Tujuh Rapai Generasi Muda dan Puluhan Rapai Pase Pusaka Siap Gentarkan Malam Duel Akbar Aceh Utara
Faisal Zamzami July 21, 2026 10:03 PM

 

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Dari 50 rapai yang digantung di seung (arena uroeh/pertandingan) di Desa Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (25/7/2026) malam, tujuh di antaranya adalah karya generasi muda atau Gen Z.

Sedangkan selebihnya adalah rapai pusaka ternama peninggalan leluhur yang diperkirakan telah berusia dua abad. Rapai tersebut selama ini menjadi kebanggan masing-masing grup di Aceh Utara.

Pertunjukan budaya bertajuk "Gemuruh Warisan, Harmoni Peradaban" itu akan mempertemukan dua kawasan budaya besar Aceh Utara, yakni Blah Deh Krueng (wilayah Tengah-Timur) melawan Blah Nou Krueng (wilayah Tengah-Barat) dalam sebuah uroeh atau pertandingan Rapai Pase yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa Kesultanan Samudera Pasai.

Selain menjadi tontonan budaya, duel akbar tersebut merupakan bagian dari upaya pelestarian Warisan Budaya Rapai Pase yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad di Aceh Utara.

Menariknya, di tengah dominasi rapai-rapai tua tersebut, pertunjukan kali ini juga menghadirkan tujuh karya generasi muda.

Rapai-rapai baru itu diberi nama Raja Paya Reukam, Raja Jamok, Tualang Muda, Tualang Buket Asee Grah, Tualang Karu, Tualang Meu Pep-Pep, Putroe Bunthok.

Rapai tersebut merupakan karya Hammadi, Ketua Grup Rapai Raja Mulieng Kecamatan Syamtalira Aron bersama anggota grup rapai tersebut, dari pohon tualang.

Pemuda yang akrab disapa Adi itu merupakan putra Syekh Muhammad IB atau Syekh Amat IB, salah seorang tokoh Rapai Pase di Aceh Utara.

Selain mampu membuat baloh atau badan rapai, Adi juga memiliki keahlian memasang membran atau kulit rapai menggunakan peralatan modifikasi hasil rancangannya bersama sang ayah yang juga berprofesi sebagai tukang serta pelatih rapai pase.

Baca juga: Dari Rapai Karya Gen Z hingga Warisan Leluhur Abad 18 Siap Gentarkan Malam Duel Akbar 50 Rapai Pase

Di sela aktivitasnya sebagai awak rapai dan pekerja bangunan, Adi berhasil membuat tujuh rapai baru dalam kurun satu tahun terakhir.

Banyak awak rapai yang meragukan kualitas suara rapai yang diproduksi di era digital. Karena itu, duel itu bukan hanya pertandingan biasanya, tapi sekaligus untuk memberikan jawaban terhadap keraguan warga.

Karena ketujuh rapai baru tersebut belum pernah diturunkan dalam pertandingan di tempat lain secara sekaligus.

"Rapai baru itu sudah beberapa kali kami turunkan dalam sejumlah uroeh. Baru-baru ini juga kami turunkan di Matang Keupula, Kecamatan Madat, Aceh Timur, tapi tidak semua dan bergiliran," ujar Hammadi kepada Serambinews.com, Selasa (21/7/2026).

Keberhasilan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa regenerasi perajin Rapai Pase masih terus berlangsung.

Di tengah kekhawatiran semakin berkurangnya pembuat rapai tradisional, lahirnya karya-karya baru dari generasi muda memberi harapan bagi keberlanjutan warisan budaya tersebut.

Koordinator wilayah Tengah-Barat Aceh Utara (Blah Nou Krueng), Syekh Muhammad IB atau Syekh Amat, mengatakan seluruh rapai yang akan diturunkan telah dipersiapkan secara maksimal.

Menurutnya, seluruh membran atau kulit rapai telah diganti agar menghasilkan kualitas suara terbaik saat pertandingan berlangsung.

Persiapan tersebut juga menjadi bagian dari proses pemulihan setelah sebagian rapai mengalami kerusakan akibat banjir besar yang melanda Aceh Utara pada akhir November 2025.

