TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Langkah transformasi IKIP PGRI Pontianak menjadi Universitas PGRI Pontianak mulai membuahkan hasil nyata.
Di bawah kepemimpinan Rektor Muhamad Firdaus, empat program studi (Prodi) berhasil meraih predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK), predikat tertinggi dalam sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa perubahan status kelembagaan bukan sekadar pergantian nama, melainkan diikuti pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola kampus, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan riset, pengembangan kerja sama, hingga digitalisasi layanan akademik.
Empat program studi yang berhasil meraih predikat Unggul yakni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pendidikan Bahasa Inggris dari Fakultas Bahasa, Seni, dan Kejuruan, Prodi Pendidikan Matematika dari Fakultas MIPA dan Teknologi, serta Prodi Pendidikan Geografi dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial.
Selain itu, tiga program studi lainnya juga mencatatkan hasil membanggakan dengan meraih predikat Baik Sekali, yakni Pendidikan Teknologi Informasi, Pendidikan Fisika, dan Bimbingan dan Konseling.
Berdasarkan penelusuran data LAMDIK, BAN-PT, dan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) per Juli 2026, capaian tersebut menempatkan Universitas PGRI Pontianak pada posisi strategis di Kalimantan.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bahkan menjadi satu-satunya program studi sejenis di perguruan tinggi swasta se-Pulau Kalimantan yang berhasil meraih Akreditasi Unggul, sekaligus satu-satunya di Kalimantan Barat, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Sementara Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Geografi juga menjadi satu-satunya program studi sejenis di perguruan tinggi swasta Kalimantan Barat yang memperoleh predikat Unggul.
Baca juga: DLH Ungkap Kualitas Udara Pontianak Sepekan Terakhir Masih Kategori Sedang
Rektor Universitas PGRI Pontianak, Muhamad Firdaus, mengatakan perubahan status dari institut menjadi universitas hanyalah awal dari proses peningkatan kualitas.
“Perubahan status kelembagaan itu hanya pintu masuk. Yang menentukan adalah apa yang kita kerjakan setelah pintu itu terbuka. Akreditasi Unggul ini menunjukkan arah yang kita tempuh sudah benar, sekaligus mengingatkan bahwa pekerjaan kita belum selesai,” ujarnya.
Firdaus menilai capaian tiga program studi yang memperoleh predikat Baik Sekali juga memiliki arti penting karena bidang tersebut masih sangat terbatas penyelenggaranya di Kalimantan Barat.
Menurutnya, Prodi Pendidikan Teknologi Informasi saat ini menjadi satu-satunya program studi sejenis yang ada di Kalimantan Barat. Sementara Pendidikan Fisika hanya diselenggarakan tiga perguruan tinggi, sedangkan Bimbingan dan Konseling hanya ada di empat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.
“Fisika, Teknologi Informasi, dan Bimbingan Konseling itu bidang yang tidak banyak disentuh, padahal justru di situ daerah kita paling membutuhkan guru. Ketiga prodi ini mengisi ruang yang kosong, dan mereka mengisinya dengan mutu. Itu kontribusi yang nyata bagi Kalimantan Barat,” katanya.
Firdaus menegaskan akreditasi bukan tujuan akhir sebuah perguruan tinggi. Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga budaya mutu agar terus menjadi bagian dari aktivitas akademik sehari-hari.
“Yang kami jaga adalah kebiasaannya, dosen yang terus belajar, kurikulum yang terus diperbarui, layanan mahasiswa yang terus diperbaiki. Kalau kebiasaan itu hidup, predikatnya akan mengikuti dengan sendirinya,” jelasnya.
Ia juga menilai predikat Unggul memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa maupun lulusan karena menjadi pengakuan terhadap kualitas proses pendidikan yang dijalankan kampus.
“Kami ingin orang tua yang menitipkan anaknya di sini merasa tenang, dan mahasiswa merasa bangga. Predikat Unggul adalah janji kami bahwa mereka belajar di tempat yang serius mengurus mutu, dan bahwa ijazah yang mereka bawa keluar punya bobot di mana pun mereka melangkah,” ucap Firdaus.
Menurut Firdaus, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) yang mengawal seluruh proses akreditasi, mulai dari audit mutu internal, penyusunan dokumen hingga pendampingan saat asesmen lapangan.
“LPM adalah lokomotif dalam proses ini. Merekalah yang menjaga standar dari hari ke hari, jauh sebelum asesor datang. Tanpa kerja senyap LPM, dokumen sebagus apa pun tidak akan punya dasar,” katanya.
Firdaus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika, mulai dari para wakil rektor, kepala biro, kepala lembaga, dekan, wakil dekan, ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni hingga mitra kerja sama yang ikut berkontribusi dalam proses akreditasi.
“Saya tidak ingin capaian ini dibaca sebagai prestasi pimpinan. Ini prestasi kampus. Saya hanya memastikan mereka punya ruang untuk bekerja dengan baik,” ujarnya.
Ke depan, Universitas PGRI Pontianak akan terus memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan produktivitas riset dan publikasi ilmiah, memperluas kerja sama internasional, memperkuat pengabdian kepada masyarakat, serta mengembangkan digitalisasi layanan akademik dengan target semakin banyak program studi yang meraih predikat Unggul.
“Kepercayaan masyarakat itu amanah, dan amanah tidak dirawat dengan pengumuman. Ia dirawat dengan pekerjaan,” tutup Firdaus. (*)