Sosok Jesslyn Wijaya, Atlet Golf Diduga Diculik, Terkuak Lokasi Terkini, Kepergok Pergi ke Malaysia
Fitriadi July 22, 2026 12:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Atlet golf perempuan bernama Jesslyn Wijaya diduga menjadi korban penculikan pada Senin (13/7/2026) sekitar pukul 19.45 WIB lalu.

Peristiwa tersebut terjadi saat ia menghadiri perayaan ulang tahun sang nenek di restoran kawasan Jakarta Pusat.

Menurut pengakuan calon suami Jesslyn bernama Evan (37), awalnya ia mengantarkan Jesslyn ke Restoran Saung Kita di Mangga Besar, Jakarat Pusat untuk menghadiri undangan perayaan ulang tahun sang nenek, Senin (13/7/2026).

Jesslyn diantar sekitar pukul 19.00 WIB. Evan langsung meninggalkan lokasi karena tidak ikut menghadiri acara keluarga tersebut.

Setelah beberapa jam, Evan pun merasa curiga karena tak ada jawaban ketika ia mengirimkan pesan maupun telepon ke ponsel Jesslyn.

Akhirnya, Evan kembali ke restoran tersebut pada pukul 21.30 WIB. Namun, Jesslyn maupun keluarganya sudah tidak ada di lokasi.

Baca juga: Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Sempat Bertemu KPK, Alasan Mundur Sakit: Demi Kesehatan

Menurut penuturan saksi mata, eksekusi penculikan itu berlangsung sangat cepat dan diduga terencana, sesaat sebelum pesta keluarga dimulai. 

Eksekutor utama yang membawa korban ke mobil merupakan dua orang pria berbadan besar. 

Polisi menemukan jejak bahwa ada perjalanan yang dilakukan Jesslyn dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani di Semarang, Jawa Tengah, menuju ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Sosok Jesslyn Wijaya

Informasi mengenai kehidupan pribadi Jesslyn tidak banyak beredar di ruang publik.

Namun, berdasarkan informasi yang dikutip dari Tribunnews, Jesslyn Wijaya Lay pernah meraih penghargaan Best Nett Overall (BNO) Regular dalam turnamen yang diselenggarakan Chemical Golf Club di Rainbow Hills Golf Club pada Juni 2023.

Dalam ajang tersebut, Jesslyn mencatatkan skor gross 90 yang terdiri dari lima kali par, lima kali double bogey, dan sisanya bogey.

Berdasarkan keterangan Kuasa Hukum Pelapor, Andi Darti, Jesslyn sehari-hari tinggal di sebuah apartemen di wilayah Pluit, Jakarta Utara.

Andi menyebut Jesslyn sudah hidup secara mandiri dan tidak lagi tinggal satu rumah dengan keluarganya.

Jesslyn Diduga Diculik

Seorang atlet golf perempuan bernama Jesslyn Wijaya diduga diculik oleh sekelompok pria tak dikenal di sebuah restoran di kawasan Jakarta Pusat pada Senin (13/7/2026) malam.

Peristiwa ini dilaporkan ke Polres Jakarta Pusat bernomor LP/B/2092/VII/2026/SPKT/POLRES METRO JAKPUS/POLDA METRO JAYA tertanggal Kamis (16/7/2026).

Laporan ini awalnya dibuat oleh rekan dekat korban yang berinisial NAH (37) lantaran kehilangan kontak dan merasa khawatir akan kondisi keselamatan korban yang tidak diketahui keberadaannya.

Namun, hanya berselang beberapa hari, tepatnya pada Minggu (19/7/2026), laporan tersebut tiba-tiba dicabut oleh pihak pelapor.

"Pengajuannya dari hari Minggu (19/7/2026), pelapor langsung datang ke Polres Jakarta Pusat," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Hery Saputra saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan singkat, Selasa (21/7/2026).

Roby mengatakan, pelapor mencabut laporan tersebut karena menyadari kapasitasnya bukan sebagai keluarga korban.

"Karena pelapor merasa bukan keluarganya dan tidak melihat langsung peristiwa tersebut," kata Roby.

Di sisi lain, pada Selasa sore, calon suami Jesslyn bernama Evan (37) mendatangi Mapolres Metro Jakarta Pusat bersama kuasa hukumnya, Andi Darti.

Andi juga merupakan kuasa hukum NAH yang melaporkan dugaan penculikan itu.

Evan menyebut NAH, teman dekat Jesslyn, mencabut laporan tersebut karena merasa privasi dan pekerjaannya terganggu akibat banyaknya pihak yang menghubungi usai laporan dibuat.

