Kesaksian Penyintas Mengenai Tanda Awal Retinopati Diabetik yang Sering Diabaikan
Willem Jonata July 21, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak penyandang diabetes baru memeriksakan mata ketika penglihatan mulai kabur. Sebagian lagi mengira keluhan tersebut hanya akibat bertambahnya usia atau minus yang semakin tinggi.

Padahal, perubahan kecil pada penglihatan bisa menjadi tanda awal retinopati diabetik, komplikasi diabetes yang menyerang retina dan berisiko menyebabkan kebutaan jika terlambat ditangani.

Patient Advocate Diabetes Tipe 1 sekaligus Program Manager Women in Diabetes DIID, Anita Permata Sari, mengatakan gejala awal retinopati sering kali dianggap sepele karena tidak selalu berupa hilangnya penglihatan secara mendadak.

Menurutnya, mata yang terasa sedikit buram, muncul bayangan melayang (floaters), hingga gangguan penglihatan yang datang perlahan perlu segera diperiksa, terutama pada penyandang diabetes.

Baca juga: Kisah Anita Permatasari, Pembuluh Darah Retina Pecah Saat Persalinan Akibat Komplikasi Diabetes

Baca juga: Kapan Penyandang Diabetes Harus Cek Retina? Penyintas Bagikan Tips Cegah Retinopati Diabetik 

Anita mengaku dulu juga tidak menyangka komplikasi mata bisa datang tanpa tanda yang jelas.

Karena itu, ia kini selalu mengingatkan anggota komunitas diabetes agar tidak menunda pemeriksaan retina hanya karena merasa penglihatannya masih cukup baik.

Menurutnya, banyak orang berkata, "hanya buram sedikit", lalu memilih menunggu.

Padahal, setelah diperiksa bisa saja ditemukan perdarahan di retina atau pembuluh darah abnormal yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

"Kadang-kadang kan kita suka oh nggak apa-apa cuma buram aja, cuman nggak cek ternyata floaters, ternyata ada pendarahan, ternyata ada pembuluh darah abnormal ini yang memang mesti dicek," ujarnya pada Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk “Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik”, Senin (20/7/2026). 

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Roche Indonesia. 

Gejalanya Datang Pelan-Pelan

Anita mengatakan komplikasi mata akibat diabetes tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Ia sendiri mengalami perjalanan penyakit yang berlangsung bertahun-tahun.

Awalnya mengalami perdarahan retina, kemudian menjalani injeksi, dilanjutkan operasi laser. Dua tahun kemudian perdarahan kembali terjadi sehingga harus menjalani operasi vitrektomi.

Beberapa tahun setelahnya, penglihatannya kembali menurun akibat katarak yang berkembang secara perlahan.

Penglihatan yang awalnya masih cukup baik terus berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya hanya tersisa sekitar 30 persen.

Jangan Tunggu Sampai Aktivitas Terganggu

Menurut Anita, saat penglihatan mulai benar-benar terganggu, aktivitas sehari-hari ikut berubah.

Ia bahkan pernah harus berjalan dengan bantuan anaknya sendiri karena sudah kesulitan melihat jalan.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa deteksi dini jauh lebih penting dibanding harus menjalani berbagai tindakan medis ketika komplikasi sudah berat.

Karena itu, ia berharap penyandang diabetes tidak menunggu hingga mata benar-benar kabur.

Pemeriksaan retina sebaiknya dilakukan sebelum muncul keluhan agar perubahan sekecil apa pun dapat ditemukan lebih awal.

"Pencegahan itu lebih baik daripada treatment," tutupnya. 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.