Pertahanan Udara AS Jebol & 50 Ribu Nyawa Pasukan Terancam: Kewalahan Bendung Gelombang Rudal Iran
Hadiyya QurrataAyyuun July 22, 2026 10:42 AM

- Sistem pertahanan udara milik Amerika Serikat (AS) dilaporkan jebol hingga membuat Washington kewalahan membendung gelombang serangan dari Iran.

Kondisi ini menempatkan sekira 50.000 nyawa personel militer AS yang tersebar di berbagai pangkalan Timur Tengah dalam ancaman besar.

Mengutip Tribunnews pada (22/7), hal ini menurut laporan sumber utama "The Wall Street Journal".

Lebih tepatnya, Washington dilaporkan sedang menghadapi tantangan luar biasa berat untuk melindungi puluhan ribu tentaranya tersebut.

Kerentanan ini makin memuncak mengingat Iran masih menguasai persediaan rudal balistik, roket, serta drone serang dalam jumlah yang sangat melimpah.

Sorotan terhadap lemahnya sistem pertahanan AS muncul setelah serangkaian gempuran Iran berhasil menembus barikade udara militer Amerika.

Penetrasi serangan udara Teheran itu terbukti fatal usai menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan puluhan korban luka di kalangan militer AS.

Salah satu episode paling mematikan terjadi saat gempuran dahsyat menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi dua prajuritnya tewas pada (18/7/2026) saat merespons serangan rudal dan drone di pangkalan itu.

Pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa gempuran ke Muwaffaq Salti merupakan bagian dari gelombang tiga serangan rudal dalam kurun 24 jam.

Laporan media menyebutkan bahwa rudal Iran menyasar langsung area barak prefabrikasi yang menjadi tempat tinggal pasukan Amerika.

Selain dua korban tewas yang telah teridentifikasi, satu jenazah lain juga ditemukan di lokasi kejadian meski identitasnya belum dirilis.

Keberhasilan rudal Iran menembus benteng udara AS menjadi bukti nyata betapa rentannya pangkalan-pangkalan militer Washington saat ini.

Para pengamat menilai melimpahnya stok persenjataan Iran akan terus menjadi ancaman mematikan bagi pangkalan AS di seluruh kawasan.

Situasi kritis ini makin menegaskan bahwa Washington kian terdesak dan kesulitan menjamin keselamatan puluhan ribu pasukannya di Timur Tengah. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.