TRIBUNJATIMTIMUR.COM, PASURUAN – Kabupaten Pasuruan ditetapkan sebagai salah satu daerah percontohan penerapan sistem closed barn atau kandang semi tertutup dalam upaya meningkatkan produksi susu segar nasional.
Inovasi peternakan modern ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas sapi perah, memperkuat pasokan susu dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor susu.
Program tersebut diimplementasikan Nestlé Indonesia di KUD Dadi Jaya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
Sekaligus bersamaan dengan penyerahan 90 ekor sapi perah impor kepada tiga koperasi susu di Jawa Timur, KUD Dadi Jaya Purwodadi, Koperasi SAE Pujon Malang, dan KUD Sumber Makmur Ngantang, Selasa (21/7/2026) siang.
Baca juga: Jember Tuan Rumah Festival UMKM 2027, Pelaku Usaha Dipermudah Akses Modal dan Perizinan
Langkah itu merupakan bagian dari penguatan ekosistem persusuan nasional melalui modernisasi peternakan rakyat, peningkatan kualitas genetik ternak, serta penguatan kapasitas koperasi dan peternak.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, peningkatan produksi susu dalam negeri membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, koperasi, peternak, dan dunia usaha.
Menurutnya, upaya modernisasi peternakan seperti penerapan closed barn menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas susu sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kami mengapresiasi komitmen Nestlé Indonesia yang selama puluhan tahun membangun kemitraan dengan peternak sapi perah rakyat,” katanya.
Model kolaborasi seperti ini, kata dia, perlu terus diperkuat agar mampu meningkatkan produktivitas, kualitas susu segar, sekaligus kesejahteraan peternak.
Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, menyambut baik dipilihnya Kabupaten Pasuruan sebagai lokasi implementasi teknologi tersebut.
Menurutnya, Pasuruan memiliki potensi besar karena menjadi salah satu sentra penghasil susu segar terbesar di Jawa Timur.
Mas Rusdi, sapaan akragjya mengatakan, modernisasi peternakan menjadi kebutuhan di tengah meningkatnya permintaan susu nasional dan terbatasnya lahan peternakan.
“Susu merupakan komoditas strategis yang berperan penting dalam pemenuhan gizi masyarakat sekaligus menjadi sumber penghidupan peternak,” terangnya.
Kehadiran sistem closed barn, lanjut dia, menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas, kualitas susu, dan kesejahteraan peternak.
Corporate Affairs Director Nestlé Indonesia Fajar Dewantara menjelaskan, penguatan sektor persusuan telah menjadi komitmen perusahaan selama lebih dari 50 tahun.
Saat ini, Nestlé Indonesia bermitra dengan 28 koperasi dan lebih dari 12 ribu peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur.
Berbagai program terus dikembangkan, mulai dari pendampingan peternak, penguatan koperasi, pemanfaatan teknologi, hingga modernisasi sistem peternakan.
“Penerapan closed barn dan penyerahan sapi perah impor merupakan bagian dari upaya kami meningkatkan produktivitas serta kualitas susu segar nasional,” tambahnya.
Disampaikan dia, dengan program ini, Nestle ingin membangun rantai pasok susu yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Sistem closed barn dirancang untuk menciptakan lingkungan kandang yang lebih nyaman dan terkontrol melalui pengaturan suhu, kelembapan, serta sirkulasi udara menggunakan cooling pad dan exhaust fan.
Teknologi tersebut membantu mengurangi heat stress pada sapi perah sehingga pola makan, konsumsi air, dan waktu istirahat ternak menjadi lebih optimal.
Sustainable Agri Advisor Nestlé Indonesia Syahrudi menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kesehatan ternak, performa reproduksi, serta peningkatan produksi susu.
Berdasarkan hasil penerapan di lapangan, sistem closed barn mampu meningkatkan produktivitas susu hingga lebih dari 20 persen dibandingkan kandang konvensional.
“Dengan lingkungan kandang yang lebih nyaman, potensi genetik sapi dapat dimaksimalkan sehingga produktivitas dan kualitas susu meningkat,” jelasnya.
Sejak diperkenalkan pada 2023, Nestlé Indonesia telah mendukung pembangunan lebih dari 50 unit closed barn di enam wilayah Jawa Timur, yakni Pasuruan, Malang, Probolinggo, Ponorogo, Jombang, dan Blitar.
Selain mengembangkan sistem kandang modern, Nestlé Indonesia juga menyerahkan 90 ekor sapi perah impor kepada tiga koperasi sebagai bagian dari program peningkatan kualitas genetik ternak.
Perusahaan juga mendukung program inseminasi buatan melalui penyerahan imported straw atau semen beku sapi Friesian Holstein unggul untuk mempercepat pengembangan populasi sapi perah nasional.
Ketua KUD Dadi Jaya Purwodadi Nurianto mengatakan penerapan closed barn telah memberikan dampak positif bagi peternak anggota koperasi.
Selain meningkatkan kenyamanan ternak, sistem tersebut juga berpengaruh terhadap peningkatan produksi susu. Penambahan sapi perah impor pun diharapkan semakin memperkuat kualitas genetik ternak yang dimiliki peternak.
“Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut sehingga semakin banyak peternak yang mampu mengadopsi teknologi modern dan meningkatkan produktivitas usahanya,” ujarnya.
Saat ini, Nestlé Indonesia menyerap susu segar senilai lebih dari US$60 juta setiap tahun dari peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur. Melalui penguatan teknologi, peningkatan kualitas ternak, dan kemitraan berkelanjutan, Pasuruan diharapkan menjadi model pengembangan peternakan modern yang mampu memperkuat pasokan susu segar nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor susu.
(Galih Lintartika/TribunJatimTimur.com)