15,5 Juta Remaja Indonesia Alami Masalah Mental, IDAI Ungkap Penyebabnya
Adi Suhendi July 21, 2026 10:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Masalah kesehatan mental pada remaja di Indonesia menjadi perhatian serius.

Data menunjukkan jutaan remaja mengalami masalah mental.

Namun, kondisi tersebut masih sering tidak terdeteksi karena gejalanya tidak selalu terlihat.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan mental hanya dialami orang dewasa.

Padahal, anak dan remaja juga dapat mengalami masalah kesehatan mental.

“Sering kali mengira anak-anak itu belum saatnya atau jarang mengalami gangguan mental. Tetapi ternyata tidak seperti itu. Kadang-kadang gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi sehingga perlu kepekaan dari orang tuanya,” ujar Dr Piprim dalam Seminar Media IDAI bertajuk Mengenali Gangguan Mental Pada Anak via zoom di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Baca juga: IDAI Ajukan Amicus Curiae untuk Kasus dr Ratna, Ingatkan Dokter Tak Bisa Dipidana Tanpa Bukti Ilmiah

Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, jumlah remaja di Indonesia mencapai sekitar 46 juta jiwa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 15,5 juta remaja atau sekitar satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental.

Di Indonesia kategori remaja adalah anak berusia 10-18 tahun.

Masalah yang paling banyak ditemukan meliputi kecemasan, hiperaktivitas, depresi, gangguan perilaku, hingga stres.

Sementara itu, setelah dilakukan evaluasi oleh dokter, sekitar 5,5 persen atau satu dari 20 remaja Indonesia diketahui mengalami gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan perilaku, gangguan stres pascatrauma, dan hiperaktif.

Menurut Dr Piprim, salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi mental anak adalah pola asuh dari orang tua.

Baca juga: Ibu Jangan Merasa Bersalah, IDAI: Kualitas ASI Bukan Penyebab Bayi Sering Gumoh

Ia menilai tekanan berlebihan dari orang tua, termasuk tuntutan prestasi yang tidak sesuai dengan kondisi anak, dapat berdampak pada kesehatan psikologis mereka.

“Anaknya baru satu hari masuk sekolah, kemudian ibu mengatakan kecewa karena sepertinya tidak mungkin jadi juara kelas. Ini gambaran bagaimana tekanan dari orang tua sendiri bisa memengaruhi anak,” kata Dr Piprim.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya pola pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak melalui konsep asuh, asih, dan asah.

Anak perlu mendapatkan dukungan, kasih sayang, serta stimulasi tanpa tekanan target yang berlebihan.

Masa Remaja Masa yang Penuh Perubahan

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Angga Wirahmadi, masa remaja menjadi periode yang rentan terhadap gangguan mental karena adanya berbagai perubahan.

Pada fase ini, remaja mengalami perubahan fisik akibat pubertas, perubahan pola pikir, perkembangan psikologis, perubahan sosial, hingga kemampuan mengelola emosi yang masih berkembang.

Perubahan hormon dapat membuat remaja lebih mudah mengalami perubahan emosi.

Sementara kemampuan otak untuk mengambil keputusan dan mengontrol diri masih terus berkembang hingga usia dewasa muda.

Selain itu, remaja mulai mencari identitas diri, ingin mendapatkan penerimaan dari lingkungan pertemanan, serta lebih memperhatikan penampilan.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya tekanan sosial hingga bullying.

Paparan media sosial juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. 

Perbandingan sosial, tuntutan mengikuti tren, hingga komentar negatif di dunia maya dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja.

Kenali Tanda Kecemasan pada Remaja

Dr Angga mengatakan salah satu masalah mental yang sering muncul pada remaja adalah kecemasan atau ansietas.

Namun, kondisi ini terkadang sulit dikenali karena gejalanya dapat menyerupai gangguan kesehatan lainnya.

Beberapa tanda yang dapat dicurigai antara lain remaja sering berpikir berlebihan (overthinking), terus merasa khawatir, menghindari sesuatu yang tidak disukai, hingga membutuhkan ketenangan dari orang lain secara terus menerus.

Kecemasan juga dapat muncul melalui gejala fisik seperti sering berkeringat, sakit perut, sakit kepala, jantung berdebar, sulit tidur, serta tubuh yang terus bergerak karena merasa gelisah.

“Mereka bisa selalu bergerak karena merasa khawatir. Perjalanannya sebenarnya agak sulit dibedakan dengan gangguan-gangguan yang lain,” jelas dr Angga.

Dengan komunikasi yang terbuka antara remaja, keluarga, dan tenaga kesehatan, masalah mental diharapkan dapat dikenali lebih dini sehingga mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.