"Dia mau mencabut karena dia merasa terganggu karena dihubungi oleh begitu banyak pihak, sedangkan dia ada pekerjaan," ucap Evan kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Pusat, Selasa sore.

Selain itu, Evan sebagai calon suami Jesslyn merasa dirinya memiliki hak yang lebih kuat untuk mengawal kasus ini, sehingga ia berniat membuat laporan baru.

Terlebih, Evan mengaku akan segera menikah dengan Jesslyn dalam waktu dekat dan sudah mendaftarkan pernikahannya ke sebuah gereja.

"Jadi laporan NAH dicabut untuk masuk menggunakan laporan baru dari saya, begitu niat awalnya," jelas Evan.

Evan sempat mendatangi Mapolres Metro Jakarta Pusat pertama kali pada Senin (20/7/2026) untuk diperiksa sekaligus mencari kabar perkembangan penyelidikan kepolisian dan membuat laporan baru.

Namun, polisi menyatakan tidak perlu membuat laporan baru karena laporan awal dari rekan korban tersebut juga belum diizinkan untuk dicabut sepenuhnya dari penyidikan.

"Kasat Reskrim belum mengizinkan untuk dicabut, tapi memang sudah ada pengajuan dicabut. Dan ternyata tidak, tidak perlu buat LP baru, tetap pakai laporan itu saja," kata Evan.

Kuasa hukum Evan, Andi Darti, menjelaskan bahwa kasus ini akan tetap diproses dengan menggunakan laporan awal yang sudah ada.

Hal ini dikarenakan kasus dugaan penculikan tersebut merupakan kasus yang hanya memerlukan delik biasa, bukan delik aduan.

"LP-nya tetap yang lama, kan ini kan delik biasa ya. Jadi laporan dicabut pun perkara tetap akan jalan. Lain halnya kalau ini delik aduan, ketika pelapornya mencabut pelaporannya ya berarti perkara ini bisa dihentikan," jelas Andi.

Senada, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Hery Saputra juga membenarkan bahwa pihaknya akan tetap melanjutkan penyelidikan meski ada permintaan pencabutan laporan dari pelapor NAH.

"Selanjutnya kami masih akan melanjutkan penyelidikan memeriksa fakta-fakta kejadian tersebut, karena sejauh ini kami belum menemukan bagaimana peristiwa ini terjadi sebenarnya. Kami lanjutkan sampai yakin tidak terdapat perbuatan pidana dalam peristiwa ini," ujar Roby.

Kronologi Penculikan versi Evan

Awalnya, Evan mengantarkan Jesslyn ke Restoran Saung Kita di Mangga Besar, Jakarat Pusat untuk menghadiri undangan perayaan ulang tahun sang nenek, Senin (13/7/2026).

Jesslyn diantar sekitar pukul 19.00 WIB. Evan langsung meninggalkan lokasi karena tidak ikut menghadiri acara keluarga tersebut.

"Terakhir komunikasi itu jam 19.00 WIB malam pada begitu dia sampai, dia WA saya untuk bicara. Kemudian saya balas, setelah itu tidak ada respons apa-apa lagi dari Jesslyn," ucap Evan.

Setelah beberapa jam, Evan pun merasa curiga karena tak ada jawaban ketika ia mengirimkan pesan maupun telepon ke ponsel Jesslyn. A

khirnya, Evan kembali ke restoran tersebut pada pukul 21.30 WIB. Namun, Jesslyn maupun keluarganya sudah tidak ada di lokasi.

"Sudah tidak ada. Tapi di lokasi kejadian juga kita masih mendapati, di situ masih ada sisa buket bunga sama kue yang dibawa oleh Jesslyn," tambahnya.

Setelahnya, Evan pun menanyakan keberadaan Jesslyn dan keluarganya kepada pegawai restoran tersebut. Ia mendapat kabar bahwa Jesslyn dibawa secara paksa oleh sejumlah orang.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari pegawai dan tukang parkir restoran, penyergapan terjadi sekitar pukul 19.30 WIB.

Lima orang pria berbadan besar disebut masuk ke restoran, satunya diidentifikasi mengenakan jaket kuning dan mengenakan topi.

Dugaan penculikan itu pun terjadi sesaat sebelum acara ulang tahun dimulai.

"Jadi awalnya itu pegawai restoran diminta menyiapkan birthday party untuk neneknya Jesslyn. Nah, saat pegawai itu masih di lantai dua, tiba-tiba katanya ada teriakan suara minta tolong, ternyata Jesslyn lagi dibawa oleh orang yang tidak dikenal," kata Evan.

"Menurut keterangan dari pegawai restoran juga, dia pada saat dibawa paksa itu ada permintaan tolong, kemudian ada perlawanan dari Jesslyn juga," sambungnya.

