Proses Konstruksi Dimulai, Bahlil Ingatkan Blok Masela Bukan Proyek APBD, Jangan Main KKN!
Mesya Marasabessy July 21, 2026 09:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

SAUMLAKI, TRIBUNAMBON.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melontarkan peringatan keras kepada seluruh pemangku kepentingan di Maluku menjelang dimulainya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela. 

Di hadapan Gubernur Maluku, Bupati Kepulauan Tanimbar, Bupati Maluku Barat Daya, jajaran SKK Migas, hingga manajemen INPEX, Bahlil meminta PSN senilai ratusan triliun rupiah itu dijaga dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). 

Menurutnya, Blok Masela bukan proyek pemerintah daerah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu. 

“Saya titip kepada Gubernur, Bupati, semua pihak ini bukan pake APBD. Jangan ada praktik-praktik KKN. Jangan titip-titip tim sukses, jangan titip keluarga kalau memang tidak memenuhi syarat. Semua harus profesional,“ tegas Bahlil. 

Baca juga: TNI-Polri Diminta Kawal PSN Blok Masela, Investasi Rp376 Triliun Harus Aman

Baca juga: Kasus Viral Pengeroyokan Pelajar di Penginapan Ambon: Tiga Tersangka Segera Diserahkan ke Jaksa

Ia mengatakan keberhasilan blok masalah akan menjadi wajah baru investasi Indonesia di mata dunia.

Karena itu, seluruh proses harus dijalankan secara transparan dan profesional. 

Bahkan diingatkan , proyek ini merupakan investasi besar yang telah dinantikan selama lebih dari dua dekade sejak 1990an. 

Pemerintah tidak ingin momentum tersebut ternoda oleh kepentingan pribadi yang justru menghambat pembangunan. 

Sebab masyarakat Maluku dan Indonesia secara keseluruhan akan memperoleh manfaat jauh lebih besar apabila proyek berjalan sesuai aturan, dibandingkan jika hanya menguntungkan segelintir orang.

“Yang kita kejar adalah manfaat jangka panjang bagi masyarakat, bukan keuntungan sesaat,” ujarnya. 

Lapangan Abadi di Blok Masela sendiri merupakan lapangan gas Laut Dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia. 

Lokasinya berada kurang lebih 180 km lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter.

Sisi Selatan Blok Masela beririsan dengan perbatasan wilayah laut Indonesia-Australia dengan letak Blok seluruhnya berada di wilayah Indonesia. 

Blok Masela diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 20,95 miliar atau sekitar Rp. 376 triliun (kurs Rp. 17.950).

Pemerintah memperkirakan pembangunan proyek akan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung selama masa konstruksi. 

Sementara saat memasuki fase operasi, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai 800 hingga 1.000 orang, dengan komitmen mengutamakan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi.

Proyek ini dikembangkan oleh konsorsium yang dipimpin INPEX bersama PT. Pertamina Hulu Energi dan PETRONAS melalui skema produksi gas alam cair (LNG), gas pipa, serta penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).

Dengan besaran kepentingan yang dimiliki yakni, INPEX Masela, Ltd 65,0 persen, Pertamina 20,0 persen, Petronas 15,0 persen. 

Masa berlaku Kontrak Kerjasama (PSC) adalah dari tahun 1998 hingga 2055.

Lapangan dengan cadangan gas terbesar di Indonesia ini direncanakan menghasilkan 9,5 Juta Ton per Tahun (MTPA) LNG, 150 Juta Kaki Kubik Standar per Hari (MMSCFD) gas pipa, dan 35.000 barel/hari kondensat. 

Konsep pengembangan lapangan hijau yang kompleks mencakup sistem pengeboran dan produksi bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas ekspor sekitar 175 km dan Kilang LNG darat. 

Blok Masela direncanakan menghasilkan LNG bersih melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung keberlanjutan di era transisi energi.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.