'Mighty Mouse' atau 'King Kev' meninggalkan warisan abadi dalam sepak bola, baik sebagai pemain maupun manajer.
Saat Kevin Keegan bermain untuk tim pub Doncaster, Lonsdale Hotel, pada Minggu pagi, ia tak pernah membayangkan bahwa itu akan menjadi awal dari perjalanan menuju jajaran elit sepak bola dunia.
Joseph Kevin Keegan, yang meninggal pada usia 75 tahun setelah menjalani perawatan kanker stadium empat, lahir di Armthorpe, South Yorkshire, pada 14 Februari 1951.
Ayahnya, Joe, seorang mantan tentara yang pernah bertugas di hutan Burma, bekerja sebagai penambang di tambang lokal dan merupakan penggemar berat Newcastle — klub yang kelak sangat memuja Keegan, baik sebagai pemain maupun pelatih.
Keegan, yang semasa kecil menderita bronkitis dan diberitahu oleh dokter bahwa ia tidak akan pernah bisa berolahraga, menempuh pendidikan di St Peter’s School, Cantley.
Meskipun berbakat dalam olahraga dan sempat bermain rugby serta menjadi kapten tim kriket sekolah, Keegan hanya lulus dengan dua mata pelajaran O-Level — seni dan sejarah — dan masa depannya tampak suram setelah gagal dalam uji coba di Coventry karena dianggap bertubuh terlalu kecil.
Pada musim panas ketika Inggris menjuarai Piala Dunia 1966, Keegan yang berusia 15 tahun bekerja di Peglers Brass Works, Doncaster.
Kecintaannya pada sepak bola tak surut; performanya bersama tim Lonsdale membawanya ke uji coba di Scunthorpe United, di mana manajer Ron Ashman menawarinya kontrak sebagai pemain muda.
Pada usia 17 tahun, Keegan melakukan debut melawan Peterborough dan kemudian direkrut oleh Liverpool setelah dipantau oleh pencari bakat klub tersebut. Ia resmi bergabung dengan raksasa Anfield pada Mei 1971.
Selama di Liverpool, Keegan meraih banyak trofi bergengsi, termasuk Piala FA musim 1973/74.
Keegan hampir terlambat dalam debutnya melawan Nottingham Forest karena terjebak kemacetan di sekitar Anfield. Mobil Ford Cortina-nya dihentikan polisi yang tidak percaya ia adalah pemain baru Liverpool. Namun, hanya 12 menit setelah pertandingan dimulai, Keegan mencetak gol pertamanya dari total 100 gol untuk The Reds dan langsung menjadi buah bibir.
Bermain bersama penyerang Wales, John Toshack, Keegan membantu tim asuhan Bill Shankly menjuarai liga musim 1972-73 dan Piala UEFA.
Liverpool kemudian memenangkan Piala FA 1974, dengan Keegan mencetak dua gol dalam kemenangan 3-0 atas Newcastle.
Pada laga Charity Shield di Wembley melawan Leeds asuhan Brian Clough, Keegan yang sebelumnya dipukul Johnny Giles, diusir dari lapangan setelah terlibat perkelahian dengan Billy Bremner. Keduanya didenda £500 dan diskors dua bulan oleh FA.
Liverpool memenangkan gelar Divisi Pertama pada musim 1975-76 dan 1976-77. Popularitas Keegan melonjak, menjadikannya bintang iklan untuk produk seperti parfum Brut bersama petinju Henry Cooper. Ia juga tampil di acara TV BBC 'Superstars', di mana ia bangkit setelah kecelakaan sepeda dan tetap memenangkan episode tersebut.
Keegan kembali menjuarai Piala UEFA tahun 1976 sebelum membawa tim Bob Paisley menjuarai Piala Eropa 1977, mengalahkan Borussia Monchengladbach 3-1 di Roma. Itu merupakan pertandingan ke-323 dan terakhirnya untuk Liverpool sebelum ia memutuskan berkarier di luar negeri.
Ia pindah ke Bundesliga bergabung dengan Hamburg, sementara Kenny Dalglish menggantikannya di Anfield.
Keegan menjadi satu-satunya pemain asal Inggris yang memenangkan Ballon d’Or lebih dari sekali.
Ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa pada 1978 dan 1979 — satu-satunya pemain asal Inggris yang meraih penghargaan itu dua kali — serta membawa Hamburg menjuarai liga domestik dan mencapai final Piala Eropa 1980, meski kalah dari Nottingham Forest asuhan Clough.