"Sudah siap kita turunkan, bahkan kita juga memiliki rapai cadangan," ujarnya.

Sebanyak 25 rapai akan memperkuat kubu Blah Nou Krueng, yakni , Tualang Tuha, Si Cumeh, Si Mane, Raja Nago, Tualang Bade, Tualang 40, Bhom Racon, Boh Beureutoh, Jen Afret, Bantayan, Petou, Raja Siwah, Tualang Kaca, Raja Himbee, Tualang Batei, dan Putroe Sabawa. Kemudian Raja Sagob, Raja Paya Reukam, Raja Jamok, Tualang Muda, Tualang Buket Asee Grah, Tualang Karu, Tualang Meu Pep-Pep, Putroe Bunthok, Buya Galeuh

Baca juga: 40 Rapai Pase Berusia Ratusan Tahun Turun di Duel Akbar, Blah Nou Krueng vs Blah Deh Krueng

Sementara itu, Koordinator wilayah Tengah-Timur Aceh Utara (Blah Deh Krueng), Rusli M. Yacob, mengatakan seluruh grup telah menyelesaikan pendataan rapai yang akan diturunkan dan kini menjalani latihan intensif menjelang malam pertunjukan.

"Kami memiliki rapai-rapai ternama yang sudah biasa kami turunkan dalam arena uroeh. Rapai tersebut merupakan peninggalan indatu," ujar Rusli yang juga Ketua Grup Rapai Raja Meudeuhak.

Ia menjelaskan, wilayah Blah Deh Krueng akan menampilkan 25 rapai yang berasal dari lima grup utama, yakni Grup Rapai Raja Meudeuhak Desa Pucok Alue, Grup Rapai Geunta Alam Desa Blang Pha, Grup Rapai Glumpang VII Kecamatan Matangkuli, Grup Rapai Kram-Krum Tamtum Boh Beureutoh Desa Lhok Merbo Kecamatan Tanah Jambo Aye, serta Grup Rapai Pusaka Indatu Desa Buket Mee Kecamatan Lhoksukon.

Rapai yang akan ditampilkan terdiri atas Raja Meudeuhak, Raja Bombai, Raja Muda, Sinampang Baro, Rapai Rayeuk, Bintang Timu, Manek Roe, Ase Banggala, Sibrok Blang Pha, Si Pirak, Lumoe Pok Ateung, Pintoe Ie, Bulukat Tubai, Raja Bujok, Pintoe Rimba, Siparet, Geulanteu Cot Uroe, Raja Itam, Putroe Meuhehe, Putroe Ijoe, Boh Beureutoh, Sibrok Kuta Bate, Simeurante, Buya Itam, dan Tualang Gong.

"Seluruh rapai tersebut merupakan warisan budaya yang masih dipelihara oleh sejumlah grup Rapai Pase dan hingga kini tetap aktif diturunkan dalam berbagai uroeh atau pertandingan Rapai Pase sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun," ungkap Rusli.

Ketua Grup Rapai Geunta Alam Desa Blang Pha, Kecamatan Seunuddon, Moris, mengatakan pihaknya akan menurunkan salah satu rapai andalan mereka, yakni Si Brok, yang selama ini dikenal luas di kalangan pecinta Rapai Pase.

"Si Brok merupakan salah satu rapai yang sudah sangat terkenal dalam grup Rapai Pase dan hampir selalu diturunkan dalam berbagai uroeh," katanya.

Duel Akbar 50 Rapai Pase merupakan bagian dari program Pelestarian Warisan Rapai Pase melalui Riset, Pertunjukan Budaya, Dokumentasi Buku, dan Promosi Digital dengan tema "Menghidupkan Warisan Spiritual Lewat Aksi Budaya dan Inovasi Digital."

Program tersebut digagas oleh tim dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh bersama komunitas pecinta budaya Aceh.

Selain menyajikan pertunjukan budaya, kegiatan ini juga menjadi momentum pendokumentasian nama, sejarah, dan silsilah puluhan Rapai Pase yang akan diterbitkan dalam sebuah buku sebagai arsip kebudayaan Aceh.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan Dana Indonesiana yang dikelola LPDP bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pemajuan warisan budaya Indonesia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.