Masyarakat Bergerak, Bangkai Kapal dan Sampah Plastik Ancam Wajah Wisata Pulau Bajo Dibersihkan
Hilarius Ninu July 21, 2026 10:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar

TRIBUNFLORES.COM – LABUAN BAJO-- Kondisi sempadan pesisir pantai Pulau Bajo, Kabupaten Manggarai Barat yang dipenuhi sampah plastik, bangkai kapal, hingga limbah oli memantik kepedulian warga. 

Dipimpin oleh Ferry Adu, sekelompok relawan turun langsung membersihkan kawasan yang dinilai memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari Labuan Bajo.

Ferry Adu, warga asli Labuan Bajo, mengatakan aksi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi Pulau Bajo yang semakin memprihatinkan. Menurutnya, pulau itu bukan sekadar kawasan pesisir, tetapi memiliki ikatan sejarah bagi masyarakat setempat.

"Pulau Bajo ini satu kesatuan dengan daratan Labuan Bajo yang tidak bisa dipisahkan karena memiliki nilai historis. Dulu, setiap hari raya masyarakat datang berkunjung ke sini. Karena itu kami terpanggil untuk membersihkan kawasan ini," ujarnya, Selasa (21/7/2026). 

 

Baca juga: Rektor Unika Ruteng Ajak Peserta Kongres PMKRI Lahirkan Gagasan Visioner untuk Indonesia

 

 

Berdasarkan pantauan TRIBUNFLORES.COM akegiatan bersih-bersih tersebut, relawan menemukan sampah plastik sebagai jenis sampah yang paling mendominasi. Selain itu, terdapat pecahan botol minuman, kayu-kayu bekas, bangkai kapal, hingga limbah oli yang diduga berasal dari aktivitas kapal pariwisata. 

Sekitar puluhan bangkai kapal bersandar, dengan kondisi yang sudah tidak terstruktur rapi. 

Ferry menduga sebagian limbah dan bangkai kapal sengaja ditinggalkan di kawasan pesisir. Ia mengaku pernah meminta pertanggungjawaban sejumlah pemilik kapal, namun hingga kini belum ada pihak yang bersedia mengakui kepemilikan bangkai kapal tersebut.

"Awalnya ada yang mengaku, tetapi ketika kami datang lagi mereka tidak mengaku. Ada yang mengatakan kapal itu sudah dijual puluhan tahun lalu, tetapi tidak jelas lagi siapa pemiliknya sekarang," ujarnya.

Keberadaan bangkai kapal, lanjut Ferry, tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga menjadi tempat penumpukan sampah. Saat air laut pasang, sampah yang tersimpan di dalam bangkai kapal akan terbawa arus dan mencemari perairan hingga ke kawasan Labuan Bajo.

Untuk mengatasi persoalan itu, masyarakat bahkan menyiapkan katrol guna menarik bangkai kapal yang masih berada di laut agar kawasan pesisir dapat dibersihkan secara menyeluruh.

Aksi tersebut dilakukan oleh  Ferry Adu, dan beberapa kelompok masyarakat yang dibentuk untuk menggerakkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan pesisir. Ferry berharap langkah yang dilakukan masyarakat dapat menjadi contoh sekaligus mendorong dukungan dari pemerintah dan pelaku usaha.

Ia juga mengimbau para pengusaha armada laut agar tidak lagi membuang sampah maupun meninggalkan bangkai kapal di kawasan Pulau Bajo.

"Kami berharap semua pihak, terutama pengusaha armada laut, ikut menjaga kawasan ini. Jangan lagi membuang sampah di pantai Pulau Bajo," ujarnya.

Setelah pembersihan Pulau Bajo selesai, Ferry Adu berencana melanjutkan aksi serupa di Pantai Pede. Ferry berharap pemerintah dapat segera menata kawasan tersebut, termasuk memperjelas aturan apabila Pantai Pede memang akan difungsikan sebagai lokasi docking kapal, sehingga tidak lagi dipenuhi bangkai kapal yang mencemari lingkungan. (Iar)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.