Keegan menjalani debut senior bersama tim nasional Inggris pada 1972 dalam laga kualifikasi Piala Dunia melawan Wales di Ninian Park. Namun, tim asuhan Don Revie gagal lolos ke Piala Dunia 1974 dan 1978.
Ketika akhirnya tampil di Piala Dunia 1982 di Spanyol, Keegan baru pulih dari cedera punggung serius dan Inggris tersingkir di babak kedua grup.
Setelah tidak lagi dipilih oleh pelatih baru Bobby Robson, Keegan menutup karier internasionalnya dengan 63 caps dan 21 gol.
Kembali ke Inggris bersama Southampton, Keegan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik PFA musim 1981-82. Namun, hubungannya dengan manajer Lawrie McMenemy memburuk karena kurangnya rekrutan baru untuk memperkuat tim. Ia kemudian bergabung dengan Newcastle — klub yang sangat dicintai ayahnya.
Keegan membantu membawa Newcastle kembali ke divisi teratas pada 1984 sebelum pensiun di akhir musim melalui laga perpisahan melawan Liverpool. Ia kemudian terbang dengan helikopter dari lapangan sambil melambaikan tangan terakhir kepada publik Gallowgate End, sebelum memulai kehidupan baru di Marbella.
Pada 1991, ia kembali menjadi sorotan setelah diserang dalam perampokan brutal di jalan saat tidur di mobil Range Rover-nya. Ia mengalami luka di kepala dan membutuhkan delapan jahitan.
Pada awal 1992, Keegan menerima panggilan tak terduga yang mengubah hidupnya — tawaran menjadi manajer baru Newcastle setelah Ossie Ardiles mundur.
Setelah berhasil menyelamatkan klub dari degradasi, dukungan ketua John Hall membuat Newcastle menatap era baru di Premier League.
Dengan rekrutan besar Andy Cole, tim Keegan promosi sebagai juara Divisi Satu dan finis ketiga di Premier League.
Pada Januari 1995, Andy Cole dijual ke Manchester United dalam transfer mengejutkan, dan Keegan harus menenangkan para pendukung yang marah.
Musim berikutnya, dengan tambahan bintang seperti David Ginola dan Les Ferdinand, Newcastle tampil memukau dan memimpin klasemen dengan selisih 12 poin pada Januari.
Namun, tekanan dari Manchester United dan Sir Alex Ferguson akhirnya membuat Keegan frustrasi. Dalam wawancara televisi usai menang 1-0 atas Leeds, ia melontarkan kalimat legendaris: “Saya akan sangat senang jika kami bisa mengalahkan mereka.”
Pada akhirnya, Ferguson dan timnya tetap tenang dan merebut gelar, sementara Newcastle finis empat poin di belakang setelah dua hasil imbang di laga penutup.
Transfer Alan Shearer senilai £15 juta dari Blackburn memecahkan rekor dunia dan menghidupkan semangat publik Tyneside, tetapi Keegan mengundurkan diri pada Januari 1997.
Keegan tetap menjadi sosok ikonik di Newcastle, di mana para penggemar memanggilnya dengan penuh kasih sebagai ‘King Kev’.
Ia kembali ke sepak bola delapan bulan kemudian sebagai kepala operasional klub Divisi Dua, Fulham. Klub itu promosi sebagai juara pada akhir musim 1998-99, dan Keegan kemudian ditunjuk sebagai manajer tim nasional Inggris.
Ia membawa Inggris lolos ke Euro 2000, namun gagal mencapai perempat final. Keegan mengundurkan diri setelah kekalahan dari Jerman di Wembley — laga terakhir di stadion lama sebelum direnovasi.
Pada 2001, ia melatih Manchester City dan membawa mereka menjuarai Divisi Satu, sebelum kembali secara mengejutkan ke Newcastle pada Januari 2008 setelah Sam Allardyce mundur.
Ketegangan dengan dewan klub di bawah pemilik Mike Ashley meningkat, dan setelah para penggemar memprotes di stadion karena rumor pemecatannya, Keegan mengundurkan diri pada September 2008.
Ia kemudian memenangkan gugatan hukum atas pemecatan konstruktif dan menerima ganti rugi sebesar £2 juta plus bunga.
Setelah itu, Keegan hanya sesekali tampil sebagai komentator dan dalam beberapa acara publik, namun lebih banyak menjauh dari sorotan media.