukan dua hingga tiga kali putaran perjalanan. Adapun rute lintasan yang ditempuh dimulai dari Pos Gumaton menuju ke selatan sepanjang Jalan Malioboro hingga kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, berbelok ke timur melintasi Jalan Mataram, lalu kembali mengarah ke utara menuju titik semula di ujung Malioboro.

Di samping menyajikan layanan gratis, agenda ini dimanfaatkan Dinas Perhubungan DIY untuk menguji coba sistem digitalisasi pencatatan dan pembayaran.

Sistem berbasis pindaian kode batang (scan barcode) tersebut bukan berupa aplikasi mandiri yang harus diunduh penumpang, melainkan sebuah formulir sistem pendaftaran di mana petugas atau pengemudi menginput nama penumpang serta nomor lambung becak. Setelah data terisi, sistem secara otomatis akan menampilkan simulasi rute serta rincian angka tarif perjalanan.

"Hari ini selama uji coba teman-teman sudah kita bekali semacam sistem pembayaran, bukan aplikasi. Untuk daftar itu nanti sudah by system, modelnya scan barcode, kemudian input nama dan nomor becaknya, setelah itu muncul angka-angka tarifnya. Harapannya ke depan teman-teman koperasi ini mengelola sendiri sistem pembayaran ini, mereka bisa menentukan tarif sesuai ketentuannya dan menerima pembayaran baik tunai maupun nontunai seperti QRIS," jelas Wulan.

Terkait penataan tarif harian di luar masa kampanye gratis, Wulan menerangkan bahwa kewenangan teknis regulasi, penetapan tarif, zonasi, serta rute operasional becak merupakan wewenang Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta.

Saat ini, skema penetapan tarif harian becak di lapangan masih bertumpu pada kesepakatan atau tawar-menawar antara pengemudi dan penumpang karena Peraturan Wali Kota yang mengatur standar tarif resmi belum diterbitkan.

Melalui digitalisasi dan penguatan tata kelola koperasi, Pemda DIY berharap pengoperasian becak listrik di Yogyakarta menjadi makin teratur, transparan, dan berkelanjutan.
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.