PBNU Merespon Saat Gus Kikin Diutus PWNU Jatim Maju Caketum PBNU di Muktamar Ke-35
Dyan Rekohadi July 21, 2026 09:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merespons positif dukungan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang mencalonkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU.

Apresiasi terbuka itu disampaikan untuk menegaskan ketersediaan figur-figur mumpuni di tubuh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.

Langkah ini sekaligus meredam spekulasi politik jamiyah menjelang perhelatan akbar permusyawaratan tertinggi NU di Tambakberas, Jombang.

Kesiapan para ulama terbaik bangsa untuk memimpin pun dipandang sebagai energi positif bagi keberlanjutan masa depan Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Pernyatan Resmi Gus Kikin Siap Maju Jadi Calon Ketum PBNU, Tak Mampu Menolak Perintah Kiai

 

PBNU Tegaskan NU Tidak Defisit Kader

Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar Ke-35 NU, Prof. Mohammad Nuh, mengatakan semakin banyak kader yang bersedia mengabdikan diri untuk memimpin organisasi merupakan hal yang positif.

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan NU memiliki banyak tokoh yang layak memimpin organisasi.

Sebelum Gus Kikin, ada beberapa tokoh NU yang sebelumnya juga menyatakan kesiapan maju sebagai kandidat Calon Ketua Umum PBNU.

"Siapa pun yang berkeinginan mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk mengelola Nahdlatul Ulama tentu kami sambut baik. Artinya kita tidak defisit kandidat. Banyak kader NU yang memiliki potensi menjadi pemimpin," ujar Prof. Nuh saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (21/7/2026).

Baca juga: Breaking News : Pengasuh Tebuireng, Gus Kikin Resmi Diusung jadi Calon Ketum PBNU oleh PWNU Jatim

 

Proses Pemilihan Ketum PBNU

Prof M Nuh menegaskan, dukungan dari PWNU maupun PCNU kepada tokoh tertentu merupakan bagian dari dinamika organisasi menjelang Muktamar.

Namun, seluruh proses pemilihan tetap akan berjalan sesuai mekanisme yang telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.

Prof. Nuh menjelaskan, sebelum penetapan Ketua Umum PBNU, Muktamar terlebih dahulu menetapkan Rais Aam melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Dalam proses itu, PCNU dan PWNU mengusulkan sembilan ulama atau kiai sepuh untuk menjadi anggota AHWA.

Kesembilan anggota AHWA kemudian bermusyawarah menetapkan Rais Aam.

Sosok yang dipilih dapat berasal dari anggota AHWA maupun di luar daftar itu sesuai hasil musyawarah.

 

Peluang Perubahan Mekanisme dan Kepemimpinan Kolektif


Sementara itu, mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU berpotensi mengalami perubahan.

Pada muktamar sebelumnya, setiap PCNU dan PWNU hanya mengusulkan satu nama calon.

Namun, hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) NU pada Juni lalu memberikan alternatif agar setiap pemilik hak suara dapat mengusulkan lebih dari satu nama.

Usulan itu masih akan dibahas dan diputuskan dalam Muktamar Ke-35 NU.

"Jumlahnya masih belum ditetapkan. Bisa tiga, lima, tujuh, atau sembilan nama. Nanti seluruh usulan ditabulasi, lalu nama-nama yang memperoleh dukungan terbanyak diserahkan kepada Rais Aam bersama AHWA untuk menetapkan Ketua Umum PBNU," jelas Prof. Nuh.

Menurutnya, skema itu mencerminkan arah baru kepemimpinan NU yang lebih mengedepankan kolektivitas dibanding kepemimpinan individual.

Perubahan itu dipandang perlu karena tantangan organisasi semakin kompleks dan membutuhkan kerja bersama.

"Kenapa ini perlu digeser? Karena kompleksitas persoalan yang kita hadapi sekarang tidak cukup ditangani dengan pendekatan individual leadership, tetapi lebih kepada collective leadership," tegasnya.

Baca juga: Profil Gus Kikin, Pengasuh Tebuireng yang Resmi Diusung Jadi Calon Ketua Umum PBNU 2026

 

Pengusungan Resmi dari Kiai Jawa Timur


Sebelumnya, kalangan kiai dan pengurus Nahdlatul Ulama di Jawa Timur resmi mengusung Ketua PWNU Jatim. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU yang akan digelar di Tambakberas, Jombang, akhir Agustus mendatang.

Keputusan itu diambil dalam pertemuan PWNU Jatim bersama PCNU se-Jawa Timur di Kantor PWNU Jatim, Selasa (21/7/2026).

Gus Kikin yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dinilai memiliki kapasitas dan rekam jejak yang layak untuk memimpin PBNU.

"PWNU Jatim menugaskan KH Abdul Hakim Mahfudz untuk menjadi kandidat Ketua Umum PBNU di Muktamar Ke-35," kata Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Abd Matin Djawahir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.