Keluarga Jesslyn Menolak Diperiksa 

Setelah adanya laporan polisi awal dari NAH, polisi pun mulai bergerak melakukan serangkaian proses penyelidikan.

Evan dan kuasa hukumnya mendapat kabar terkait perkembangan penyelidikan tersebut pada Senin lalu, ketika Evan turut diperiksa sebagai saksi.

Menurut Andi, polisi awalnya sempat mendatangi kediaman orangtua Jesslyn di Puri Jimbaran, Jakarta Utara.

Namun, pihak keluarga Jesslyn menolak kedatangan polisi dengan alasan sudah tidak berhubungan dan tidak memiliki urusan dengan Jesslyn.

"Ternyata ditolak oleh pihak keluarga dan keberatan dengan kehadiran pihak penyidik ke lokasi. Dia menyatakan 'kami tidak ada urusan dengan Jesslyn'. Seharusnya jika ada pihak kepolisian yang cukup kooperatif mengabarkan bahwa ada anggota keluarganya yang diduga diketahui hilang, seharusnya kan direspons dengan baik," ungkap Andi.

Di sisi lain, Andi menyebut bahwa sinyal ponsel milik Jesslyn sempat terlacak berada di kawasan Puri Jimbaran, tak jauh dari lokasi rumah keluarganya pada satu hari setelah peristiwa dugaan penculikan.

Setelah penyidikan dilakukan, Evan juga mengaku hanya berkomunikasi dengan NAH, teman dekat Jesslyn yang membuat laporan. Namun, ia tidak berkomunikasi dengan keluarga Jesslyn.

Sementara itu, Kompas.com telah mencoba menanyakan terkait bagaimana hubungan Jesslyn dengan keluarganya kepada Evan dan Andi. Namun, keduanya enggan memberikan penjelasan dengan alasan privasi keluarga.

Jesslyn Terlacak Berada di Malaysia 

Selain itu, pada kesempatan yang sama, Andi mengaku ia dan kliennya juga mendapat kabar terkait hasil penyelidikan polisi terkait lokasi keberadaan Jesslyn.

Ternyata, kata Andi, polisi menemukan jejak bahwa ada perjalanan yang dilakukan Jesslyn dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani di Semarang, Jawa Tengah menuju ke Kuala Lumpur, Malaysia.

"Saya tidak tahu teknisnya seperti apa, tapi polisi mendapat itu dan dikonfirmasi melalui imigrasi bahwa Jesslyn memang sudah masuk ke KL (Kuala Lumpur)," jelas Andi.

Andi menilai ada kejanggalan dari perjalanan Jesslyn ke Malaysia ini, karena dilakukan dari Semarang, bukan dari Jakarta.

"Kalau memang dia akan diberangkatkan ke Malaysia atau Singapura, toh di Jakarta juga ada bandara kenapa harus melalui Semarang? Kenapa mesti dipindahkan antarkota dulu baru dilintasnegarakan?" tanya dia.

Kejanggalan ini semakin menguat lantaran saat dicek ke apartemen tempat korban tinggal sendirian di kawasan Pluit, Jakarta Utara, seluruh barang pribadi milik Jesslyn masih ada.

"Barang-barang pribadinya masih lengkap. Jadi kalau memang dia mempersiapkan diri untuk bepergian ke tempat yang cukup jauh, berarti kan setidak-tidaknya alat-alat pribadinya seperti obat-obatan, perlengkapan makeup, atau pakaian dalam, pasti dia persiapkan. Nah ini kan tiba-tiba saja," tutur Andi.

Sementara, Evan pun mengaku pada hari kejadian, pesan singkatnya kepada Jesslyn masih terkirim. Namun, kemudian seluruh nomor dan akun media sosialnya tidak aktif hingga saat ini.

"Waktu awal-awal itu, saya menghubungi masih delivered, centang dua. Tapi setelah itu sampai sekarang tidak terkirim pesannya, cuma centang satu saja."

"Kalau memang dia ke Malaysia, saya juga tidak tahu dia dibawa ke sana oleh siapa atau bersama siapa, saya tidak tahu sama sekali keberadaan Jesslyn," ucap dia.

Penjelasan Pihak Restoran 

Sementara itu, pihak manajemen Restoran Saung Kita justru memberikan keterangan berbeda terkait peristiwa dugaan penculikan tersebut.

Supervisor Restoran Saung Kita, Dimas Firmansah, membenarkan adanya Jesslyn dan keluarga yang merayakan ulang tahun kemudian penjemputan oleh sejumlah orang.

Namun, ia membantah adanya keributan, penculikan, maupun aksi perlawanan yang dilakukan Jesslyn dalam insiden tersebut.

