Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
SAUMLAKI, TRIBUNAMBON.COM - Pemerintah meminta aparat keamanan ikut mengawal pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela agar investasi raksasa tersebut berjalan tanpa gangguan.
Permintaan itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, saat groundbreaking LNG Abadi di Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.
Baca juga: Kasus Viral Pengeroyokan Pelajar di Penginapan Ambon: Tiga Tersangka Segera Diserahkan ke Jaksa
Baca juga: Gubernur Hendrik Apresiasi PPI Amerop, Dorong Promosi Banda dan Maluku ke Kancah Internasional
Menurut Bahlil, dengan besaran nilai investasi mencapai US$ 20,95 miliar atau sekitar Rp. 376 triliun (kurs Rp. 17.950), membutuhkan kepastian keamanan sejak tahap konstruksi hingga produksi berlangsung.
“Saya minta TNI dan Polri ikut mengawal proyek ini. Ini investasi besar, jangan sampai ada gangguan yang membuat investor tidak nyaman,” katanya.
Ia menegaskan, keamanan merupakan salah satu faktor utama yang menjadi pertimbangan investor dalam menanamkan modal.
Karena itu pemerintah berharap sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, masyarakat lokal, dan perusahaan terus diperkuat agar pembangunan berjalan sesuai target.
Selain memberikan rasa aman bagi investor, pengamanan proyek juga dinilai penting untuk menjaga iklim investasi di Maluku agar semakin dipercaya oleh investor internasional.
Bahwa kedepan kata Bahlil, keberhasilan Blok Masela akan membuka peluang investasi baru di sektor energi maupun industri hilirisasi.
“kalau proyek sebesar ini berhasil, investor lain pasti melihat Maluku sebagai daerah yang layak untuk berinvestasi,” ujarnya.
Diketahui, proyek Lapangan Abadi Blok Masela sendiri merupakan gas Laut Dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia.
Lokasinya berada kurang lebih 180 km lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter.
Sisi Selatan Blok Masela beririsan dengan perbatasan wilayah laut Indonesia-Australia dengan letak Blok seluruhnya berada di wilayah Indonesia.
Pemerintah memperkirakan pembangunan proyek akan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung selama masa konstruksi.
Sementara saat memasuki fase operasi, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai 800 hingga 1.000 orang, dengan komitmen mengutamakan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi.
Lapangan dengan cadangan gas terbesar di Indonesia itu direncanakan menghasilkan 9,5 Juta Ton per Tahun (MTPA) LNG, 150 Juta Kaki Kubik Standar per Hari (MMSCFD) gas pipa, dan 35.000 barel/hari kondensat.
Konsep pengembangan lapangan hijau yang kompleks mencakup sistem pengeboran dan produksi bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas ekspor sekitar 175 km dan Kilang LNG darat.
Blok Masela direncanakan menghasilkan LNG bersih melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung keberlanjutan di era transisi energi.
Proyek ini dikembangkan oleh konsorsium yang dipimpin INPEX bersama PT. Pertamina Hulu Energi dan PETRONAS melalui skema produksi gas alam cair (LNG), gas pipa, serta penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).
Dengan besaran kepentingan yang dimiliki yakni, INPEX Masela, Ltd 65,0 persen, Pertamina 20,0 persen, Petronas 15,0 persen.
Masa berlaku Kontrak Kerjasama (PSC) dari tahun 1998 hingga 2055. (*)