"Iya memang benar ada (Jesslyn dijemput beberapa orang), tapi enggak ada keributan. Itu kejadian singkat banget, dia dijemput kemudian masuk ke mobil. Dibawa aja gitu, enggak dipaksa atau apa gitu enggak," ucap Dimas saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa.

Dimas menyebut, awalnya Jesslyn dan keluarganya hendak merayakan ulang tahun neenknya di dalam restoran, tepatnya di dalam area merokok sekitar pukul 19.30 WIB.

Namun, ketika Jesslyn dan keluarganya sedang menyantap makanan, sebelum acara ulang tahun dimulai, tiba-tiba sejumlah pria berbadan besar memasuki restoran dan menjemput Jesslyn.

Menurut Dimas, salah satu pihak yang membawa Jesslyn bahkan sempat mencoba menenangkan karyawan restoran yang berjaga agar tidak panik.

Menurut dia, Jesslyn hanya dijemput karena ada masalah keluarga dan sudah ditunggu oleh sang ibunda di dalam mobil yang terparkir di depan restoran. "Dia tuh bilang ada konfirmasi ke resepsionis, 'Jangan panik Mbak, ini hanya sekedar masalah keluarga'. Terus dia ngomongnya itu, dia (Jesslyn) tuh ditungguin mamanya di mobil," tutur Dimas. Ia juga menegaskan keluarga korban sama sekali tidak menghalangi atau berupaya melerai peristiwa tersebut.

"Keluarganya juga biasa aja yang makan bareng dia, enggak ada panik atau melawan. Keluarganya juga tetap lanjut makan setelah itu, terus langsung pulang, sama-sama ikut ke mobil," kata Dimas.

"Kalau misalkan beneran penculikan kan itu pasti ramai kan, dan keluarganya juga pasti ramai. Nah, ini enggak," sambungnya.

Selain itu, Dimas juga mengklarifikasi pernyataan kuasa hukum soal kamera pengawas (CCTV) restoran yang sebelumnya disebut sudah mati sejak tiga bulan lalu.

Ia memastikan bahwa CCTV di restoran tersebut menyala, tetapi hanya untuk memantau dan tidak bisa merekam.

"Dia sebenarnya enggak mati, ada layar. Nyala, nyala. Dan sekarang DVR-nya juga udah dibawa ke sana, ke pihak polisi," ungkap Dimas.

Menanggapi perbedaan keterangan ini, Kuasa Hukum Evan, Andi Darti pun mengaku bingung dengan pernyataan pihak restoran.

Ia mempertanyakan perubahan kesaksian pihak restoran yang dinilai tidak sinkron dengan informasi awal yang diterima pelapor di hari kejadian.

Padahal, Andi maupun Evan mendapat keterangan mengenai kronologi Jesslyn dibawa paksa oleh sejumlah orang dari pegawai restoran dan tukang parkir di lokasi.

"Kalau untuk pihak restoran yang menyatakan seperti itu, itu saya tidak tahu ya, kenapa berbeda sekali dengan yang kami terima dan yang dikuatkan oleh dua orang penjaga tukang parkir yang ada di sana," ujar Andi.

Ia pun menyebut keterangan yang didapat pertama kali dari pegawai restoran sudah diajukan sebagai bukti karena sudah direkam dan diserahkan kepada penyidik.

"Keterangan yang kami dapatkan sudah ada pada kami dan itu akan menjadi bukti juga buat kami. Kami juga sempat merekam percakapan mereka pada saat kejadian. Jadi kalau dia ternyata menghindar seperti itu lagi ya kami juga tidak mengerti apa alasannya ya," sambungnya.

Tunggu Hasil Pendalaman Polisi 

Setelah melalui panjangnya proses pemeriksaan, Evan sebagai calon suami Jesslyn pun mengaku menyerahkan proses penyelidikan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

"Selanjutnya karena polisi juga masih terus melanjutkan kasusnya ya, saya menunggu saja apa saja hasil petunjuk-petunjuk barunya," ucap Evan.

Ia saat ini hanya berfokus untuk berkomunikasi dengan pihak kepolisian dan menunggu adanya petunjuk baru dan berharap calon istrinya bisa segera ditemukan dan kembali pulang.

"Saya sampai saat ini belum berkomunikasi juga dengan keluarga Jesslyn karena memang jarang. Saya masih fokus berkomunikasi dengan kepolisian untuk mencari bukti dan petunjuk baru, supaya Jesslyn bisa cepat ditemukan dan kembali menjalani kehidupannya seperti sedia kala," tutup Evan.

(Bangkapos.com/TribunJakarta.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.